in

Ketika Mantan Menkominfo Suka Sebar Hoax


Caption: Tifatul Sembiring, sumber: Jawa Pos.

Mantan Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia (Kominfo RI), Tifatul Sembiring melalui akun twitter @tifsembiring terbukti menyebarkan kabar hoax (baca: palsu) tentang kasus kejahatan kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar. Melalui akun centang birunya itu dia membagikan foto bergambar kumpulan orang-orang tertelungkup di pesisir pantai, Minggu (3/9/2017).

Di foto itu tertulis keterangan ‘Continuity of Massachusetts of Muslimah of Burma of Budhist More than 1000 Killer Yesterday — Please SHARE for the awakening’. Ia juga memberikan keterangan sendiri dengan mencuit Masya Allah, lihat ini mas @sahal_AS. Sejumlah netizen (pengguna twitter) sempat mengingatkan bahwa foto yang disebarkannya hoax. Namun ia ngotot dan merasa foto yang disebarkannya asli tragedi Rohingya. Bahkan ia berbalik menuding para netizen yang mengingatkannya sebagai penyebar kabar hoax.

@Rumayom: Sekelas @tifsembiring aja percaya HOAX bergambar seperti ini. Menyebar tanpa cek kebenarannya. Dibalas @tifsembiring: Saya pikir situ yg hoax mas, saya sudah ketemu pengungsi Rohingya, buka puasa bersama. Saya sdg dengar cerita mereka. Situ hoak hall saja… Seorang netizen lain kembali mengingatkannya, @richardsfaira: Itu gambar hoax pak… Tolong dicek lagi biar tidak meresahkan.. Namun Tifatul masih ngotot, @tifsembiring: Situ baru resah pak, kami sudah resah dari kemarin2. Tlg lihat berita setiap hari, ROHINGYA, kaya tdk punya empati.. Netizen lain membalas @Rhinasoraya: Minoritas di negeri sendiri teraniaya bapak ga resah tuh. @tifsembiring: Ini baru hoax…

Baca Juga :   Hitler, Emosi Massa, dan Metamorfosa Propaganda

Sementara Fanpage Indonesian Hoaxes memastikan bahwa foto yang dibagikan di twitter Tifatul Sembiring hoax. Foto itu sesungguhnya menggambarkan kejadian di Thailand 2014 lalu. Bukan foto tragedi Rohingnya beberapa waktu lalu. Beberapa saat kemudian Tifatul menghapus foto hoax yang disebarkannya. @tifsembiring: Ok saya hapus 1 foto itu, walaupun saya dikirimi puluhan foto2 sadis, termasuk korban anak2 Rohingnya yg dibunuh… Namun foto itu sudah terlanjut di-retweet ratusan netizen.

Apa yang dilakukan Tifatul dengan menyebarkan kabar hoax tentu saja sangat berbahaya dan justru semakin memperkeruh situasi atas konflik yang terjadi di Rohingnya. Kabar hoax berpotensi menyesatkan dan dapat membentuk opini yang berbeda dengan fakta sebenarnya dari sebuah fenomena. Terlebih netizen Indonesia sebagian masih sulit membedakan antara kabar hoax dengan kabar yang sebenarnya.

Namun bagi seorang Tifatul yang seorang mantan Menkominfo bukanlah perkara sulit mengidentifikasi kabar hoax. Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga memiliki segudang pengalaman di bidang teknologi informasi. Sebelum menjadi menteri, alumni Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Informatika dan Komputer Jakarta ini berkarir di PT Perusahaan Listrik Negara di bidang telekomunikasi dan pemrosesan data.

Secara logika dengan segudang pengalamannya ini Tifatul sebenarnya bisa mengidentifikasi kabar hoax yang beredar di internet secara kasat mata dalam sekejap. Namun entah apa motifnya menyebarkan kabar hoax, apakah memang sengaja atau teledor. Apabila karena memang teledor semestinya Tifatul sebagai publik figur lebih berhati-hati dalam berinternet. Mengingat di twitter saja dia memiliki 1,3 follower, dan mereka tidak mustahil akan percaya begitu saja dengan segala kabar yang disampaikan Tifatul di twitter karena segudang pengalamannya tersebut.

Baca Juga :   "Menyemai" Kesadaran Literasi Sebuah Investasi

Padahal kini Kemenkominfo bersama Cybercrime Mabes Polri sedang bekerja keras memberantas kabar hoax yang beredar di internet. Beberapa waktu lalu Polri berhasil menangkap komplotan Saracen karena aktivitasnya dalam penyebaran hoax secara masif dan terstruktur di internet. Mereka memiliki ribuan akun palsu di media sosial untuk menyebarkan hoax dengan tujuan mengadu domba anak bangsa. Mereka melakukannya setelah menerima pesanan dengan bayaran besar dari orang-orang yang memiliki kepentingan dengan isu-isu tertentu.

Namun ternyata menangkap komplotan semacam Saracen saja belum cukup untuk memberantas hoax. Karena kini trend-nya hoax juga disebarkan tokoh-tokoh yang menjadi panutan publik. Apakah tokoh semacam Tifatul perlu ditangkap agar hoax tidak banyak tersebar? Tentu saja tidak. Tifatul dan kolega-koleganya cukup diedukasi agar mampu mengidentifikasi kabar hoax dan bukan. Tetapi itu bukanlah perkara mudah karena dia sebagai profesional di bidang teknologi informasi kemungkinan akan menolak karena sudah merasa bisa memanfaatkan internet cepat dengan bijak.

Selama menjabat sebagai Menkominfo kemarin Tifatul juga banyak melatih masyarakat terutama di pedesaan agar dapat menggunakan internet secara tepat dan bijak. Kala itu ia juga sering berhadapan dengan kabar-kabar hoax yang banyak beredar di internet. Menurut dia, penyebar hoax bisa dikenakan sanksi pidana Undang-undang Informasi Teknologi (UU ITE). Ia menghimbau kepada netizen agar lebih berhati-hati dan mengecek kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.

Baca Juga :   Memutus Siklus Hoax

Kekinian rupanya perkembangan internet semakin cepat. Dengan begitu semakin cepat dan banyak pula segala informasi yang beredar terutama di media sosial. Sehingga netizen mungkin semakin sulit untuk mengidentifikasi informasi yang datang membanjir. Seringkali kita tanpa memastikan kebenaran informasi yang diperoleh cepat-cepat menyebarkan ulang dengan berbagai pertimbangan. Pola semacam ini tentu saja memungkinkan kabar hoax banyak tersebar. Salah satunya seperti kabar hoax yang disebarkan Tifatul. Ulahnya ini tentu saja mengingatkan kita kembali dengan pertanyaannya semasa menjabat Menkominfo, “Kalau internetnya cepat mau dipakai buat apa?”.


Written by Lugas Wicaksono

Lahir di Malang 15 Maret 1990. Sarjana Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Twitter: @lugaswicaksono

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR