Rabu, April 14, 2021

Kereta Api: Transportasi Masa Depan yang Menjanjikan

Puritanisme Islam: Memurnikan Ajaran atau Arabisasi?

Dalam sejarah Islam, gerakan puritan paling tidak muncul ketika Khawarij muncul. Prinsipnya, setelah Nabi Muhammad wafat umat Islam kembali tergantung pada kesukuan, bukan kepada...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Bagaimana Televisi Membentuk Citra Donald Trump?

Belum lama ini, sesosok politisi yang penuh ketidakbiasaan muncul di dunia politik Amerika Serikat. Donald Trump, kader Partai Republik, memenangkan Pemilihan Presiden AS tahun...

Lockdown, Nabi Yusuf dan Ketahanan Pangan

Merebaknya virus corona atau covid-19 dalam beberapa waktu terakhir ini membuat kita sering mendengar istilah lockdown dan karantina wilayah. Lockdown secara harfiah berarti dikunci, atau...
Nevatuhella
NEVATUHELLA, kolumnis kelahiran Medan, 31 Desember 1961. Menamatkan pendidikan sarjana Teknik Kimia di Universitas Sumatera Utara, 1988. Menulis untuk berbagai media massa dan antologi.

Betapa spektakuler dan menakjubkan bila seluruh wilayah Indonesia terhubung sambung-menyambung oleh jalur rel kereta api. Bila ini berlaku, maka ongkos distribusi penyaluran berbagai barang dan komoditas dapat ditekan menjadi lebih rendah. Selain itu kemudahan akses masyarakat untuk berpergian menjadi lebih mudah dan efisien.

Dengan adanya kereta api, otomatis kemacetan akan berkurang. Apalagi bila kereta api dibuat senyaman mungkin, masyarakat akan dengan senang hati lebih memilih kereta api sebagai moda transportasinya. Inilah efek berganda dari pentingnya kehadiran kereta api. Selain mempercepat jalur arus orang-orang, kereta api juga mempercepat arus barang.

Sampai saat ini jasa angkutan darat bernama kereta api ini dapat dikata belum maksimal mengangkut jumlah penumpang dan barang. Target pemerintah di tahun 2019 kereta api akan bisa mengangkut 14 persen penumpang dan 6 persen barang. Ini bisa terealisasi jika tidak ada halangan. Dan optimisme pemerintah karena tiga negara raksasa –Tiongkok, Jepang dan Rusia– memberi perhatian serius untuk bekerja sama membangun perkeretapian nasional.

Saat ini tengah berlangsung mega-proyek pembangunan rel kereta api cepat rute Jakarta–Bandung yang hanya 36 menit saja waktu tempuhnya. Penambahan panjang rel kereta api sampai dengan tahun 2019 diproyeksikan sekitar 6000 km yang tersebar di lima pulau besar Indonesia, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Panjang rel kereta api diseluruh Indonesia saat ini 6300 km. Di Sumatera sendiri akan dibangun kereta api Trans-Sumatra Railways (Aceh–Lampung) sepanjang 1400 km jalur ganda. Untuk tahap pertama, pemerintah menguncurkan dana sebesar Rp 18 triliun untuk pembangunan kereta api nasional.

Kereta api diharapkan akan menjadi tulang punggung transportasi nasional. Hal ini harus disadari semua pihak. Termasuk keinginan daerah-daerah untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan kereta api. Kereta api sangat penting untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di jalur lintas, Aceh-Sumut, misalnya. Kereta api pun bisa menjadi alat meningkatkan arus perdagangan Aceh-Sumut, terutama dalam distribusi barang Aceh-Sumut. Sementara di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, jalur rel kereta api di provinsi itu akan menghubungkan Puruk Cahu di kabupaten Murung Raya menuju Bangkuang di Kabupaten Barito Selatan dan sampai ke Batanjung di Kabupaten Kapuas. Selain untuk transportasi umum, jalur ini juga untuk memudahkan distribusi batubara dari tambang ke pelabuhan.

Sementara itu di Papua Barat, pemerintah akan memulai studi kelayakan pembangunan kereta api tahun ini untuk jalur Sorong-Manokwari sepanjang 390 km. Setelah itu akan akan dilakukan desain detail hingga konstruksi dan diharapkan bisa selesai tahun 2019. Sementara Pemprov Papua memprioritaskan pembukaan jalur kereta api dari Sentani menuju kota Jayapura sepanjang 45 km.

Papua selama ini memang belum mempunyai rel kereta api barang semeter pun, sebab sudah kita maklumi bahwa Belanda di tahun-tahun pertama memulai pembangunan rel kereta api (1864) memfokuskan hanya pulau Jawa yang menjadi prioritas, dan sesudahnya pulau Sumatera. Makanya dalam rangka pembanguan perkeretaapian nasional ini, pulau Jawa hanya membangun jalu-jalur pendek saja yang menghubungkan daerah utara dan selatan. Sebab lintasan jalur tengah pulau Jawa mulai Banten sampai Banyuwangi sudah ada jalur kereta apinya.

Andai terealisasi pembanguan kereta api Trans-Sumatera yang merupakan rel terpanjang di Nusantara, maka bepergian dengan kereta api dari Aceh hingga Lampung menjadi perjalanan yang menyenangkan. Ketergantungan pada transportasi darat selama ini yang dirasa kurang efisien dapat teratasi. Dengan kendaraan bermotor, karena jauhnya jarak tempuh, selalu membuat penumpang ataupun pengguna mobil pribadi mengalami kelelahan dan ketidaknyamanan. Hal ini mengurangi minat pecandu perjalanan berkurang. Andai ke Padang atau ke Palembang bisa dengan naik kereta api, maka jumlah pelancong ke daerah ini akan bertambah. Untuk siswa-siswa di sekolah menengah dan lanjutan atas atau para mahasiswa, hal ini menjadi pengalaman dan menambah secara signifikan wawasan geografi. Termasuk juga perjalanan ke Aceh yang merupakan kota tujuan wisata yang menjanjikan.

Salah satu faktor yang menarik perhatian pemerintah pusat untuk mengembangkan perkeretaapian adalah setelah dalam beberapa tahun terakhir ini pelayanaan kereta api terus menerus dibenahi. Termasuk pelayanan kereta api Sumatera Utara yang makin menarik minat pelancong dan perjalanan rutin. Jadwal keberangkatan dan kedatangan tepat waktu. Pelayanan kebersihan dalam kereta api dan fasilitas di stasiun yang bersih dan tidak ada lagi calo tiket seperti yang terjadi berpuluh-puluh tahun lamanya.

Kini, kereta api jalur Medan-Bandara Kualanamu lebih dua tahun beroperasi dan setiap semester ada saja pertambahan jadwal. Walau harga tiket naik lebih dari seratus persen seperti yang terjadi untuk tiket Medan-Tanjungbalai, tetap saja peminat perjalanan dengan kereta api meningkat terus-menerus. Kereta api, sampai kapan pun menjadi angkutan massal yang murah dan efisien. Termasuk mengurangi kemacetan kota yang sudah sesak macet oleh tidak seimbangnya jumlah kendaraan dengan panjang dan lebar ruas jalan yang ada.

“Naik kereta api…tut, tut, tut, siapa hendak turut. Ke Bandung, Surabaya. Ayolah naik dengan percuma!”

Nevatuhella
NEVATUHELLA, kolumnis kelahiran Medan, 31 Desember 1961. Menamatkan pendidikan sarjana Teknik Kimia di Universitas Sumatera Utara, 1988. Menulis untuk berbagai media massa dan antologi.
Berita sebelumnyaBasa-Basi
Berita berikutnyaMemahami Isu-Isu Keagamaan dengan Filsafat
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.