Minggu, Oktober 25, 2020

Kementerian Agama Berwajah Militer?

Kartu Merah untuk Rasisme SARA

Kasus rasisme banyak terjadi di dunia sepakbola. Padahal Induk federasi Sepakbola dunia (FIFA) sudah melakukan upaya preventif dan represif untuk menanggulangi wabah rasisme di...

[Masih Soal] Perppu Ormas dan Masalah Pembatasan HAM – Bagian 2

Tidak hanya harus memenuhi syarat formil, pembatasan atas ketiga hak sipol tersebut harus memenuhi syarat materiil, yang dimana syarat materiil ini termaktub pada “Prinsip-prinsip...

Guru dan Politik Partisan di Ruang Kelas

Sedang ramai diperbincangkan dugaan seorang guru SMA negeri di Jakarta Selatan, melakukan kampanye anti-Jokowi terhadap para siswanya di sekolah. Publik bereaksi, terkhusus di media...

Adit, Tita, Eiffel I’m In Love, dan Larangan Produk Albothyl

Dua hari yang lalu, saya mendapat pesan Whatsapp dari ibu saya. Isinya tentang pencabutan izin untuk produk Albothyl disertai pesan penting yang meminta penerima...
Baikuni Alshafa
alumnus Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Malang. saat ini aktif sebagai seketaris Bidang Maritim dan Agraria di Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM)

Tepat pada tanggal 23 Oktober kemarin presiden Jokowi memperkenalkan sekaligus melantik Kabinet Indonesia Maju yang baru. Terlihat santai sambil duduk rileks di undak-undakan istana kepresidenan. Ada wajah lama, ada pula wajah baru. Harapan semuanya akan bekerja, berikhtiar bersama menuju Indonesia maju.

Tentu, pilihan Jokowi tidak akan memuaskan semua golongan. Ada sebagian orang berharap optimis pada kabinet baru, tak jarang pula yang meletakkan kekecewaan, tak pikir terlalu berlebihan. Seperti sebagian orang yang mengatasnamakan ormas Islam (NU), lantaran menteri agama bukan dari golongannya. Saya pikir itu jauh dari karakter organisasi NU yang saya kenal memiliki politik nilai yang kuat dan berintegritas.

Nyanyian bernada kekecewaan bermunculan paska pengumuman kabinet nya Jokowi. Merasa jerih payah yang sudah ditorehkan tidak mendapatkan imbalan yang setimpal dalam membantu memenangkan Jokowi di Pilpres 2019.

Sebagian irisan itu merasa tak dihargai melalui kucuran peluh yang diteteskan. Harapan berupa imbalan yang selama ini dianggap paling pantas. Merasa sebagai rumah kebesarannya, tak lain adalah Mentri Agama.

Genderang perang seakan sudah ditabuh oleh irisan yang mengaku barisan NU. Petikan nada yang terus meluap kepublik, saya kutip melalui media sosial berbunyi demikian “banyak kiyai NU kecewa soal Menag pilihan Jokowi”. Tak cukup disitu bahkan ada nada tolak menag yang ramai dibincangkan di media sosial dengan tagar #tolakmenag.

Kritik dan kekecewaan tersebut menurut saya terlalu berlebihan. alasannya sederhana, karena bagi saya urusan agama bukan hanya mengurusin satu atau dua ormas berbasis agama. Tapi lebih kepada persoalan toleransi yang belakangan ini merongrong keberagaman agama, serta menangkal radikalisme yang semakin mencolok mengancam keutuhan bangsa.

Terlebih bagi saya, jika disinggung bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Banyak orang menyimpangkan pernyataan ini kepada pemahaman yang salah kaprah. Menimbulkan banyak kesalahan dalam praktek beragama, bahkan dalam hal yang sangat fundamental, yaitu dalam masalah ekspresi berislam yang kontras akan rahmatan lil alamin, dengan wajah yang lebih garang.

Kedua, perlu adanya penanganan yang serius untuk menghilangkan virus intoleransi yang sejatinya merusak Islam dan keberagaman budaya, karena pada prinsipnya Islam adalah agama damai dan toleran pada agama dan keyakinan lain.

Terlihat protes terhadap Mentri Agama terpilih saat ini. Sehingga Mentri Fahrur Razi dengan sigap merespon kemelut netizens, petikan ucap nya demikian. “saya menteri agama RI, bukan menteri agama Islam”. Kata Menag Fahrur Razi. Menteri agama Jenderal (Purn) terlihat ingin menegaskan, ia berdiri di semua agama. Bukan mengurus satu agama saja.

Perlu diapresiasi bahwa Mentri agama yang baru dengan wajah alumnus militer. Banyak kita kenal bahwa budaya militer sangat rapi dalam tatanan managerial struktur organisasi. Sehingga cukup pantas ditugaskan untuk penanganan tubuh kementrian Agama yang selama ini terkesan lebih condong pada ormas tertentu, sebagai pengendali di Kementrian Agama.

Jangan terburu-buru mengeluarkan anggapan, bahwa Mentri Fahrur Razi tak paham agama, yang tak elok juga menolak sebagai Menag. Sebelum publik beragama menguji kinerjanya. Namun perlu kita pantau apa dan bagaimana trobosan program yang dikerjakan kedepan. Dan jangan sungkan dan takut untuk dikritisi bersama, jika kedepan tidak sesuai dengan harapan ummat beragama.

Namun tidak tepat pula jika Menag kedepan lebih bergaya militer dengan konsep komando nya. Intruksi atasan dan harus seragam kebawah. Karena menangani keberagaman agama, tidak semudah mencopot prajurit dari jabatan yang tak patuh atas kode etik militer.

Karena peran Menag lebih kepada membangun konstruksi keberagaman agama yang terus merawat keutuhan bangsa. Salah satunya menangkal radikalisme dan intoleransi. Dengan tetap merawat kebinekaan dalam bingkai agama.

Baikuni Alshafa
alumnus Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Malang. saat ini aktif sebagai seketaris Bidang Maritim dan Agraria di Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Mengapa Pancasila Membolehkan Paham Ateisme?

Dalam pasal 156a KUHP disebutkan bahwa “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.