Senin, Oktober 26, 2020

Kenapa Jokowi Lebih Memilih Ma’ruf Amin Sebagai Cawapresnya?

Etos Sosial Landasan Gerakan Muhammadiyah: Refleksi Milad ke 106

Etos, menurut pengertian sosiologis tertentu, adalah “sekumpulan ciri-ciri budaya, yang dengannya suatu kelompok membedakan dirinya dan menunjukan jati dirinya yang berbeda dengan kelompok-kelompok lain”. Definisi...

Dilema Kemacetan di Ibu Kota

Asraf, bocah berusia 6 tahun melontarkan pernyataan yang mengagetkan "ah nang Jakarta rasah tuku mobil, nek kakean mobil marai macet, mending numpak KRL opo...

Jangan Salahkan Arek Suroboyo Hadang Prabowo

Kedatangan calon Presiden nomor urut 02 Selasa, 19 April lalu, di Tambak Beras Surabaya. Mendapat sambutan kurang simpatik. Tidak hanya dengan yel-yel, masyarakat sekitar...

Disleksia Informasi di Tengah Pandemi

Perkembangan teknologi yang sudah tak terbendung bukan hal yang tabu bagi semua orang saat ini. Penerimaan informasi dari segala sumber mudah didapatkan melalui berbagai...
daffa ardhan
Blogger dan Mahasiswa Ilmu Politik. Banyak tahu tapi tidak tahu banyak~ | www.DaffaArdhan.com

Secara integritas mungkin Mahfud MD lebih mumpuni. Segudang prestasi beliau yang sudah pernah meduduki jabatan politik pada 3 pilar demokrasi dari mulai eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Itu sudah lebih dari cukup untuk mendukuki kursi cawapres.

Tentu keputusan yang mengejutkan ketika pihak GNPF dan 212 sedang bersusah payah mengajukan kaum agamis seperti UAS lewat Ijtima Ulama, namun pihak Jokowi justru jauh lebih dulu mengusung ulama besar sekelas Ma’ruf Amin yang dihormati oleh berbagai kalangan maupun ormas islam.

Sikap skeptis Jokowi untuk memilih Mahfud MD memang disinyalir pada pertimbangan dukungan massa yang lebih besar. Harapannya Jokowi bisa merangkul massa dari kalangan NU dan merontokan tuduhan anti-ulama.

Menjadi wajar jika integritas Mahfud MD selama ini tidak menjadi pertimbangan  yang menjual bagi Jokowi untuk berada pada titik aman. Karena merebut kemenangan dalam kontestasi politik apalagi dalam skala nasional integritas saja tidak cukup.

Bahkan tidak menapik bahwa kemenangan sesungguhkan diletakan pada elektabilitas dan citra positif di mata masyarakat sehingga sebaik apapun kinerja seseorang di birokrasi tidak akan menjamin kemenangan dalam perolehan jabatan.

Itu terbukti dari seorang Ahok yang kinerjanya diakui setingkat nasional saja bisa kalah dengan lawannya yang lebih banyak meraup dukungan berdasarkan politik identitas dan emosional agama.

Tentu pertimbangan Jokowi dalam memilih cawapres sangatlah kompleks. Selain menimbang-nimbang persetujuan dari partai pendukungnya, Jokowi sudah harus segera mematahkan anggapan ‘anti-islam’ yang sering disematkan padanya. Ditambah lagi isu SARA masih sering dimainkan oleh orang-orang yang ingin menjatuhkannya.

Perjuangan Jokowi selama ini dari seringnya kunjungan terhadap ulama, mengakomodir janji kampanye dan kepentingan santri sampai ‘merekrut’ dukungan dari kalangan pro islam seperti Ngabalin dan TGB ternyata masih dianggap belum cukup. Terpilihnya Ma’ruf Amin dalam menit-menit terakhir menjadi semacam senjata terakhir Jokowi untuk memecahkan tuduhan dari kaum intoleran.

Ma ruf Amin meski track recordnya dalam politik tak segemilang Mahfud MD tetapi pertimbangan untuk menaiki citra positif Jokowi di mata masyarakat muslim indonesia harus lebih didahulukan. Sebab bila berkaca pada Pilgub DKI lalu, sentimen agama selalu memenangkan hati masyarakat dibandingkan hasil kerja petahana.

Namun bukan berarti Jokowi  mengesampingkan integritas seorang Mahfud MD. Ini hanya metode Jokowi untuk membuka pintu kemenangan kemudian ketika pintu itu telah terbuka, orang-orang baik yang beritegritas bisa melenggang masuk dengan lebih mudah.

Bisa jadi jika Jokowi kembali terpilih lagi untuk periode ke 2, Mahfud MD akan dilibatkan dalam jabatan di pemerintahan seperti menteri atau sejajarnya. Hal ini sangat beralasan karena jabatan tersebut lebih didasarkan pada kepentingan integritas dan pengalaman tanpa harus memikirkan elektabilitas dan dukungan massa.

Meski nanti tetap ada sedikit  pertimbangan ‘bagi bagi jatah’ menteri untuk mengakomodasi parpol pendukung agar tidak menganggu roda pemerintahan. Terlebih lagi jika seorang Mahfud MD menjadi menteri, dia bisa punya wewenang yang besar dan terfokus kinerjanya daripada sekedar wakil presiden yang posisinya jarang terlihat dibandingkan presidennya sendiri.

Seperti JK sekarang, setiap penentuan kebijakan yang lebih banyak di sorot ya Jokowi. Selama ini kita tidak tahu kinerja JK seperti apa karena tertutup oleh sosok Presiden. Padahal mungkin setiap kebijakan Jokowi, ada keterlibatan JK di dalamnya.

Jokowi juga nampaknya banyak belajar dari  kemenangan Anies-Sandi. Dia tidak ingin kalah hanya karena isu SARA yang jelas-jelas membutakan kinerja yang selama ini dikerjakan dengan sungguh-sungguh oleh Ahok.

Dalam politik terutama dengan kondisi masyarakat indonesia sekarang, tidak bisa menjadi terlalu idealis dengan hanya mempertimbangkan integritas semata. Untuk membuat indonesia jauh lebih baik memang tidak bisa berpikir lurus-lurus saja.

Kemenangan ada dikehendak rakyat, oleh karena itu Jokowi harus menyesuaikan keinginan rakyatnya yg masih cenderung memilih berdasarkan karismatik seorang  tokoh. Sebab perlu strategi jitu agar kursi presiden tidak jatuh ke tangan yang salah. sekalipun itu harus mendompleng nama Ma’ ruf Amin.

Apa keputusan Jokowi salah? Secara idealisme kebangsaan, bisa jadi ini keputusan yang salah tetapi mau dibilang apalagi kalau negara penganut demokrasi memang tidak mengizinkan seseorang yang penuh integritas untuk menang sampai kapanpun.

Kalau ingin negara ini hanya diisi oleh orang profesional yang berintegritas saja maka buatlah sistem pemilihan calon presiden seperti seleksi lowongan pekerjaan. Ada sesi wawancara, tes tulis, lampiran CV, sederet portofolio dan lain sebagainya. Yang dipilih adalah mereka yang benar-benar bisa kerja, bukan yang mendapat suara terbanyak. Tapi pertanyaannya apa bisa pilpres dibuat seperti itu? Kan tidak mungkin juga.

Kalau ada yang kecewa dengan pilihan jokowi itu wajar. Tapi jangan sampai berlarut-larut apalagi golput. Bagi pendukung Ahok, keputusan memilih Ma’ruf Amin mungkin sedikit bikin sakit hati. Sebab beliau pernah menjadi saksi yang memberatkan Ahok pada kasus penodaan agama kala itu. Tetapi ada penting yang lebih besar daripada hanya menimbang sakit hati yang sudah lama berlalu.

Namun kalau menuntut seorang politikus berprilaku idealis, sampai kapanpun sulit terwujud. Justru golput akan jadi bahan kampanye baru pihak lawan untuk melemahkan dukungan pada petahana.

Pilpres kali ini seperti memilih yang buruk diantara yang paling buruk. Jokowi mungkin bisa dipandang buruk, tetapi keburukannya itu tidak lebih parah dibandingkan lawannya.

Ibarat memilih buah jeruk yang busuk dalam sekantung keranjang. Walaupun semuanya busuk, tapi kita pasti memilih yang busukya paling sedikit. Dan Jokowi bisa menjadi pilihan yang paling sedikit busuknya dibandingkan jeruk-jeruk lainnya.

daffa ardhan
Blogger dan Mahasiswa Ilmu Politik. Banyak tahu tapi tidak tahu banyak~ | www.DaffaArdhan.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

  Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

ARTIKEL TERPOPULER

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.