in

Kenaikan Gatot


Siapa yang tak kenal lagi dengan Gatot? Dia seorang panglima tentara nasional Indonesia. Kenaikan nama beliau mencuat ketika nonton bareng dan gratis diadakan di berbagai daerah yang ada di Indonesia.

Tentu kita yang suka yang tidak mengeluarkan biaya pastilah datang untuk menyaksikan film gratis tersebut. Itu tak salah lagi merupakan Pengkhianatan G30S/PKI. Aksi tersebut menjadi viral dan banyak orang yang menyatakan hal yang berbeda.

Ada yang mengatakan dan setuju dengan apa yang dilakukan PKI itu adalah sesuatu yang salah dengan mengutip salah satu potongan paragraf Marx mengenai agama, “agama adalah candu masyarakat.”

Ungkapan itu tentunya membuat kaum agamawan marah dan secara otomatis muatan moral mereka menjadi naik. Dan siapa lagi yang naik kalau bukan Beliau? Memang kalau kita mengkaji salah satu kejadian apa yang dilakukan oleh PKI bisa dikatakan doktrinnya mengajarkan kita hal yang materialistis. Misalnya pernah didapati kejadian salah satu korban yang pernah penulis adakan interviu, bahwa korban tersebut diajak untuk menutup mata, dan memohon agar diberikan uang dari Tuhan, namun tak ada uang yang diberikan, tapi berbeda ketika yang dimintai itu adalah orang. Tentulah orang itu pasti akan memberikan uang. Di sinilah doktrin materialistis itu.

Di sisi lain, kita tak bisa juga mengabaikan dua film dokumenter yang ada sebelum film pengkhianatan itu. Itu tak lain Jagal dan Senyap. Kedua film ini menceritakan bagaimana negara bertanggung jawab atas kematian-kematian para anggota PKI bahkan yang disangka sebagai anggota PKI, namun, menariknya yang melakukan aksi pembantaian ini juga termasuk preman-preman yang disewa. Penulis tak perlulah lagi menjelaskan asal muasal kata preman dan apa kaitannya dengan kapitalisme, yang jelas kita harus mengetahui kalau preman itu berdasar atas “free”, dan “man”.


Jadi bisa dikatakan kenaikan nama beliau ini berdasarkan hasil dampak dari hal itu. Muatan moral memang tak bisa disepelekan karena dalam satu sisi, muatan moral bisa berarti penghapusan akal dan nalar kita dan di sisi lain, moral bisa dijadikan alat dalam menghancurkan budaya yang tersisihkan. Namun, apakah yang terjadi dengan Amerika? Amerika menolak kehadiran beliau.

Seperti diketahui kalau Amerika bukan hanya negara yang super power tapi juga canggih akan teknologinya. Kalau ini alasan fasilitas, maka Amerika tak sebaiknya menyembunyikan fakta lain selain alasan politis. Alasan tersebut bisa dilihat dengan keluarnya dan disebarkannya secara gratis film pengkhianatan G30S/PKI menjadikannya viral sehingga tak lepas dari diskusi publik bahkan itu pun didiskusikan oleh berbagai kalangan intelektual. Bukti viralnya dapat dilihat juga bagaimana dokumen CIA beberapa hari yang lalu dibuka di publik terkait peristiwa G30S/PKI yang ternyata melibatkan TNI dan beberapa ormas besar Islam sehingga pelanggaran HAM terjadi. Itu bisa dilihat di beberapa situs berita Indonesia jika kita mengadakan prosesi googling.

http://detik.com

Namun, ada juga fakta yang lain yang tak boleh diabaikan. Yaitu fakta hegemoni. Hegemoni sendiri mungkin bagi kita yang awam agak sulit mengerti apa yang dimaksud hegemoni itu. Hegemoni merupakan sebuah pengaruh besar-besaran dan kita sebagai rakyat biasa hanya bisa mengikutinya baik secara sadar maupun tak sadar. Namun, marilah kita memudahkan bahasa kita agar bisa memahaminya.

Hegemoni bisa terjadi dalam suatu kelompok. Itu disebabkan hegemoni terkait dengan budaya. Di dalam kelompok itu tak bisa dihindari berisi beragam budaya. Dan jika kita dipimpin oleh seseorang, apakah yang beragam budaya itu bisa bertahan? Tentunya tidak. Hanya satu budaya yang memimpin, dan itu berasal dari pemimpin kelompok tersebut. Apakah standar dari pemimpin tersebut? Dalam masalah budaya, ada beberapa yang bisa menjadi standar, ada yang mengatakan ekonomi, ada juga budaya itu sendiri: gaya hidup, bahasa, pendidikan dan sebagainya. Akan tetapi, yang menjadi patokan terbesar adalah ekonomi karena itu merupakan pundak dalam memproduksi budaya.

Amerika dan China memiliki, bisa dikatakan dan juga sudah faktanya, laju ekonomi yang stabil dan bahkan lebih maju dari negara-negara lain. Penulis yakin salah satu alasan mengapa beliau ditolak oleh Amerika karena ada sebuah unsur politik. Mungkin itu sebuah teguran? Namun, beliau sendiri sudah mencanangkan kalau beliau anti dengan haluan “kiri”? Namun, bisa saja sebaliknya kalau itu sendiri artinya Amerika sangat membutuhkan beliau karena sudah menegur sampai seperti itu? Ataukah yang salah adalah penyebaran film tersebut sehingga menimbulkan dan membeberkan rahasia CIA tentang G30S/PKI? Semuanya akan berakhir dengan pertanyaan-pertanyaan yang wajib kita pikirkan dan bayangkan.

Namun, bagaimanakah respons China nantinya? Seperti diketahui kalau bapak presiden kita pro dengan China dalam hal infrastruktur, sedangkan jika kita merunut dalam sejarah Indonesia, bapak SBY pro dengan Amerika, apakah begitu juga dengan Gatot?


Penulis Lepas

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR