OUR NETWORK

Ketika Dunia Kerja Tak Butuh Ijazah, Mengapa Harus Kuliah?

Kuliah, pada hakikatnya memang untuk memperpanjang akal, terlebih di dunia hari ini yang semakin tidak masuk akal…

Sekitar 2 minggu yang lalu, pada sebuah koran terkenal ibukota, muncul satu artikel yang cukup membuat saya bertafakur, ditulis oleh seorang Guru Besar IPB. Artikel itu menyoroti tentang hubungan antara perguruan tinggi dan mahasiswa yang semakin hari semakin terlihat seperti produsen dan konsumen.

Perguruan tinggi memerlukan mahasiswa untuk sumber keuangan -membiayai operasionalnya, oleh karena itu, seperti prinsip perdagangan, semua hal harus dilakukan agar pelanggan menjadi nyaman. Akibatnya, perguruan tinggi kehilangan kemandirian serta membelakangi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terkenal itu.

Fenomena di atas semakin mementahkan harapan publik yang selama ini menggantung tinggi di puncak-puncak kredibilitas perguruan tinggi. Kepentingan pasar telah memandu insan-insan akademik pada jalan bercabang, kecil, dan tak berujung.

Maka, tidak mengejutkan jika banyak orang yang meragukan kualitas perguruan tinggi dan sebagian dari mereka bahkan enggan menyarakan anak, saudara, keponakan dan keluarganya melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi, selain karena memang mahal.

Kuliah, pada hakikatnya memang untuk memperpanjang akal, terlebih di dunia hari ini yang semakin tidak masuk akal, maka wadah untuk melatih dan memfungsikan akal disandarkan ke perguruan tinggi. Hal ini erat pula kaitannya dengan dunia kerja, karena ketika kita sudah berhasil melewati wadah pendidikan akal di perguruan tinggi, maka kita dianggap mampu untuk menerima terpaan dunia luar, dengan kata lain kita siap untuk bekerja. Sayangnya, anggapan ini boleh dikatakan sebagai nalar usang.

Saat kehidupan terus berjalan, maka spesialisasi pekerjaan akan terus berkembang, kini generasi kita mengenal profesi-profesi unik seperti food stylist, digital marketers, social media specialist, animator, data scientist, web developer dan lain sebagainya.

Pekerjaan-pekerjaan kreatif ini sejatinya bisa diakomodir oleh perguruan tinggi, walaupun mungkin hanya “kulit luar” nya saja.  Sehingga masih sangat membutuhkan tempaan  yang intens di dunia kerja. Hal ini pula yang mungkin luput dari perhatian perguruan tinggi, walaupun akhir-akhir ini ada wacana mengenai pendirian program studi yang dibutuhkan oleh industri. Patut kita tunggu tindak lanjutnya.

Semakin spesifiknya profesi serta ketidakmampuan perguruan tinggi mempertahankan kualitas serta ketidakmampuan dalam memberikan akses pendidikan yang adil. Maka tidak mengherankan kemudian banyak perusahaan-perusahaan besar, khususnya teknologi, yang tidak lagi mempertimbangkan ijazah ketika merekrut karyawan, melainkan pertimbangan keahlian, Google dan Apple termasuk di dalamnya.

Perkembangan teknologi serta ragam kebutuhan umat manusia yang semakin unik memerlukan upaya produksi yang terus menerus dan cepat. Hal ini meningkatkan kebutuhan akan tenaga kerja yang ahli, cepat, fleksibel, serta dalam jumlah banyak. Sayangnya, sering ditemui ketidakcocokkan antara kebutuhan dengan yang disediakan oleh perguruan tinggi. Tantangan ini yang terus menerus coba dijawab oleh perguruan tinggi sampai detik ini.

Walaupun begitu, ini bukanlah cerita si pungguk merindukan bulan, sebuah cerita cinta tanpa harapan. Masa depan yang cerah masih bisa dilihat dari perguruan tinggi kita. Harapan masih ada untuk melihat kejayaan dan kegagahan perguruan tinggi dalam menghadapi perkembangan zaman. Harapan seperti apa yang dimaksud? Ada baiknya kita simak terlebih dahulu apa yang pernah disampaikan oleh Edward O. Wilson berikut ini:

“Jika sangat sedikit yang diketahui orang tentang suatu persoalan penting, maka pertanyaan yang biasa diajukan hampir selalu bersifat etika. Kemudian begitu pengetahuan mulai tumbuh, orang akan lebih memperhatikan masalah informasi dan amoral, dengan kata lain dari segi intelektual lebih sempit. Akhirnya, ketika pemahaman sudah mulai cukup, pertanyaan akan kembali beralih ke etika”.

Saya tidak akan membahas mengenai keterkaitan antara kemajuan teknologi dengan etika serta pertentangan antara keduanya. Walaupun ini bisa menjadi titik masuk untuk memaksimalkan peran perguruan tinggi. Pernyataan di atas saya kutip untuk menegaskan bahwa – suatu landasan sikap, bagaimanapun ia berkembang, tetap akan kembali ke landasan sikap – dalam hal ini kita membicarakan tentang etika. Dalam hal lain kita bisa membawa pernyataan di atas dalam konteks landasan sikap perguruan tinggi.

Pertanyaan mendasar yang erat kaitannya dengan landasan sikap perguruan tinggi adalah, apakah kita masih memerlukan perguruan tinggi? Walaupun memerlukan banyak konfirmasi data dan melakukan wawancara ke beberapa narasumber, tetapi saya beranikan diri untuk menjawab pertanyaan itu dengan “sangat perlu”.

Kehidupan perguruan tinggi wajib dipenuhi dengan praktik-praktik keluhuran sikap, walaupun pandangan ini terkesan normatif, namun memang seperti itu adanya. Kita hidup di zaman yang serba sulit, kemana lagi tempat kita menggantungkan harapan di saat banyak lembaga-lembaga lain yang dipercaya justru mengkhianati kita.

Landasan sikap yang kental mewarnai kehidupan perguruan tinggi adalah kejujuran dan kedisiplinan. Dalam sudut pandang praktis, ilmu pengetahuan bisa kita dapatkan tanpa harus mendatangi perguruan tinggi dan mengikuti perkuliahan. Kecanggihan gawai bisa menggabungkan kepintaran dari berbagai ilmuwan. Semua bisa kita cari disitu. Tetapi kejujuran dan kedisiplinan tidak bisa dicari, ia tumbuh dari ketepatan waktu bangun pagi, membuat tugas, membayar SPP, menyusun tugas akhir dan pekerjaan bertenggat waktu lainnya.

Landasan sikap lainnya yang juga teramat penting adalah kreativitas. Anggapan yang muncul selama ini pada perguruan tinggi dan lembaga pendidikan kita adalah mereka membentuk mahasiswa dan peserta didik dengan “template” yang sudah ada. Sehingga perjuangan dalam menggapai pendidikan tak ubahnya seperti meneruskan perjalanan pendahulu kita.

Orang-orang yang ingin berbeda dianggap aneh dan harus disadarkan. Perguruan tinggi tidak harus membuat pamflet, siaran pers, atau konferensi pers untuk membantah hal ini, cukup dengan membuktikan tujuan dan semangat untuk mendidik. Memberikan ruang pada insan-insan yang aneh namun kreatif ini bisa menjadi solusi. Jika kreativitas ini terus dikekang, maka bukan tidak mungkin kita akan mewariskan keturunan-keturunan berotak tumpul yang hanya dipenuhi hasrat untuk meniru serta menjadi pengikut saja.

Landasan-landasan sikap di atas sebenarnya bisa menaikan nilai tawar perguruan tinggi terhadap praktik-praktik kapitalis pendidikan yang akhir-akhir ini semakin parah terjadi. Akhirnya, saya menghimpun dua asa untuk perguruan tinggi kita, pertama tentu saja perguruan tinggi harus memunculkan sikap kejujuran, kedisiplinan, dan kreativitas. Asa yang kedua adalah, jika sudah bersikap seperti asa pertama, maka perguruan tinggi jangan terlalu jual mahal dan genit. Itu saja.

Calon peneliti yang meminati sejarah, politik, dan ekologi

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…