Sabtu, Februari 27, 2021

Ketika Mantan Menkominfo Suka Sebar Hoax

Pertemuan di MRT Sinyal Reposisi?

Paska putusan Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan Joko Widodo–Ma’ruf Amin tidak terbukti melakukan pelanggaran Pemilu seperti apa yang dituduhkan kubu Prabowo-Sandi, seketika tensi politik perlahan...

Surga Di Bulan Ramadhan

Ramadan kembali menyapa. Ada rasa haru sekaligus sendu. Haru karena Tuhan masih berbaik hati memberikan umur untuk menjalani puasa. Sendu karena tahun ini harus...

Masa Depan Media, Literasi Digital, dan Masyarakat Ilmiah

Di era penuh informasi dan perkembangan teknologi membuat segalanya semakin cepat (Kasali, 2017). Masyarakat yang tidak tanggap, akan dibuat kebingungan akan informasi. Untuk memenuhi...

Nasib Eks ISIS dan Presiden Jokowi

Kontroversi di ruang publik tentang pemulangan warga Indonesia (eks ISIS) di luar negeri sudah menemui hasilnya. Pemerintah dengan tegas menolak dan menutup pintu kedatangan...
Lugas Wicaksono
Lahir di Malang 15 Maret 1990. Sarjana Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang. Twitter: @lugaswicaksono

Caption: Tifatul Sembiring, sumber: Jawa Pos.

Mantan Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia (Kominfo RI), Tifatul Sembiring melalui akun twitter @tifsembiring terbukti menyebarkan kabar hoax (baca: palsu) tentang kasus kejahatan kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar. Melalui akun centang birunya itu dia membagikan foto bergambar kumpulan orang-orang tertelungkup di pesisir pantai, Minggu (3/9/2017).

Di foto itu tertulis keterangan ‘Continuity of Massachusetts of Muslimah of Burma of Budhist More than 1000 Killer Yesterday — Please SHARE for the awakening’. Ia juga memberikan keterangan sendiri dengan mencuit Masya Allah, lihat ini mas @sahal_AS. Sejumlah netizen (pengguna twitter) sempat mengingatkan bahwa foto yang disebarkannya hoax. Namun ia ngotot dan merasa foto yang disebarkannya asli tragedi Rohingya. Bahkan ia berbalik menuding para netizen yang mengingatkannya sebagai penyebar kabar hoax.

@Rumayom: Sekelas @tifsembiring aja percaya HOAX bergambar seperti ini. Menyebar tanpa cek kebenarannya. Dibalas @tifsembiring: Saya pikir situ yg hoax mas, saya sudah ketemu pengungsi Rohingya, buka puasa bersama. Saya sdg dengar cerita mereka. Situ hoak hall saja… Seorang netizen lain kembali mengingatkannya, @richardsfaira: Itu gambar hoax pak… Tolong dicek lagi biar tidak meresahkan.. Namun Tifatul masih ngotot, @tifsembiring: Situ baru resah pak, kami sudah resah dari kemarin2. Tlg lihat berita setiap hari, ROHINGYA, kaya tdk punya empati.. Netizen lain membalas @Rhinasoraya: Minoritas di negeri sendiri teraniaya bapak ga resah tuh. @tifsembiring: Ini baru hoax…

Sementara Fanpage Indonesian Hoaxes memastikan bahwa foto yang dibagikan di twitter Tifatul Sembiring hoax. Foto itu sesungguhnya menggambarkan kejadian di Thailand 2014 lalu. Bukan foto tragedi Rohingnya beberapa waktu lalu. Beberapa saat kemudian Tifatul menghapus foto hoax yang disebarkannya. @tifsembiring: Ok saya hapus 1 foto itu, walaupun saya dikirimi puluhan foto2 sadis, termasuk korban anak2 Rohingnya yg dibunuh… Namun foto itu sudah terlanjut di-retweet ratusan netizen.

Apa yang dilakukan Tifatul dengan menyebarkan kabar hoax tentu saja sangat berbahaya dan justru semakin memperkeruh situasi atas konflik yang terjadi di Rohingnya. Kabar hoax berpotensi menyesatkan dan dapat membentuk opini yang berbeda dengan fakta sebenarnya dari sebuah fenomena. Terlebih netizen Indonesia sebagian masih sulit membedakan antara kabar hoax dengan kabar yang sebenarnya.

Namun bagi seorang Tifatul yang seorang mantan Menkominfo bukanlah perkara sulit mengidentifikasi kabar hoax. Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga memiliki segudang pengalaman di bidang teknologi informasi. Sebelum menjadi menteri, alumni Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Informatika dan Komputer Jakarta ini berkarir di PT Perusahaan Listrik Negara di bidang telekomunikasi dan pemrosesan data.

Secara logika dengan segudang pengalamannya ini Tifatul sebenarnya bisa mengidentifikasi kabar hoax yang beredar di internet secara kasat mata dalam sekejap. Namun entah apa motifnya menyebarkan kabar hoax, apakah memang sengaja atau teledor. Apabila karena memang teledor semestinya Tifatul sebagai publik figur lebih berhati-hati dalam berinternet. Mengingat di twitter saja dia memiliki 1,3 follower, dan mereka tidak mustahil akan percaya begitu saja dengan segala kabar yang disampaikan Tifatul di twitter karena segudang pengalamannya tersebut.

Padahal kini Kemenkominfo bersama Cybercrime Mabes Polri sedang bekerja keras memberantas kabar hoax yang beredar di internet. Beberapa waktu lalu Polri berhasil menangkap komplotan Saracen karena aktivitasnya dalam penyebaran hoax secara masif dan terstruktur di internet. Mereka memiliki ribuan akun palsu di media sosial untuk menyebarkan hoax dengan tujuan mengadu domba anak bangsa. Mereka melakukannya setelah menerima pesanan dengan bayaran besar dari orang-orang yang memiliki kepentingan dengan isu-isu tertentu.

Namun ternyata menangkap komplotan semacam Saracen saja belum cukup untuk memberantas hoax. Karena kini trend-nya hoax juga disebarkan tokoh-tokoh yang menjadi panutan publik. Apakah tokoh semacam Tifatul perlu ditangkap agar hoax tidak banyak tersebar? Tentu saja tidak. Tifatul dan kolega-koleganya cukup diedukasi agar mampu mengidentifikasi kabar hoax dan bukan. Tetapi itu bukanlah perkara mudah karena dia sebagai profesional di bidang teknologi informasi kemungkinan akan menolak karena sudah merasa bisa memanfaatkan internet cepat dengan bijak.

Selama menjabat sebagai Menkominfo kemarin Tifatul juga banyak melatih masyarakat terutama di pedesaan agar dapat menggunakan internet secara tepat dan bijak. Kala itu ia juga sering berhadapan dengan kabar-kabar hoax yang banyak beredar di internet. Menurut dia, penyebar hoax bisa dikenakan sanksi pidana Undang-undang Informasi Teknologi (UU ITE). Ia menghimbau kepada netizen agar lebih berhati-hati dan mengecek kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.

Kekinian rupanya perkembangan internet semakin cepat. Dengan begitu semakin cepat dan banyak pula segala informasi yang beredar terutama di media sosial. Sehingga netizen mungkin semakin sulit untuk mengidentifikasi informasi yang datang membanjir. Seringkali kita tanpa memastikan kebenaran informasi yang diperoleh cepat-cepat menyebarkan ulang dengan berbagai pertimbangan. Pola semacam ini tentu saja memungkinkan kabar hoax banyak tersebar. Salah satunya seperti kabar hoax yang disebarkan Tifatul. Ulahnya ini tentu saja mengingatkan kita kembali dengan pertanyaannya semasa menjabat Menkominfo, “Kalau internetnya cepat mau dipakai buat apa?”.

Lugas Wicaksono
Lahir di Malang 15 Maret 1990. Sarjana Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang. Twitter: @lugaswicaksono
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.