Kamis, Maret 4, 2021

Ketika Perempuan Mengumandangkan Azan

Timnas U-22 dan Catatan Kecil Dibalik Performanya

Tuntas Sudah semua pertandingan timnas U-22 dalam ajang Sea Games 2017 yang dihelat di Malaysia. Mendapatkan 11 point dalam grup neraka yang dihuni Thailand...

Ingin Anak Hobi Baca? Mulai dari Guru dan Orang Tua

Rasanya ponsel pintar dan internet kini sudah menjadi kebutuhan pokok semua orang, termasuk anak-anak. Bagi ibu zaman sekarang, ponsel menjadi senjata paling ampuh agar...

Sisi Ambigu dalam Pengesahan UU Ormas

Hukum atau regulasi seolah masih menjadi satu alat yang ampuh untuk menangani segala macam permasalahan negara tanpa pernah memprioritaskan konten, lembaga implementor, kelompok sasaran...

Teror di Masjid Christchurch, Sayap Kanan dan Islamofobia

Sebagai salah satu negara dengan indeks keamanan tertinggi di dunia, Selandia Baru baru saja mendapat teror yang mengejutkan. Tragedi penembakan di Masjid Al Noor,...
Nasrullah Ainul Yaqin Mustari
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Konsentrasi Kajian Maqasid dan Analisis Strategik.

Jumhur Ulama sepakat bahwa suara perempuan bukan aurat, karena para sahabat perempuan dahulu sering kali mendengarkan suara istri-istri Nabi saw. ketika belajar hukum-hukum agama (Islam). Namun demikian, menurut Wahbah az-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhû (1985, I: 595), perempuan haram memperdengarkan suaranya dengan didendangkan atau dilagukan karena takut akan timbul fitnah. Tentu pendapat ini lahir dari situasi dan kondisi masyarakat tertentu. Berbeda dengan kehidupan masyarakat Indonesia, di mana mereka sekarang sudah terbiasa dengan lantunan suara-suara perempuan yang sangat indah menawan, baik ketika membaca salawat, kasidah, mau pun membaca lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an. Selain itu, tidak sedikit perempuan yang memberikan suaranya secara langsung kepada khalayak ramai untuk mensosialisasikan ajaran agama, seperti para ustazah yang berdakwah. Bahkan beberapa bulan yang lalu terlaksana Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), di mana hal ini semakin menegaskan eksistensi dan keterlibatan perempuan dalam masalah sosial keagamaan. Sehingga seindah, semerdu, dan semenawan apa pun suara yang dilantunkan oleh perempuan ketika melantunkan salawat atau kasidah, seperti Mayada, Sulis, dan Wafiq, masyarakat menikmatinya sebagai sebuah keindahan, bukan sebagai suara perangsang yang mengundang birahi.

Dengan demikian, lalu apa masalahnya kalau perempuan mengumandangkan azan bagi khlayak ramai, sebagaimana biasa dilakukan oleh laki-laki? Barangkali akan muncul pernyataan, masalahnya karena perempuan dilarang mengumandangkan azan dalam ajaran Islam. Kalau begitu, pertanyaannya adalah, ajaran Islam yang dipahami oleh siapa dan kalangan mana dulu yang melarang perempuan mengumandangkan azan. Syi’ah-kah? Sunni-kah? Ahmadiyah-kah? Wahabi-kah? Kalau oleh kalangan Sunni, Ḥanafiyah-kah? Mâlikiyah-kah? Syâfi’iyah-kah? Ḥanabilah-kah? Sarekat Islam-kah? Muhammadiyah-kah? NU-kah? Persis-kah? MUI-kah? Al-Irsyad-kah? Nahdlatul Wathan-kah? LDII-kah? MTA-kah? JIL-kah? FPI-kah?

Begini, meski pun Wahbah az-Zuḥailî mengatakan bahwa perempuan tidak disyariatkan untuk mengumandangkan azan dan suaranya dapat menimbulkan fitnah—sehingga haram (tidak boleh) mengumandangkan azan (1985, I: 541), namun menurut Sayyid Sâbiq dalam Fiqh as-Sunnah (I: 84), dahulu siti ‘Âisyah  ra. pernah mengumandangkan azan untuk kalangan perempuan, ikamah, dan kemudian mengimami salat. Dari kedua keterangan ini dapat dipahami bahwa praktik (pensyariatan) perempuan mengumandangkan azan untuk umum (laki-laki dan perempuan) belum pernah dilakukan pada zaman Nabi saw. Akan tetapi praktik (pensyariatan) perempuan mengumandangkan azan untuk kalangan perempuan sendiri sudah pernah dilakukan oleh siti ‘Âisyah  ra. Berdasarkan hadis siti ‘Âisyah ra. ini, maka Imam asy-Syâfi’î dan Imam Isḥâq membolehkan perempuan mengumandangkan azan dan ikamah bagi kalangan (perempuan) sendiri. Begitu pula dengan Imam Ahmad yang menyatakan kebolehan perempuan mengerjakan hal itu (mengumandangkan azan bagi kalangan perempuan sendiri) dan juga boleh apabila ingin meninggalkan(tidak mengerjakan)nya. Sementara Imam Anas, Imam Ḥasan, Imam Ibn Sirrîn, Imam an-Nakh’î, Imam aś-Śaurî, Imam Mâlik, Imam Abû Śaur, dan kalangan ahl ar-ra’y seperti Imam Abû Ḥanîfah memberikan pendapat yang sama bahwa perempuan tidak usah mengumandangkan azan bagi kalangan perempuan sendiri (I: 83-84).

Selain itu, Imam Al-Jazîrî menjelaskan dalam Kitâb al-Fiqh ‘alâ al-Mazâhib al-Arba’ah (2011, I: 271), secara jelas tentang status hukum perempuan mengumandangkan azan bagi khalayak ramai (umum) dalam perspektif empat mazhab. Mazhab Mâlikî, Syâfi’î, dan Ḥanbalî sepakat bahwa perempuan tidak boleh (haram) mengumandangkan azan. Dalam hal ini mengumandangkan azan untuk kepentingan umum (laki-laki dan perempuan), sebagaimana biasa dilakukan oleh muazin laki-laki di masjid atau pun di langgar-langgar. Tidak lain dan tidak bukan karena salah satu syarat muazin adalah laki-laki, bukan perempuan. Sementara mazhab Ḥanafî (Ḥanafiyyah) menyatakan bahwa syarat laki-laki dalam mengumandangkan azan yang diberikan oleh jumhur tersebut bukan syarat sahnya azan. Oleh karena itu, azan yang dikumandangkan oleh perempuan, orang banci, orang kafir, orang gila, dan orang mabuk tetap sah. Dan ketika salah satu dari mereka mengumandangkan azan, maka gugurlah kewajiban orang-orang lain untuk mengumandangkan azan. Sehingga mereka tidak berdosa meski pun tidak ikut mengumandangkan azan. Namun demikian, tidak sah apabila bersandar kepada kabar atau berita yang diberikan oleh orang kafir, orang fasik, dan orang gila dalam menentukan waktu salat. Hal ini karena syarat utama yang diberikan untuk menentukan waktu salat adalah muazin Islam dan adil—walau pun dia seorang perempuan, serta juga harus berakal, tamyiz, dan tau (mengerti) terhadap jadwal waktu-waktu salat. Perempuan dilarang mengumandangkan azan apabila terdapat hal-hal yang dapat mengundang syahwat bagi orang-orang yang mendengarnya, di mana alasan ini bagi penulis sudah tidak relevan lagi untuk masa sekarang mengingat sudah begitu banyak perempuan-perempuan yang melantunkan salawat dan kasidah-kasidah begitu merdunya yang tersebar di khalayak ramai.

Dalam hal ini, penulis sendiri lebih setuju dengan pendapat kalangan Ḥanafiyyah yang menyatakan bahwa syarat muazin adalah muslim yang adil, baik laki-laki mau pun perempuan. Karena apabila melihat ketentuan teks hadis yang biasa dijadikan pijakan dalam menetapkan disyariatkannya azan dalam Islam (1985, I: 533-534), maka ia berlaku secara umum, yaitu bagi laki-laki dan perempuan, sebagaimana hadis “iżâ ḥaḍarat aṣ-Ṣalâh, fa al-yuażżin lakum aḥadukum, wa al-yaummakum akbarukum” (ketika waktu salat telah tiba, maka hendaklah azan salah satu dari kalian untuk kalian semua dan hendaklah yang menjadi imam adalah orang yang “tertua” di antara kalian), di mana kalimat aḥadukum (salah satu dari kalian) secara jelas menggunakan redaksi jamak, sehingga ia tidak hanya terbatas kepada laki-laki saja, namun juga berlaku kepada perempuan. Meski pun praktiknya dahulu ketika masa Nabi saw. banyak dilaksanakan oleh laki-laki, maka hal ini karena alasan situasi dan kondisi yang masih menghendaki demikian. Oleh karena itu, seiring dengan bergulirnya waktu dan perubahan situasi dan kondisi masyarakat yang semakin “melek” pengetahuan, di mana antara laki-laki dan perempuan sama-sama diberikan peluang dalam ranah publik, maka sudah bukan hal yang tabu lagi—apalagi merupakan sebuah keburukan yang harus dilarang—apabila azan juga dikumandangkan oleh merdunya suara perempuan.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perempuan sejatinya memiliki hak untuk mengumandangkan azan. Apalagi dalam konteks Indonesia, suara perempuan sudah tidak menjadi masalah lagi dan keempat mazhab fikih (Ḥanafî, Mâlikî, asy-Syâfi’î, dan Ḥanbalî) sama-sama diakui oleh Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi terbesar di Indonesia, di mana ke empat mazhab itu menurut Imam asy-Sya’râni dalam al-Mizân al-Kubrâ, sama-sama bertemu pada titik (kebenaran) yang satu, yaitu syariat Islam yang bersumber dari Allah. Sehingga siapa pun yang mengikuti salah satu di antara mereka akan sampai jua kepada surga. Wa Allâh A’lam wa A’lâ wa Aḥkam…

Nasrullah Ainul Yaqin Mustari
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Konsentrasi Kajian Maqasid dan Analisis Strategik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.