Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

Kementerian Agama Berwajah Militer?

Perpanjangan Waktu Orde Baru

Jika pemilihan presiden (pilpres) 2019 dianalogikan menjadi pertandingan olahraga sepak bola, tampaknya wacana isu debat capres untuk mengangkat tema berkaitan orde baru dapat diumpakan...

Konspirasi Naruto dan Wiranto

Indonesia sekarang sedang dilanda teror, pasalnya pada Kamis 10/10/2019 di Pandegelang, Banten. Sontak membuat perhatian tanah air tertuju pada Mentri Koordinator Bidang Politik Hukum...

Pemilu dan Rasionalitas Demokrasi

Di tengah keraguan banyak kalangan terhadap panitia penyelenggara Pemilu (KPU) 2019, peranan akal budi atau rasionalitas dalam demokrasi di Indonesia dewasa ini sangat diperlukan. Kehidupan...

Keadilan untuk Agni

Agni, seorang mahasiswa Fisipol (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) Universitas Gadjah Mada (UGM), yang diperkosa oleh temannya sesama mahasiswa UGM, di lokasi Kuliah...
Baikuni Alshafa
alumnus Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Malang. saat ini aktif sebagai seketaris Bidang Maritim dan Agraria di Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM)

Tepat pada tanggal 23 Oktober kemarin presiden Jokowi memperkenalkan sekaligus melantik Kabinet Indonesia Maju yang baru. Terlihat santai sambil duduk rileks di undak-undakan istana kepresidenan. Ada wajah lama, ada pula wajah baru. Harapan semuanya akan bekerja, berikhtiar bersama menuju Indonesia maju.

Tentu, pilihan Jokowi tidak akan memuaskan semua golongan. Ada sebagian orang berharap optimis pada kabinet baru, tak jarang pula yang meletakkan kekecewaan, tak pikir terlalu berlebihan. Seperti sebagian orang yang mengatasnamakan ormas Islam (NU), lantaran menteri agama bukan dari golongannya. Saya pikir itu jauh dari karakter organisasi NU yang saya kenal memiliki politik nilai yang kuat dan berintegritas.

Nyanyian bernada kekecewaan bermunculan paska pengumuman kabinet nya Jokowi. Merasa jerih payah yang sudah ditorehkan tidak mendapatkan imbalan yang setimpal dalam membantu memenangkan Jokowi di Pilpres 2019.

Sebagian irisan itu merasa tak dihargai melalui kucuran peluh yang diteteskan. Harapan berupa imbalan yang selama ini dianggap paling pantas. Merasa sebagai rumah kebesarannya, tak lain adalah Mentri Agama.

Genderang perang seakan sudah ditabuh oleh irisan yang mengaku barisan NU. Petikan nada yang terus meluap kepublik, saya kutip melalui media sosial berbunyi demikian “banyak kiyai NU kecewa soal Menag pilihan Jokowi”. Tak cukup disitu bahkan ada nada tolak menag yang ramai dibincangkan di media sosial dengan tagar #tolakmenag.

Kritik dan kekecewaan tersebut menurut saya terlalu berlebihan. alasannya sederhana, karena bagi saya urusan agama bukan hanya mengurusin satu atau dua ormas berbasis agama. Tapi lebih kepada persoalan toleransi yang belakangan ini merongrong keberagaman agama, serta menangkal radikalisme yang semakin mencolok mengancam keutuhan bangsa.

Terlebih bagi saya, jika disinggung bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Banyak orang menyimpangkan pernyataan ini kepada pemahaman yang salah kaprah. Menimbulkan banyak kesalahan dalam praktek beragama, bahkan dalam hal yang sangat fundamental, yaitu dalam masalah ekspresi berislam yang kontras akan rahmatan lil alamin, dengan wajah yang lebih garang.

Kedua, perlu adanya penanganan yang serius untuk menghilangkan virus intoleransi yang sejatinya merusak Islam dan keberagaman budaya, karena pada prinsipnya Islam adalah agama damai dan toleran pada agama dan keyakinan lain.

Terlihat protes terhadap Mentri Agama terpilih saat ini. Sehingga Mentri Fahrur Razi dengan sigap merespon kemelut netizens, petikan ucap nya demikian. “saya menteri agama RI, bukan menteri agama Islam”. Kata Menag Fahrur Razi. Menteri agama Jenderal (Purn) terlihat ingin menegaskan, ia berdiri di semua agama. Bukan mengurus satu agama saja.

Perlu diapresiasi bahwa Mentri agama yang baru dengan wajah alumnus militer. Banyak kita kenal bahwa budaya militer sangat rapi dalam tatanan managerial struktur organisasi. Sehingga cukup pantas ditugaskan untuk penanganan tubuh kementrian Agama yang selama ini terkesan lebih condong pada ormas tertentu, sebagai pengendali di Kementrian Agama.

Jangan terburu-buru mengeluarkan anggapan, bahwa Mentri Fahrur Razi tak paham agama, yang tak elok juga menolak sebagai Menag. Sebelum publik beragama menguji kinerjanya. Namun perlu kita pantau apa dan bagaimana trobosan program yang dikerjakan kedepan. Dan jangan sungkan dan takut untuk dikritisi bersama, jika kedepan tidak sesuai dengan harapan ummat beragama.

Namun tidak tepat pula jika Menag kedepan lebih bergaya militer dengan konsep komando nya. Intruksi atasan dan harus seragam kebawah. Karena menangani keberagaman agama, tidak semudah mencopot prajurit dari jabatan yang tak patuh atas kode etik militer.

Karena peran Menag lebih kepada membangun konstruksi keberagaman agama yang terus merawat keutuhan bangsa. Salah satunya menangkal radikalisme dan intoleransi. Dengan tetap merawat kebinekaan dalam bingkai agama.

Baikuni Alshafa
alumnus Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Malang. saat ini aktif sebagai seketaris Bidang Maritim dan Agraria di Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

Pers Masa Pergerakan: Sinar Djawa dan Sinar Hindia

Surat kabar Bumiputera pertama adalah Soenda Berita yang didirikan oleh R.M Tirtoadisuryo tahun 1903. Namun, surat kabar ini tak bertahan lama. Pada 1905-1906, Soenda...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.