Sabtu, Desember 5, 2020

Kemerdekaan yang Terakhir

Piala Dunia Adalah Panggung Manusia Biasa, Ya Sudahlah!

Pertandingan yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tak pernah terjadi. Argentina vs Portugal alias Lionel Messi vs Cristiano Ronaldo. Match of the year yang akan menjadi...

Filosofi Korupsi

Kasus Korupsi di Indonesia setiap tahunnya menjadi hal yang marak diperbincangkan. Negeri yang kaya ini terus menerus diperas oleh koruptor, dan pada akhirnya semakin...

Mau Mengutuk Perayaan Tahun Baru?

Barang pasti, saat mendengar kalimat “Selamat Tahun Baru!” Pikiran orang-orang theisme itu menganggap “Itu bukan perayaan kaumku!”. Bijaknya, kita menghilangkan sensitivitas theisme dulu. Lalu,...

Kekhawatiran terhadap Distorsi Parpol dalam Dana Desa

Mengapa kita harus khawatir terhadap kehadiran pengurus Parpol dalam pelaksanaan Dana Desa? Memangnya hal tersebut salah, ya? Tidak salah, kok. Malah, hadirnya rasa kekhawatiran...
Audi Ahmad
Sarjana Psikologi Unair Dapat dihubungi lewat akun instagram: audiahmad_

Siapa manusia yang enggan untuk merdeka? Saya rasa tidak ada manusia yang tidak mau menjadi manusia yang merdeka. Menjadi merdeka berarti dapat meraih kesejahteraan, baik kesejahteraan raga maupun kesejahteraan jiwa.

Merdeka bisa jadi berbagai macam rupa. Merdeka dari belenggu orang lain, merdeka untuk mengutarakan pendapat, sampai merdeka untuk melakukan sesuatu yang dapat membawa diri kepada kebahagiaan. ⠀

Kemerdekaan yang sesungguhnya bisa jadi tak pernah kita raih, sebab kadang-kadang kita masih terikat dengan kepentingan orang lain dan membuat kita tidak menjadi merdeka sepenuhnya.

Sebagai contoh merdeka dalam berpendapat bisa hilang karena ketersinggungan orang lain atas pendapat kita. Contoh lain adalah kebebasan dalam berperilaku masih dibatasi oleh norma, adat, atau aturan moral yang berlaku di tempat kita tinggal.  ⠀

Berbagai situasi dapat menggerus hak kemerdekaan kita, tetapi ada satu kemerdekaan yang akan terus melekat dalam diri kita, yaitu merdeka untuk menentukan sikap terhadap situasi yang datang kepada kita. Berdasarkan sikap yang ditentukan diri kita bisa menjadi lebih kuat, tetapi bisa juga menjadi lebih lemah.

Seperti kutipan sebelumnya yang saya tulis, berbagai macam situasi yang terjadi menuntut kita untuk menyikapinya. Sikap yang diambil masing-masing individu dapat memengaruhi keadaan yang terjadi nantinya, termasuk keadaan kesehatan jiwa. Satu peristiwa dapat disikapi secara berbeda oleh masing-masing individu dan dapat berpengaruh kepada nasibnya.

Sebagai contoh, ketika seorang siswa mendapatkan hasil yang tidak diinginkan dalam ujian, siswa tersebut memiliki beberapa pilihan untuk menyikapinya; dia merasa kecewa terus menerus sampai stres atau dia merasa bahwa perlu untuk meningkatkan kualitas diri dan mencari motivasi agar mendapatkan hasil yang diinginkan pada ujian selanjutnya. Siswa tersebut memiliki kemerdekaan dalam mengambil sikap terhadap peristiwa tersebut.

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun ini bersamaan dengan peristiwa yang tidak diinginkan, yaitu pandemi Covid-19. Peristiwa tersebut dapat juga menjadi contoh bagi pemerintah dan masyarakat untuk mengambil sikap terhadap ujian berupa pandemi ini.

Apakah bersikap tidak peduli terhadap protokol kesehatan dan tidak selektif dalam mencari informasi kesehatan yang dapat meningkatkan angka kasus atau bersikap menaati protokol kesehatan dengan baik dan memilah informasi kesehatan yang dapat menurunkan angka kasus. Semua itu kembali kepada sikap kita masing-masing. Dengan adanya uji klinis vaksin di Bandung, tentu kita berharap pandemi dapat berakhir lebih cepat dan keadaan dapat menjadi lebih baik.

Mengambil sikap terhadap suatu peristiwa sesungguhnya berada dalam kendali kita sendiri. Sementara, sesuatu yang berada di luar diri kita, seperti harta dan jabatan, tidak sepenuhnya berada dalam kendali diri sendiri.

Inilah mengapa kemerdekaan yang sejati berada dalam jiwa manusia itu sendiri, bagaimana seseorang menyikapi segala sesuatu yang dialaminya. Dari sikap yang diambil, kita dapat meraih kesejahteraan jiwa dan raga. Kita adalah tuan bagi diri sendiri.

Audi Ahmad
Sarjana Psikologi Unair Dapat dihubungi lewat akun instagram: audiahmad_
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Islam Kosmopolitan

Diskursus tentang keislaman tidak akan pernah berhenti untuk dikaji dan habis untuk digali. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada titik terang. Justru, keterkaitan Islam...

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Setiap menjelang perayaan Natal, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang boleh tidaknya kaum Muslim mengucapkan selamat Natal menjadi perbincangan. Baru-baru ini MUI kembali menambah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Format Baru Kepemimpinan di Era Disrupsi

Baru-baru ini bangsa Indonesia diisukan dengan adanya penambahan masa jabatan kepemimpinan presiden hingga tiga periode, ataupun ada yang mengusulkan pemilihan presiden dilakukan secara demokratis...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.