Senin, Maret 8, 2021

Orang Pintar dan Biang Intoleran

Kunjungan Wapres Jusuf Kalla: Demokrasi Indonesia Masih Terbaik

Pada 21/09/2018 Dalam salah satu rangkaian kegiatannya di Amerika Serikat, Wakil Presiden Jusuf Kalla sempat berkunjung untuk memberikan kuliah umum serta berdiskusi dengan Mahasiswa...

Program Bela Negara: Buah Tangan Fasisme di Lingkup Kampus

They have the masses brainwashed "we're so lucky to be free" They won't remove the blindfold fearing someday we may see For if the people see...

Tongkat Otoritas : Bukti Kesesatan Kelompok Bahtera

Ini foto tongkat otoritas yg sangat banyak digunakan di kelompok saya yg lalu.Fungsinya sebagai senjata profetik yaitu sebagai lambang pemegang kuasa otoritas yg dari...

Keterhubungan Wacana Indigenous Peoples dengan Masyarakat Adat

Pada aras global, gerakan masyarakat adat sedang menggeliat. Gerakan tersebut adalah gerakan Indigenous peoples, yang dalam narasi Pasca kolonialisme adalah perwujudan dari penolakan marjinalisasi...
Idang Aminuddin
Orang jelata dari desa. Melangkah untuk merdeka

Mengaku sebagai Intelektual, cendikiawan, ustaz dan alim, tanpa melalui proses verifikasi keilmuan dan fit and propertest yang jelas. Maka kecenderungannya bukan menambah kesadaran pengetahuan, justru akan menambahkan kekacauan personal dan komunal.

Sebab, retorika yang tidak punyak otoritas keilmuan secara akademik, seperti expert-expert dadakan yang lulus di “Universitas Martabak”, dan bangunnya sering kesiangan. Kecenderungannya adalah kebencian yang ujungnya kekacauan.

Begitu pula dalam agama, bila yang menyampaikan bukan pada ahlinya, maka akan menambah chaos atau kekacauan dalam otoritas agama yang dianut. Karena kekacauan, kerancuan tidak cuma disebabkan oleh banyaknya orang bodoh tapi juga disebabkan ketidak proporsionalan orang pintar.

Adagium itu sesuai dengan banyaknya majlis taklim-majlis taklim, pengajian-pengajian yang diubah menjadi “podium pengkafiran dan pensesatan”. Hanya karena berbeda aliran, dan pemahaman dalam penafsiran agama lantas dikecam sebagai kandidat penghuni neraka.

Peristiwa tindakan intoleransi yang kerap terjadi dalam masyarakat Indonesia, merupakan problematika serius, yang mengancam masa depan bangsa Indonesia dalam menyongsong Kebinnekaan dan Keragaman serta kerukunan antar umat beragama. Dalam masyarakat Heterogen menjunjung nilai-nilai toleransi, merupakan kebutuhan primer demi mencapai masyarakat yang madani. Ber-irama harmoni hidup rukan, damai, nyaman dalam perbedaan.

Perlu Ketegasan 

Ketahuilah kepandaian menyampaikan materi dakwah, kepiawaian dalam beretorika diruangan forum-forum diskusi tidak lantas menjadi ukuran kebenaran pada tema yang ia sampaikan. Terutama tema-tema yang berkaitan dengan agama, haruslah diwaspadai, maksud saya bukan untuk menskeptiskan dari isi kebenaran agama itu sendiri.

Akan tetapi tema agama sangatlah riskan di era sekarang di Negara Indonesia (Era kepemimpinan Presiden Jokowi-JK). Lihat saja dari sekian isu yang berkembang dari bulan ke bulan, tahun ke tahun sejak tepilihnya Presiden Jokowi-JK, seakan-akan suguhan isu sara, PKI, ketegangan antar Ormas Islam menjadi menu rutin yang dikonsumsi otak kita, melalui media-media maenstrem.

Tak keberatan bila saya disini juga ikut mengatakan bahwa, agama sudah menjadi alat komoditi kepentingan salah satu pihak atau kelompok tertentu, untuk menghegemoni seseorang atau umat pemeluknya agar ikut pada apa yang di inginkan, terutama dalam hal politik praktis, yang endingnya uang serta perebutan kekuasaan. Maka perlulah kiranya pemerintah melakukan antisipasi yang serius dalam hal itu, demi keberlanjutan generasi anak bangsa, yang cinta akan Kebinnekaan dan perdamaian.

Meskipun Perpu Ormas sudah diterapkan sejak tahun 2017 kemaren, anggaplah itu menjadi sebuah upaya antsipasi pada organisasi kemasyarakatan penganut ideologi ektrimesme, agar penyakit itu tak menjangkiti generasi anak bangsa. Tapi perlu kiranya dipertegas kembali oleh pemerintah hingga regulasi yang dibuat sampai pada masyarakat tataran bawah di desa-desa, karena Lembaga boleh dibubarkan bila tak sesuai peraturan perundang-undangan.

Tapi tidak ada yang bisa menjamin bahwa ideoligi ektrem yang sudah terpatri di isi kepala mereka itu tidak lagi dijalankan. Karena ideologi tak pernah mati. Jangan sampai agama yang isi kandungannya adalah nilai-nilai kebenaran (truth values) justru menjadi pembodohan (duping).

Karena segala sesuatu yang diracik dengan bumbu agama menjadi obat paling mujarab, jurus paling ampuh untuk mempengaruhi seseorang terutama orang yang kelas pendidikannya pas-pasan. Relevan kalau kita korelasikan dengan ungkapan Ibn Rusyd, “Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala sesuatu yang batil dengan kemasan agama“.

Harusnya kita semua sadar dan tau terutama lapisan elememen masyarakat kelas menengah, anggaplah bagi mereka yang sudah menempuh pendidikan diperguruan tinggi atau Universitas, bahwa salah satu dari sifat ilmu pengetahuan termasuk urusan agama adalah logis dan terukur. Maka apabila kita menjumpai atau mendengar ujaran yang tak sesuai nalar logika serta ukuran dari kaidah keilmuan, haruslah generasi kelas menengah – kalangan terpelajar melawan, dalam artian meluruskan cara pandang berpikirnya. Menyadarkan ketelisutan isi kepalanya.

Generasi kelas menengah yang saya maksud tersebut yang terlahir dari kalangan terpelajar, merupakan embrio sebagai pelanjut Founding Father kita demi mencapai cita-cita kehidupan berbangsa yang sejahtera. Dengan demikian haruslah bangkit bersama, bahu membahu ikut berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak boleh menjadi generasi lata, hanya karena Tausiyah seorang-uatad yang trend di media, tanpa kita tau sebelumnya tentang otoritas keilmuannya. Tapi tak kalah penting pula pemerintah harus tegas menjalankan amanah dari rakyatnya, tidak boleh menutup mata, termasuk dalam Toleransi beragama.

Kesadaran Melindungi

Dalam masyarakat yang plural, menanamkan kesadaran tentang makna saling melindungi tanpa memandang suku, ras, dan agamanya, harus tertancap bahkan perlu dipatenkan pada diri setiap individu anak bangsa, untuk memiliki kesadaran saling melindungi. Misalkan antara yang kuat dengan yang lemah, yang kaya dengan yang miskin, yang pintar dengan yang bodoh, pemimpin dengan rakyatnya, tokoh agama dengan umatnya, dan yang mayoritas dengan minoritas kelompoknya sangatlah penting.

Sebab dari perbedaan dan ketimpangan kelas sosial merupakan problem purba yang tak kunjung selesai. Maka tanpa adanya kesadaran untuk saling melindungi, akibatnya akan terjadi chaos atau kekacauan pula. Seperti halnya hukum rimba dihutan blantara, saling memakan antara yang satu dengan yang lainnya. Sehingga apalah bedanya kita dengan mereka yang doyan, mengkafirkan dan mensesatkan, apabila sikap sehari-hari kita tidak saling melindungi sesamanya, antar anak bangsa apapun suku, ras dan agamanya.

Pertanyaanya sudahkah pemerintah kita melindungi rakyatnya? Sudahkah tokoh agama kita melindungi umatnya? Atau jangan-jangan mereka juga dalang, dan mensutradai dari tindakan agresi kelompok intoleran?  Allahu A’lam bishawab. Mari kita perhatikan dan rasakan bersama.

Idang Aminuddin
Orang jelata dari desa. Melangkah untuk merdeka
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.