OUR NETWORK

Ketika Gusdurian ‘Menggugurkan’ Manuver Politik Ijtima Ulama

Kehebohan itu terjadi karena mereka mengklaim sebagai forum suara ulama yang mendukung pasangan capres-cawapres, Prabowo-Sandi

Lenyap sudah ‘kebisingan’ politik forum ijtima ulama di ruang-ruang diskusi publik, liputan media massa maupun obrolan hangat warganet di sosial media. Padahal sebelumnya, munculnya ijtima ulama ini sempat membuat rakyat heboh.

Kehebohan itu terjadi karena mereka mengklaim sebagai forum suara ulama yang mendukung pasangan capres-cawapres, Prabowo-Sandi. Ketika itu, forum ijtima ulama disebut-sebut sebagai refresentasi ulama dan umat muslim. Seiring waktu berjalan, eksistensi ijtima ulama akhirnya gugur ketika Gusdurian secara resmi menyatakan mendukung pasangan capres-cawapres, Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Mengapa keberadaan ijtima ulama gugur oleh kehadiran Gusdurian? Jawabannya sangat mudah dan sederhana. Forum Ijtima ulama hanyalah permainan narasi dengan mengatasnamakan ulama. Artinya, kata ulama yang berada di belakang kata ijtima maknanya sangat kabur alias tidak segmented. Maksudnya ialah ulama yang dimaksud itu sebenarnya ulama yang mana?

Saya menilai ada semacam proses generalisasi ulama yang memang sengaja diciptakan oleh sekelompok elit politik tertentu dengan memakai ‘merek’ forum ijtima ulama yang tujuannya ingin mengarahkan suara politik umat muslim. Sejujurnya, ulama di Indonesia sangat banyak, kalau kita mau meruntutnya dari Sabang sampai Merauke. Dengan kata lain, ijtima ulama bukanlah suara ulama atau umat muslim Indonesia. Sedangkan, segelintir oknum yang mengklaim dirinya ulama dalam ijtima ulama jumlahnya terbilang sangat kecil.

Tren Politik Positif 

Di sisi berbeda, Gusdurian tidak pernah mengklaim golongan mereka sebagai kelompok ulama. Namun, identitas diri Gusdurian sangat jelas yaitu mereka adalah kaum Nahdliyin atau warga Nahdlatul ulama (NU). Keberadaan massa NU (sekitar 80 persen), bukan hanya sekadar mewakili umat muslim di Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari suara ulama di seluruh Indonesia dengan label NU. Dari sini publik sudah bisa mengukur, betapa kecilnya itjima ulama dibandingkan dengan Gusdurian, bila dikaitkan dengan keberadaan umat muslim di Indonesia.

Walaupun tidak berpolitik praktis, ormas NU memiliki kantong-kantong politik yang tersebar di sejumlah parpol. Warga NU bisa menyuarakan aspirasi politiknya secara signifikan kepada beberapa parpol yang berbasis agama dan parpol yang berazaskan nasionalis-religius dalam perhelatan pilpres yang akan digelar tahun 2019 mendatang. Adapun  parpol yang siap menampung suara politik massa NU diantaranya ialah PKB dan PPP.

Bahkan, sebagian massa NU juga bercokol di PKS, PAN atau PBB. Belum lagi massa NU yang ‘bermukim’ di parpol yang berazaskan nasionalis-religius yang notabene telah menyatakan dukungan kepada Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Mereka itu antara lain ialah, partai Golkar, Hanura, Nasdem, serta parpol non parlemen, seperti PSI dan Perindo. Sebagian warga NU juga ada di kelompok parpol oposisi.

Saya percaya, sejumlah elit politik yang mendukung Joko Widodo-Ma’ruf Amin, tidak hanya merasa nyaman dengan adanya dukungan Gusdurian, tetapi juga mereka semakin optimis bahwa ormas NU yang mempunyai basis massa muslim terbesar di republik ini, akan memberikan tren positif dalam peta politik identitas sekaligus menaikkan elektabilitas parpol serta bacalegnya.

Soliditas Warga NU

Munculnya istilah NU kultural dan NU struktural yang sempat menjadi polemik di media massa, justru akan semakin memperkuat dan mewarnai kancah perpolitikan nasional. Intinya, dalam tataran kultural maupun struktural, massa NU tetap solid menjaga loyalitasnya terhadap keputusan politik Gusdurian. Sepengetahuan saya, massa NU tidak pernah ‘menggadaikan’ loyalitasnya kepada kelompok lain, terutama dalam menentukan sikap dan perilaku politik mereka.

Musnahnya eksistensi ijtima ulama yang digagas GNPF, tentu saja menjadi hal yang wajar dan tidak perlu disesalkan, karena pada dasarnya, ijtima ulama tidak memiliki basis massa yang kuat, besar serta tidak mengakar. Bahkan, sebagian analis politik menilai, forum ijtima ulama mungkin sengaja diciptakan hanya untuk memecah suara umat muslim yang selama ini dinilai selalu ‘nunut’ kepada ulamanya.

Dalam pandangan saya, segelintir ulama yang tergabung dalam forum ijtima ulama, memang tidak dikenal publik secara luas, baik dalam basis ormas sosial maupun basis ormas keagamaan. Ijtima ulama lahir secara tiba-tiba menjelang pilpres 2019, tentu saja kehadiran mereka yang mendadak ulama ini, memunculkan pertanyaan besar, ada apa dengan ijtima ulama? Wassalam.

Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…