Jumat, Maret 5, 2021

Kenapa Kita Makan Nasi?

Musim Semi Persekusi

Sulit kiranya membayangkan demokrasi kita lepas dari bayang-bayang kebencian. Nalar demokrasi para politisi sudah kadung kalap dan cenderung ugal-ugalan. Konkritnya, bisa dilihat dari menjamurnya...

#2019GantiPresiden, Propaganda Politik Pilpres 2019

Pemasangan spanduk bertuliskan tagar #2019GantiPresiden di Masjid al-Amin, Jalan Serdang Medan, Sumatera Utara, pada tanggal, 18 April 2018 kemarin (Promol.co) merupakan kelanjutan dari kegaduhan...

Corona Mengintai, Polisi Beraksi

Beberapa hari terakhir, arus media dipenuhi oleh pemberitaan tentang virus corona (Covid-19). Semua hal yang berkaitan dengan virus corona tidak luput dari radar media,...

Melawan Narasi Politik Kebohongan (Bagian 2)

  Sebelumnya sila klik di sini untuk membaca tulisan bagian pertama. Pada pertengahan Maret 2018 yang lalu, dunia dihebohkan oleh pengakuan Christopher Wylie atas pencurian 87...
Mochammad Jibril
Anak yang suka diam di kamar.

Aromanya selalu hadir di pagi hari dari tiap-tiap dapur rumah. Kehadirannya yang lekat di ranah domestik pula publik membuatnya menjadi barang wajib bagi kehidupan orang Indonesia. Ia tak hanya ada sebagai pengisi perut, namun telah menjadi identitas yang hidup di ruang bawah sadar yang membuat kita sepakat untuk “belum makan jika tanpa nasi”.

Kebiasaan masyarakat Indonesia yang satu ini diabadikan oleh titel Swasembada Pangan di era Orde Baru. Sebanyak kurang lebih 160 juta warga pada saat itu keranjingan memproduksi beras yang dapat mengantarkan negara ini menyandang gelar lumbung padi Asia pada tahun 1985. Soeharto adalah sosok dibalik pemberangusan konsep negara maritim untuk kemudian menjadi negara agrarian, dengan pongahnya ia mencanangkan program penanaman padi besar-besaran, tanpanya mungkin warga Indonesia tidak segila sekarang terhadap nasi.

Apabila ditelisik lebih lanjut, rupanya ambisi Soeharto juga diamini oleh narasi-narasi kuno yang mengultuskan nasi tidak hanya sebagai alat bertahan hidup. Tercatat bahwa di zaman Sultan Agung abad ke-8, warga Desa Klaten diwajibkan untuk membayar upeti berupa beras untuk kepentingan istana.

Terdapat pula legenda Batara Guru dan Dewi Sri yang dilambangkan sebagai keberkahan alam, kesuburan, dan ketersediaan pangan bagi manusia.  Perihal ini kemudian juga hadir di zaman Romusha, keberadaan negeri matahari terbit di Indonesia sangat signifikan karena beras memiliki nilai yang digunakan sebagai ukuran pangkat Samurai.

Hal ini juga bisa dihubungkan dengan kemiskinan, utamanya pada saat itu memang bertepatan dengan momen Perang Dunia II, waktu di mana akses makanan sangat terbatas yang mendorong masyarakat untuk menyajikan hidangan praktis yang terdiri atas nasi dan lauk tahu-tempe. Bahkan, sampai muncul pepatah tentang nasi dan garam atas gambaran betapa sengsaranya keadaan di kala itu.

Konteks historis dan antropologis yang kompleks tersebut lantas mengubah nasi tak melulu sebagai urusan perut.

Dekonstruksi Perut

Saat permintaan terhadap nasi tidak terkontrol, lahan yang kerap digunakan sebagai kultivasi padi menjadi berkurang karena urbanisasi dan peningkatan penduduk. Statistik memperkirakan bahwa produksi beras musti ditingkatkan sebesar 70 persen dalam 30 tahun ke depan agar seimbang dengan ledakan populasi yang meningkat hingga 58 persen sebelum 2025.

Masalah lain yang timbul adalah lahan padi di daerah pesisir dan hilir sungai tengah terancam karena naiknya permukaan air laut akibat pemanasan global. Naiknya permukaan air tersebut lalu diperparah dengan penggunaan peptisida di lahan pesisir yang justru memperparah pencemaran lingkungan.

Mungkinkah dalam porsi makan 3 kali sehari kita mengganti nasi sebagai hidangan wajib? Indonesia memproduksi setidaknya 66 diversitas karbohidrat alami seperti jagung, sagu, singkong, kentang dan lain sebagainya yang sangat mungkin untuk menggantikan nasi di meja makan.

Beberapa tahun silam, upaya SBY mengajak warga Indonesia untuk makan ubi adalah hal yang sia-sia karena nasi telah melekat di hidup kita melebihi bahan pangan lain yang tersedia. Alhasil, di tengah krisis pangan yang melanda hingga sekarang kita-pun tak ragu untuk mengimpor beras.

Persoalan ini kemudian kian meluas hingga ke faktor agrikultur dan perekonomian bangsa. Konyol sekali ketika budaya makan nasi seolah menjadi kepercayaan yang cara kerjanya tak jauh berbeda dengan mitos kebanyakan. Haram hukumnya jika dalam sehari tak makan nasi.

Padahal tidak termaktub di undang-undang pula sumpah pemuda bahwa rakyat Indonesia harus makan nasi, namun proses Ijab Kabul yang terjadi di perut manusia Indonesia lantas mengesahkan nasi sebagai makanan pokok. Perut memang sangat sulit untuk diajak berkompromi, terlebih ketika bayi-bayi yang lahir di sini juga langsung dicekoki nasi saat mereka baru tumbuh gigi.

Propaganda Anti-Nasi

Tentu tidak ada kata terlambat untuk medekonstruksi perut agar tidak didominasi oleh konsumsi nasi yang berlebih. Karena penduduk Indonesia terus meningkat, berarti mulut yang harus diberi makan di masa depan juga bertambah. Ketergantungan kita terhadap nasi dapat menjadi bumerang. Bangsa ini terlalu manja dalam bertahan hidup, padahal jumlah koki andal juga sangat banyak yang bisa dijadikan harapan guna mengubah perspektif bahan pangan non-beras untuk menjadi hidangan pokok yang sedap.

Gerai fast-food rupanya juga bisa mempelopori hal ini, mereka kudu kembali ke pada fitrahnya sebagai restoran yang memang tidak menyediakan nasi. Teknik marketing lokalisasi perlu diharamkan. Seperti halnya mereka mempromosikan kampanye anti sedotan. Karena fast-food punya pasar masif yang tidak mungkin protes atas makanan yang disajikan, sederhana saja, warga Indonesia masih suka ayam goreng tepung walau tanpa nasi.

Pemerintah sebagai pihak yang berotoritas harus bisa menghimbau warga untuk meragamkan pola makan kepada generasi yang baru lahir. Bersama dengan jajaran lembaga yang berkewajiban, pemerintah kudu mengembangkan lebih banyak varietas nasi yang berkelanjutan dan terus meningkatkan strategi manajemen nutrisi non-beras. Jika mereka tak berhasil, sepertinya kita perlu mencipta folklore baru sebagai anti-tesis Dewi Sri yang berbicara tentang kesuburan.

Pengejawantahan suatu Dewi yang berbicara tentang merosotnya hasil pangan. Sosok anyar selain Susi yang senantiasa mengajak makan ikan, sesosok Susi yang mengajak untuk makan singkong, misalnya.

Mochammad Jibril
Anak yang suka diam di kamar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.