Senin, April 12, 2021

Kerja Intelektual yang Tak Pernah Selesai

Suara Hati Istri Vs The World of the Married

Suara Hati Istri merupakan program hiburan berupa sinema elektronik atau sinetron yang ditayangkan Indosiar menjelang sore hingga  malam, isinya dramatis, menegangkan juga menggemaskan. menceritakan...

Kampanye Digital di Indonesia, Berebut Suara Rakyat

Peter Thiel dalam bukunya Zero to One, menyebutkan adanya perbedaan yang tegas antara globalisasi dan inovasi. Inovasi adalah suatu hal yang sama sekali baru....

Dataisme: Biang Gagalnya Kemanusiaan

Dinasti kaisar (konon katanya keturunan) Nabi Sulaiman, dikenal dengan solomonic dinastic, yang selama berabad-abad menguasai bumi pada akhirnya ditumbangkan oleh sebuah kudeta militer pada...

Pulang Kampung Oh Pulang Kampung!

Nabi Muhammad SAW mengingatkan umatnya untuk 10 hari terakhir hendaknya diperbanyak ibadah karena hari-hari itu justru akan menentukan kualitas dan keutuhan ibadah Ramadan. Namun,...

Pagi itu aku tertegun membaca pesan singkat dari Buya Syafii Maarif. Pesan itu tertulis, “Ini kerja serius oleh lembaga kecil, tapi efektif dalam mengubah mindset peserta, sekalipun mungkin mereka sudah punya potensi untuk berubah. Nuwun. Maarif”.

Maklum, aku adalah salah satu peserta Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif (SKK-ASM) Angkatan III yang baru selesai pada tanggal 19 Desember 2019 di Depok. Membaca pesan beliau yang ditujukan kepada direktur program riset Maarif Institute, kemudian dibagikan ke grup whatshapp alumni sekolah itu. Jujur, membuatku malu dengan kerja intelektual Buya Syafii Maarif yang tak pernah selesai untuk bangsa ini.

Bayangkan, saat usianya memasuki angka 84 tahun beliau masih mondar-mandir Yogyakarta-Jakarta tiap hari Kamis demi masa depan Indonesia lebih baik. Apalagi jika ada peristiwa politik nasional yang menuntut solusi, pasti wartawan-wartawan berkerumun di kediamannya meminta resolusi.

Padahal, bila kita sedikit sabar saja menunggu pandangan-pandangan beliau tentang kondisi negeri ini. Cukuplah, kita membaca seminggu sekali resonansinya di Harian Republika tiap hari Selasa sambil diskusi. Tentu, hal ini tidak mudah bagi beliau meninggalkan generasi di belakangnya lemah tergerus roda zaman.

Mungkin karena itu pula, beliau pastikan kerja-kerja intelektual yang digagas pendahulu masuk ke relung hati anak manusia. Sebab, siapa lagi peduli menemani kelompok minoritas di ruang demokrasi jika ujaran kebencian dan caci maki menghakimi empati. Bukankah dalam situasi hidup atau mati hanya orang-orang berpikir dan berbuat manusiawi berani mengasihi dan menyayangi. Maka beliaulah sosok di balik kerja-kerja intelektual itu yang memberi sentuhan ideologi, agama, ilmu pengetahuan, dan teknologi dengan nilai-nilai tertinggi untuk masa depan tanah air.

Sekarang, pertanyaannya kenapa Buya Syafii Maarif mesti repot-repot mengingatkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang ingin menghapus Ujian Nasional (UN)? Toh, pakar pendidikan dan guru-guru besar di negeri ini tak kurang mampu memberi masukan kepada Mendikbud yang baru itu untuk membenahi sistem pendidikan.

Kalau bukan urusan mental, apalah daya Buya Syafii Maarif yang harus mendidik pejabat publik mewujudkan tujuan bernegara demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena bagi Buya Syafii Maarif sendiri, pengelolaan pendidikan berbeda dengan manajemen perusahaan start up yang pernah dikelola Nadiem Makarim.

Bahkan tanpa segan sedikitpun, kenapa Presiden Republik Indonesia harus meminta beliau menjadi Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat revisi Undang-Undang (UU) KPK ditolak. Sungguh, bukankah itu berbicara soal etika dan moral publik yang sedang mati suri.

Bisa jadi tidak, jika dari awal para politisi di Senayan itu mematuhi nasihat Buya Syafii Maarif naik kelas menjadi negarawan. Buktinya, pembahasan dan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) apapun itu juga dikerjakan dengan cara sembrono di masa akhir tugasnya sebagai wakil rakyat. Lalu, apakah Buya Syafii Maarif diam begitu saja melihat ulah politisi-politisi tidak naik kelas itu?

Kenyataannya tidak, beliau secara tegas menulis di resonansi harian Republika (01 Oktober 2019) berisi: “Saya harus mengatakan sesuatu tentang DPR yang diujung masa jabatannya seperti kehilangan kewarasan dan kepekaan dalam mengebut penyelesaian perundang-undangan, seperti revisi UUKPK, RKUHP, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, RUU Pertambangan Mineral dan Batubara.

Semua UU ini akan sangat menentukan berhasil atau gagalnya pelaksanaan demokrasi dalam bentuknya yang kongkret untuk kepentingan rakyat banyak”. Dengan membaca kegelisahan intelektual Buya Syafii Maarif inilah, kita dapat meyakini tenaga dan pikiran beliau pasti terkuras habis demi perilaku politisi yang tak ingin naik kelas menjadi negarawan.

Kerja Serius

Kerja intelektual Buya Syafii Maarif yang tak pernah selesai itu dapat kita rasakan juga saat hebohnya pelarangan ucapan hari natal di berbagai daerah. Apalagi menjelang Pilkada serentak 2020, dari beliaulah kita sadari bahwa pengharaman selamat natal bagi umat Kristiani ternyata mengandung unsur politik identitas tak berkesudahan dari segi agama.

Sampai-sampai beliau sendiri mengaku di depan wartawan tiap tahun mengucapkan natal kepada sahabat-sahabatnya tanpa beban. Karena Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur melarang umat Islam mengucapkan natal kepada umat Kristiani yang menjadi heboh seluruh Nusantara.

Bagaimana tidak serius kerja intelektual Buya Syafii Maarif ini coba? Jika pada tahun 2060 jumlah penduduk Muslim mencapai tiga miliar justru menjadi beban sejarah di tengah lautan kemiskinan dan kebodohan yang merajalela. Karena ternyata urusan teologi segala macamnya itu dibawa terlalu serius untuk menghakimi umat lain yang berbeda keyakinan. Sekali lagi mungkin benar, apa yang dikatakan Buya Syafii Maarif ketika menjelaskan khaira umma.

Bahwa khaira umma itu adalah mereka yang berkiblat ke Barat dengan perkembangan ilmu dan teknologinya yang dahsyat itu, sehingga mereka tak punya kekuatan menegakkan yang makruf (kebajikan) dan mencegah yang mungkar (keburukan) dengan iman yang tergoyangkan.

Sekembalinya aku membaca berulang kali pesan singkat Buya Syafii Maarif yang diberikan kepada alumni SKK-ASM III itu. Seketika itu pula aku menyadari ternyata kerja intelektual adalah kerja serius yang tak pernah selesai di penghujung abad. Apalagi dalam ruang pengetahuan yang tidak objektif, netral, dan bebas nilai dari sisa-sisa peradaban masa lalu. Siapa yang ingin bekerja sepenuh hati dan ikhlas dalam kondisi seperti itu?

Bagiku, Buya Syafii Maarif adalah sosoknya yang menuntun pelan-pelan generasi berikutnya untuk berpikir keras dan berhati lembut menyikapi persoalan kemanusiaan yang tak kunjung usai.

Kerja intelektual Buya Syafii Maarif adalah kerja kemanusiaan golongan terpilih yang terdidik untuk membumikan pesan-pesan intelektualnya dalam realisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tak ubah Rabindranath Tagore berdoa kepada pohon “kekuatan kreatif dalam wujud damai”.

Kerja intelektual Buya Syafii Maarif adalah kekuatan kreatif itu di tengah-tengah pemikiran sumbu pendek yang terus dipupuk dalam situasi pecah-belah. Maka, sudah menjadi tanggung jawab kuat anak-anak ideologis Buya Syafii Maarif bekerja serius menjadi umat terbaik menegakkan kebajikan dan mencegah keburukan. Mungkin begitu.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.