OUR NETWORK

Kepemimpinan Perempuan di Masa Kini

Isu kesenjangan gender merupakan isu yang sangat kompleks dan tidak pernah selesai dianggap sebagai masalah. Hingga saat ini perbedaan kedudukan perempuan dan laki-laki masih dapat ditemukan, tidak terkecuali dalam pemerintahan, dan juga di lembaga-lembaga swasta. Terlebih dalam hal kepemimpinan, perempuan masih berada dibawah jumlah laki-laki yang berperan sebagai pemimpin. Hal ini terbukti dengan Indeks Kesenjangan Gender (IKG) yang diliput media cetak Kompas tanggal 31 agustus 2017 menunjukan bahwa Indonesia berada pada peringkat 105 dari 188 negara di dunia. Peringkat tersebut salah satunya dinilai dari jumlah perempuan di kursi di parlemen, dan partisipasi angkatan kerja secara formal maupun informal masih sangat sedikit.

Fakta lain menunjukan bahwa jumlah perempuan sebagai pemimpin dalam birokrasi masih sangat rendah. Sebagai contoh pada tahun 2017 di Kabupaten Lamongan Provinsi Jawa Timur terdapat 35 orang kepala desa perempuan dari 462 Desa. Dengan demikian, jumlah kepala desa perempuan hanya 8%. Budaya patriarkhi masih kental dalam masyarakat indonesia. Perempuan hanya diperbolehkan memainkan peran domestik seperti urusan dalam internal rumah tangga. [1]

Kondisi seperti diatas ternyata tidak hanya ditemukan di daerah pedesaan, namun juga terjadi di daerah perkotaan. Ditingkat kelurahan yang merupakan level terendah pemerintahan di daerah perkotaan seperti di DKI, jumlah perempuan juga sedikit. Data menunjukan bahwa jumlah Lurah perempuan di Provinsi DKI dari seluruh jumlah Lurah 267 menunjukan angka 20%, yang artinya bahwa masih rendah dibandingkan dengan jumlah Lurah laki-laki yang berjumlah 80%. [2] 

Pembedaan fungsi dan peran antara laki-laki dan perempuan tidak ditentukan karena keduanya terdapat perbedaan biologis atau kodrat, melainkan dibedakan menurut kedudukan, fungsi, dan peranan masing-masing dalam kehidupan sosial budaya. Perbedaan itu disebut gender, yang dapat diartikan secara umum sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai tingkah laku. Aspek yang membedakan perempuan dan laki-laki tersebut seringkali menjadi patokan masyarakat dalam menentukan pemimpinnya.

Belajar dari Tokoh Perempuan Desa

Temuan dari penelitian Inovasi Untuk Mewujudkan Desa Unggul dan Berkelanjutan tahun 2017 oleh Tim Peneliti Universitas Katolik Parahyangan Bandung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan Lokus Penelitian di Desa Buluh Duri, Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukan bahwa keberhasilan pemimpin kepala desa perempuan terletak pada gaya kepemimpinan yang mampu memberdayakan masyarakat. Dalam penelitian ini, gaya kepemimpinan ibu Dewi Purba selaku Kepala desa perempuan yang menjabat sejak 2007 sampai sekarang menunjukan gaya kepemimpinan yang demokratis dengan pendekatan  situasional untuk bisa membentuk masyarakat yang maju, mandiri, berpartisipasi, dan sejahtera melalui pemanfaatan sumber daya alam lokal dan kerjasama antar lembaga lain sebagai peluang untuk mewujudkan inovasi pembangunan.

Selanjutnya dari penelitian yang sama, dengan lokus penelitian disebuah desa pesisir Kabupaten Bone, Kecamatan Awangpone, yakni Desa Mallari. Desa ini dipimpin oleh seorang kepala desa perempuan pertama yang terpilih karena politik dinasti, yakni ibu Andi Wahyuni. Walaupun demikian,  beliau memiliki pendekatan yang baik dengan masyarakat lewat blusukan ke rumah-rumah warga untuk mengetahui gambaran nyata mengenai kondisi kehidupan masyarakat. Selain pendekatan yang baik dengan masyarakat, kepala desa perempuan tersebut berorientasi pada isu-isu inklusif dalam kepemimpinannya.

Dari temuan diatas membuktikan bahwa “atribut natural perempuan yang sensitif, intuitif, empati, suka merawat, mampu bekerjasama, dan mengakomodasi dapat menjadikan proses-proses organisasi menjadi efektif (Growe, 1999)”. Dan sekaligus menunjukan kepada kita bahwa perempuan dalam kepemimpinanya mampu mencapai prestasi yang lebih berhasil ataupun gemilang dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Hal tersebut misalnya disebabkan adanya dukungan kemampuan dalam hal pendidikan, pengalaman berorganisasi dan motivasi dari kaum perempuan itu sendiri.

Barangkali isu tentang perempuan hari-hari ini sudah tidak hangat diperbincangkan, akan tetapi perlu kita ketahui bahwa disekeliling kita acap kali muncul perbedaan perspektif tentang perempuan dalam kepemimpinannya.

Semoga dengan tulisan ini kita semakin diantarkan pada cara pandang keadilan dan kesetaraan bagi siapapun.

 

[1] Data diolah berdasarkan sumber yang diperoleh dari website pemerintah setempat http://lamongankab.go.id/bag-pemdes/2017/01/18/1458/; diakses pada tanggal 07 November 2017 Pukul 13.13 WIB

[2] Data diolah berdasarkan sumber yang diperoleh dari website pemerintah setempat http://data.jakarta.go.id/dataset/data-lurah-di-lingkungan-pemerintah-provinsi-dki-jakarta,,,,,, diakses pada tanggal 07 November 2017 Pukul 14.50 WIB

tulis supaya diingat-ingat

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…