OUR NETWORK

Kepentingan Publik dalam Perang Dagang AS-Tiongkok

Setiap perubahan menimbulkan kecurigaan dan ketakutan yang kadang-kadang memang beralasan atau bahkan perubahan positif pun bisa berakibat buruk.

Johan Norberg percaya bahwa, untuk melindungi hak individu, demokrasi perwakilan itu lebih baik dari pada sistem-sistem lainnya. Kenyataannya, masyarakat industri modern yang dulu sempat dicurigai memang memungkinkan terciptanya standar hidup yang hebat dan kebebasan yang luas. Kendati begitu, pendambaan agar manusia dapat bebas tanpa sorang pun menekan orang lain.

Itu sebabnya globalisasi, proses di mana manusia, informasi, perdagangan, investasi, demokrasi, dan ekonomi pasar cenderung semakin melampaui batas-batas nasional. Internasionalisasi semakin membebaskan kita dari batas-batas ciptaan pembuat peta. Alih-alih justru para politisi yang pragmatislah yang, atas kesadaran mereka bahwa pemerintahan mereka yelah bertindak terlalu jauh dalam hal pengontrolan.

Tuduhan tentang dominasi kekuasaan liberal-kapitalis di dunia juga dikontraskan dengan kenyataan bahwa pertumbuhan sektor publik kita tidak pernah sebesar dan beban pajak tidak pernah setinggi yang pernah terjadi di dunia dewasa ini.

Ketika berbicara tentang kapitalisme, yang muncul di benak adalah kebebasan kapitalistik untuk melangkah maju melalui proses coba-coba, tanpa harus izin terlebih dahulu kepada para penguasa dan penjaga perbatasan. Kebebasan di sini bukan semena-mena bertindak, namun tetap berada di bawah kontrol undang-undang yang memastikan bahwa kebebasan yang dimiliki tidak melanggar kebebasan orang lain.

Kapitalisme bukanlah sistem ekonomi yang secara khusus mengatur kepemilikan modal dan peluang investasi, sebab hal-hal tersebut juga dapat dijumpai dalam ekonomi pasar liberal, dengan persaingan bebas berdasarkan hak, di mana orang dapat menggunakan hak milik dan memiliki kebebasan untuk bernegoisasi, membuat perjanjian, dan memulai aktivitas bisnis. Para kapitalis menjadi berbahaya ketika mereka mencari keuntungan melalui kompetisi yang berkongsi dengan pemerintah.

Perdagangan bebas itu adil

Oleh karena itu, yang harus kita miliki adalah “ekonomi pasar, bukan “masyarakat pasar”. Hal itu bukanlah menggantikan semua relasi manusia dngan transaksi ekonomi, melainkan kebebasan dan relasi sukarela di semua bidang. Di perdagangan bebas, menghasilkan produk untuk orang lain adalah menghasilkan produk bagi diri sendiri. Dengan menghasilkan produk unggulan sesuai dengan kemampuan terbaik dan kemudian mengekspor hasilnya, kita dapat mengimpor komoditas yang kita butuhkan. Banyak orang menilai bahwa ekspor ke negara lain merupakan hal baik, sedngkan impor dari negara lain hal buruk.

Perdagangan bukanlah semacam permainan zero-sum, atau kalah-menang, di mana kemenangan bagi satu pihak merupakan kemenangan bagi pihak lain. Justru sebaliknya berlaku: tidak akan terjadi ada pertukaran jika kedua belah pihak merasa tidak akan memeroleh keuntungan. Tolak ukur yang benar-benar menarik bukanlah “neraca perdagangan” melainkan jumlah perdagangan, karena baik ekspor maupun impor sama-sama merupakan keuntungan.

Kenyataannya, kita menjadi paling kaya dengan mengekspor produk unggulan terbaik kita, agar dapat mengimpor barang lain yang jika kita buat sendiri, secara relatif bukan capaian terbaik. Kita dapat mengumpulkan setumpuk uang dari hasil penjualan, tetapi standar hidup kita tidak akan naik hingga kita menggunakan uang tersebut untuk membeli barang-barang tidak akan kita miliki jika tidak beli. Akan tetapi masi banyak masyarakat yang masih menghawatirkan hal tersebut, meskipun perdagangan bebas sudah ada naungan WTO (world trade organization).

WTO juga menawarkan janji berupa manfaat kedua, yang bahkan lebih besar: pemberlakuan kode aturan yang tidak memihak untuk memastikan penghormatan semua negara terhadap kesepakatan yang dibuat. Keuntungan lainnya adalah semua anggota bersepakat untuk menganugerahkan “bangsa yang paling disukai” yaitu semacam pemberian akses otomatis terhadap pengurangan semua tarif bagi negara lain.

Inilah Kapitalisme

Pertumbuhan kemakmuran dunia bukanlah suatu “mukjizat” atau istilah apapun yang biasa kita gunakan untuk menyebut keberhasilan suatu negara di bidang ekonomi dan sosial. Sekolah tidak didirikan oleh nasib mujur. Begitu pula dengan penghasilan; kita tidak mendapatkannya ibarat memeroleh durian runtuh. Hal-hal semacam ini terjadi ketika orang mulai memikirkan cara-cara baru dan berusaha keras untuk mewujudkan gagasan-gagasannya.

Namun, hal tersebut telah dilakukan orang di mana-mana, dan tidak ada alasan untuk menganggap bahwa orang-orang tertentu di suatu tempat dan kurun tertentu secara intrinsik lebih pintar dan lebih mampu dari pada orang-orang lain. Itu tergantung pada apakah orang dapat bebas menjelajahi jalan di depannya, memiliki harta benda, menanamkan modal untuk jangka panjang, mengatur dan mengesahkan perjanjian bisnis, dan berdagang dengan pihak lain.

Singkatnya, itu bergantung pada apakah negara tersebut menerapkan kapitalisme atau tidak. Di bagian dunia yang makmur selama beberapa abad kita telah menerapkan kapitalisme dalam satu bentuk atau yang lainnya.

Kapitalisme berarti tidak ada seorang pun menjadi korban dari koersi orang lain. Satu-satunya cara menjadi kaya di pasar bebas adalah dengan memberi orang lain sesuatu yang dihasratinya, sesuatu yang untuk itu orang tersebut bersedia membayar sukarela. Kedua belah pihak dalam pertukaran bebas harus sepakat bhawa masing-masing akan mendapatkan keuntungan dari peristiwa tersebut; jika tidk demikian, tidak akan terjadi kesepakatan.

Semakin besar pendapatan sesorang di ekonomi pasar, semakin besar yang telah dilakukannya dalam menawarkan apa yang dibutuhkan orang lain. Sebenarnya, para kapitalisme adalah pelayan bagi kita.

Setiap perubahan menimbulkan kecurigaan dan ketakutan yang kadang-kadang memang beralasan atau bahkan perubahan positif pun bisa berakibat buruk. Para pengambil keputusan tidak suka memikul tanggung jawab atas kegagalan dan masalah. Dan karena menyalahkan orang lain itu lebih enak, globalisasi sangat cocok sebagai kambing hitam. Maka tergantung kita bagaimana kita menyikapi dan menghadapinya, mau bebas atau ngikut pemerintah.

Blogger Partikelir, Alumni di UIN Walisongo Semarang Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…