Banner Uhamka
Jumat, September 18, 2020
Banner Uhamka

Keteledoran dan Duka Asian Para Games

Jokowi, Sains, dan Teknologi

Pada bulan Mei, 2017, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menerbitkan buku putih dengan judul Sains, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Menuju Indonesia 2045—berisikan skenario besar...

Menghentikan Kebencian Berpolitik

Partai Setan dan Partai Tuhan. Inilah istilah yang sekarang paling keras dilontarkaan ke publik oleh Amien Rais, sehingga memanaskan suhu politik Nasional. Elit politik tampaknya...

Kenapa Selalu Kurt Cobain?

Pernahkah kamu bertanya, kenapa dalam setiap kaos, dalam setiap poster dan berbagai spanduk kamu sering melihat foto-foto dari Kurt Cobain, Ozzy Osbourne, Bob Dylan...

Menggosok Pribumi dengan lidah Non P(e)ri bumi

Taingyintha saat ini sangat populer di Myanmar. Kata ini menjadi acuan rejim yang sedang berkuasa di Myanmar untuk merujuk penolakan hak-hak sipil dan politik...
ulfa nur habibah
aktivis perempuan, S1 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. yang muda biarkan mereka berkarya dengan merdeka

Di penghujung tahun 2018 ini, Indonesia menjadi tuan rumah dua ajang olahraga terbesar di Asia, yaitu Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018. Meninggalkan kemeriahan yang tercipta dari ajang olah raga Asian Games yang luar biasa dan memukau seluruh negara, membuat Indonesia banjir pujian.

Ada yang menjadi sorotan publik, atlet Asian Para Games terpaksa gagal melanjutkan pertandingan karena terkendala sanksi administrasi. atlet putri blind judo, Miftahul Jannah dan Tim atlet renang Indonesia di nomor estafet 4 x 100 meter putra, Terpaksa harus gagal meraih impian menyumbang mendali untuk Indonesia.

Kejadian yang terjadi pada Miftahul Jannah bermula ketika Miftahul Jannah dijadwalkan turun di kelas 52 kg putri blind judo dan akan menghadapi wakil Mongolia, Gantulga Oyun. menjelang dimulainya pertandingan, Miftahul Jannah dilarang tampil menggunakan jilbab. Dia harus melepas jilbab sesuai aturan dari Federasi Judo Internasional (IJF). Pada saat itu Miftahul Jannah tetap kekeh dengan prinsipnya dia untuk menggunakan jilbab sehingga didiskualifikasi dari pertandingan.

Hal semacam itu seharusnya tidak terjadi, mengingat regulasi yang di buat oleh Federasi Judo Internasional (IJF) telah melarang setiap atlet untuk tidak menggunakan penutup kepala untuk alasan keselamatan. Lantas mengapa kelalaian semacam itu bisa di lakukan?

Ketua National Paralympic Committee (NPC) Indonesia telah meminta maaf soal insiden yang menimpa Miftahul jannah, dirinya menjelaskan bahwa kejadian ini murni kesalahan dari pihak management dan juga pelatih yang tidak bisa memahami regulasi yang dibuat.

Bagaimana mungkin kelalaian itu bisa terjadi, peran pelatih dan management menjadi penting untuk proses pemenangan atlet, regulasi seharusnya sudah tuntas sebelum memasuki ranah teknis. NPC menyatakan bahwa ketidak lancaran pelatih dalam berbahasa inggris juga menjadi sebuah penyebab hal tersebut.

Dalam hal ini sangat di sayangkan karena terkesan tidak ada kesiapan yang matang untuk ajang kali ini. sungguh di sayangkan bagaimana seorang pelatih yang berbaur dengan banyak negara tidak cakap berbahasa inggris, sehingga merugikan dan sangat fatal.

Tragedi serupa juga di alami Tim Atlet renang Indonesia di nomor estafet 4 x 100 meter putra, berbeda dengan Miftahul jannah. Tim Atlet renang gagal untuk mengikuti pertandingan karena Tim Indonesia terlambat saat hendak mendaftar ulang, salah satu pelatih menuturkan keterlambatan tersebut di tengarai karena sedang mengurusi atlet lainnya yang belum juga daftar.

Kecelakaan teknis semacam ini harusnya tidak terjadi pasalnya ini merupakan ajang olahraga besar, seyogyanya sudah ada persiapan yang matang mulai dari kesiapan atlet sendiri dan juga kesiapan team. Mengingat anggaran yang di gelontorkan tidak sedikit sangat disayangkan adanya kekurangan pada team indonesia.

Dari kedua tragedi, memberikan sebuah kesimpulan adanya ketidaksiapan dari manajemen cabang olahraga tersebut untuk bertanding, tidak ada maksimalisasi yang dilakukan. Dengan seperti itu akhirnya mental atlet tak lagi bisa terkontrol, ambisi untuk bisa mengharumkan bangsa telah pupus sebelum bertanding.

Melihat kehebohan dan antusiasme masyarakat pada perlombaan di Asian Games beberapa waktu lalu, sedikit kontra dengan situasi yang saat ini terjadi. Banyak kursi kosong pada pertandingan Cabor sehingga ada beberapa Cabor yang menggratiskan tiket masuk. Sangat berbeda dengan kemeriahan yang terjadi pada Asian Games yang mana semua Cabor penuh dengan suara teriakan pendukung masing-masing negara, hal ini menjadi suntikan semangat untuk para atlet dan juga bukti penghargaan untuk kerja keras yang telah mereka lakukan. Adanya “pembedaan” sungguh di sayangkan.

Lantas apa yang seharusnya dilakukan

Ini merupakan pelajaran yang tidak boleh terulang kembali, manajemen harus bersikap profesional dan mempersiapkan semua hal teknis maupun non-teknis sehingga tidak terulang kejadian yang “membuat malu” Indonesia.

Team dan juga pelatih merupakan orang yang sudah profesional di bidangnya. Kemampuan dan kecakapan pelatih dalam berbahasa maupun berkomunikasi dengan pihak eksternal perlu menjadi sorotan, terkesan konyol jika penyebab adanya kesalahan tersebut karena ketidak pahaman memahami regulasi dikarenakan kendala bahasa, antisipasi dengan adanya team yang bertugas untuk mentraslate jika memang tidak mampu.

Management team juga di perlukan agar tragedi keterlambatan pendaftaran dan lain sebagainya tidak terulang kembali. Ini bukan hanya pertandingan Olahraga tapi juga pertarungan bangsa. Bagaimana mungkin ketidaksiapan dan kekurangan team untuk menangani pendaftaran bisa terjadi.

Yang harus dilakukan adalah bagaimana mengelola team dan melihat posisi apa yang harus ditambah dan harus dikuatkan. Peran pemerintah juga mejadi penting untuk memantau kesiapan perlombaan kali ini, adanya teguran jika memang terjadi kelalaian dan kecerobohan yang tidak masuk akal

Kejadian kursi kosong sangat disayangkan, atlet Indonesia tengah berjuang mengharumkan nama bangsa, sudah seharusnya kita memberikan dukungan kepada mereka.

Dan tidak ada diskriminasi, dengan banyaknya semangat akan membuat mereka bersemangat untuk menang, sebagai bangsa besar penting kiranya menumbuhkan rasa saling menghargai, “diskriminasi” semacam ini sudah sepatutnya tidak terjadi, disini kita sama-sama saling berjuang untuk mengharumkan nama bangsa, dan sudah sewajarnya kolaborasi antar masyarakat diperlukan akan bangsa ini menjadi bangsa yang kuat.

ulfa nur habibah
aktivis perempuan, S1 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. yang muda biarkan mereka berkarya dengan merdeka
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

Pers Masa Pergerakan: Sinar Djawa dan Sinar Hindia

Surat kabar Bumiputera pertama adalah Soenda Berita yang didirikan oleh R.M Tirtoadisuryo tahun 1903. Namun, surat kabar ini tak bertahan lama. Pada 1905-1906, Soenda...

Hukum Adat, Kewajiban atau Hak?

Mengenai definisi hukum adat dan proporsi hak dan kewajiban dalam hukum adat, Daud Ali dalam Buku Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum...

Tulisan Muhidin M Dahlan Soal Minang itu Tidak Lucu Sama Sekali

Sejak kanak-kanak sampai menjelang dewasa, saya sangat dekat dengan nenek. Sementara ibu dan bapak yang bekerja sebagi pegawai negeri sudah berangkat kerja setiap pagi....

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.