OUR NETWORK

Keniscayaan ala Maman dan Moral Ekonomi Petani

Dengan sadar Maman mendukung pembangunan NYIA adalah bagian dari kerja-kerja penciptaan peradaban yang lebih manusiawi, namun tanpa sadar merendahkan kebijakan pembangunan pemerintah sebagai mobil tronton yang remnya jeblok.

Beberapa hari yang lalu, salah seorang kawan facebook share salah satu artikel yang di muat oleh geotimes yang ditulis oleh Maman Suratman dengan judul “Konsep Hijrah Cak Nun dan Mistifikasi a la Fayyadl.

Tulisan tersebut kurang lebih merupakan kritik penulis terhadap Fayyadl (tulisan Fayyadl bisa dilihat di sini) yang mengkritik keberpihakan Cak Nun yang dianggap melegitimasi penggusuran melalui instrumen agama  terhadap mereka yang terdampak pembangunan NYIA di Kulon Progo yang selanjutnya dinilai oleh Fayyadl sebagai mistifikasi agama.


Jika dilihat dari judul tulisan, saya berharap tulisan tersebut berisi tentang analisis kritis penulis tentang konsep hijrah, atau mungkin berisi kritik bernas tentang kerja-kerja ideologis melalui mistifikasi agama yang dijelaskan oleh Fayyadl. Namun sayang, tulisan tersebut hanya berisi beberapa kutipan yang kemudian dikomentari satu persatu oleh penulis yang berujung pada penilaian bahwa Fayyadl tak ubah seperti maling teriak maling.

Lima belas paragraf pertama tulisan Maman hanya berisi deskripsi tanpa penilaian. Barulah di sebelas paragraf terakhir Maman memulai kritiknya dengan nada yang tendensius. Meskipun maman menolak pemindahan secara paksa, namun pada akhirnya ia menegaskan bahwa proyek pembangunan NYIA adalah keniscayaan. Bahkan ia menganalogikan pembangunan tersebut ibarat mobil tronton yang remnya jeblok dan tak bisa dihentikan.

Saya tidak akan mengomentari kenapa Maman begitu niat mengkritk Fayyadl. Bagi saya, kritik tersebut merupakan ekspresi ideologi liberal yang menjadi pandangan hidup Maman Suratman sebagai salah-satu penulis yang pro-kapitalisme terutama dalam konteks kebijakan infrastruktur Jokowi. Kendati demikian, ada dua hal yang harus saya komentari.

Pertama, pada satu bagian dalam tulisannya, Maman menuliskan, “yang terdampak pun harus benar-benar menyadari bahwa efek perpindah-dirian mereka adalah juga kerja-kerja penciptaan peradaban—tak kalah manusiawinya juga.” Menurut saya, kalimat tersebut kontradiksi dengan analogi mobil tronton yang remnya jeblok. Kenapa demikian?

Coba  bayangkan! Pada bagian mana momen rem jeblok di jalan yang dapat dianalogikan sebagai penciptaan peradaban dalam konteks pembangunan NYIA? bukankah rem jeblok justru menunjukkan kecerobahan, kekeliruan, atau kerusakan, yang dapat menyebabkan kecelakan bahkan kematian di jalan? Analogi rem jeblok justru lebih tepat digunakan untuk menggambarkan suatu kebijakan yang dibuat secara serampangan dan membabibuta.

Dengan sadar Maman mendukung pembangunan NYIA adalah bagian dari kerja-kerja penciptaan peradaban yang lebih manusiawi, namun tanpa sadar merendahkan kebijakan pembangunan pemerintah sebagai mobil tronton yang remnya jeblok. Saya paham, melalui pengandaian itu, Maman berusaha meyakinkan pembaca bahwa, pembangunan NYIA adalah suatu keniscayaan. Meskipun gagal, setidaknya Maman telah berusaha.

Kedua, pernyataan Maman bahwa “pembangunan NYIA adalah keniscayaan”. Benar, itu adalah keniscayaan, keniscayaan yang hanya berlaku bagi mereka yang pro terhadap pembangunan NYIA, termasuk Maman sendiri. Keniscayaan yang berlindung di balik ketidaktahuan bahwa, para petani memperjuangkan tanahnya adalah manifestasi dari keniscayaan lain yang berada pada kutub berlawanan dari apa yang diyakini oleh Maman, yang oleh James C. Scott sebut dengan “moral ekonomi petani”. Sulitlah kiranya Maman untuk memahami apa yang disebut terakhir itu sebab ia tidak pernah mengalaminya.

Moral Ekonomi Petani sebagai Suatu Keniscayaan

Dalam konteks pembangunan NYIA di Kulon Progo, menurut hemat saya, ada masalah pradigmatis yang memperlihatkan suatu fenomena pemerintahan yang mungkin pantas disebut dengan “keangkuhan teknokratis”. Fenomena tersebut berdiri di atas asumsi bahwa, “pemerintah lebih paham apa yang diinginkan oleh rakyat”.

Masalah pradigmatis lainnya terletak pada kondisi apa yang disebut oleh James C. Scott sebagai “etika subsisten”. Dalam konteks pertanian misalnya, etika subsisten terwujud melalui pranata-pranata sosial yang menjadi standar dalam mengelola penghidupan petani yang terkonstruk melalui pengalaman-pengalaman seperti cara menanam, penetapan waktu panen, perkara memilih bibit, tradisi gotong royong, dan bahkan pemilikan tanah secara komunal.


Etika subsiten membentuk moral ekonomi masyarakat yang hidup bergantung pada fasilitas yang disediakan oleh alam. James C. Scott mengatakan, “ jika kita dapat memahami perasaan gusar dan amarah yang telah mendorong mereka untuk mempertaruhkan segala-galanya, maka kita akan dapat menyelami makna dari apa yang ingin saya namakan moral ekonomi mereka: pengertian mereka tentang keadilan ekonomi dan definisi kerja mereka tentang eksploitasi—pandangan mereka tentang pungutan-pungutan terhadap hasil produksi mereka mana yang dapat ditolerir dan mana yang tidak dapat.”[1]

Perjuangan petani Kendeng untuk mepertahankan sumber penghidupannya dari ancaman pembangunan pabrik semen, perjuangan petani temon Kulon Progo untuk mempertahankan tanah produktifnya dari penggusuran proyek pembangunan bandara, perjuangan forum rakyat Banyuwangi untuk menolak tambang emas Tumpang Pitu, perjuangan petani Surokonto Wetan untuk mempertahankan tanahnya yang telah diklaim oleh Perhutani, sebenarnya adalah suatu bentuk amarah sebagai reaksi terhadap suatu ancaman yang mengancam etika subsisten mereka sebagaimana yang dijelaskan oleh Scott.

Keangkuhan teknokratis pemerintah yang terwujud dalam kebijakan infrastruktur pemerintah menghantam seluruh etika subsisten masyarakat yang mempertahankan hidupnya sehari-hari dari hasil metabolisme alam. Hal tersebut seiring apa yang dikatakan oleh Engles dalam menggambarkan kondisi masyarakat kelas, “..tiap langkah kemajuan dibarengi dengan langkah kemunduran, di mana kemakmuran dan kemajuan beberapa orang diperoleh melalui kesengsaraan dan frustasi sejumlah besar yang lain.”[2]

Apa yang dikatakan Engels secara tak langsung menyindir mereka yang menyatakan bahwa pembangunan NYIA adalah suatu keniscayaan. Suatu keniscayaan a la borjuasi yang diaminkan oleh Maman sebagai penciptaan peradaban yang lebih manusiawi. Tak ayal, keniscayaan itu membentur keniscayaan lain yaitu moral ekonomi petani yang berjuang mempertahankan etika subsisten mereka.

Dua keniscayaan yang saling merasuki itu adalah konsekuensi logis dari hukum dialektis dalam masyarakat kelas. Keniscayaan a la Maman adalah representasi dari langkah kemajuan a la borjuasi yang sialnya diperoleh melalui kesengsaraan sejumlah besar yang lain.  Di balik apa yang Maman sebut dengan kerja-kerja penciptaan peradaban yang manusiawi itu, ada laku dehumanistik tangan besi yang dilindungi oleh kekuatan modal.

Di balik yang mereka (pro-pembangunan) sebut dengan kekolotan ketika melihat perlawanan kaum yang tersingkir akibat proyek pembangunan, ada kehidupan yang nyaris lepas dari garis batasnya, yaitu perjuangan mempertahankan moral ekonomi mereka yang mereka yakini sebagai suatu keniscayaan. Keniscayaan yang mungkin tidak akan dirasakan oleh orang-orang seperti Maman.

Referensi

[1] James C Scott. 1976, Moral Ekonomi Petani, Jakarta: LP3ES. Hlm 5.

[2] Frederick Engles, 2004, Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi, dan Negara, Jakarta: Kalyanamitra. hlm 75.

Mahasiswa Unair asal Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…