OUR NETWORK

Kemelut Corona dan Hikmah Perjalanan Nabi Muhammad

Walhasil, tak semua dimensi semesta bisa diurai. Disinilah rohani yang didasari pada iman akan memberi jalan terang, menyibak hikmah dan menyingkap lapis-lapis tabir Ilahi.

Isra’ Mi’raj yang diperingati setiap 27 Rajab baru saja terlewati. Tahun ini, Isra’ Mi’raj bertepatan pada hari Minggu, 22 Maret 2020. Apa hikmah Isra’ Mi’raj bagi kaum muslim, bangsa Indonesia dan dunia internasional di tengah kemelut corona saat ini?

Panggilan sejarah itu datang. Nabi Muhammad SAW ingin mengeluarkan umat manusia dari jerat jahiliyah menuju peradaban yang terang benderang. Namun seruan perdamaian, keselamatan dan cinta kasih yang digelorakan oleh Nabi Muhammad berlandaskan ajaran Islam penuh jalan terjal dan berliku-liku. Dalam proses perombakan total tatanan masyarakat status quo ketika itu, kelompok masyarakat Makkah, terutama kafir Quraisy tentu merasa terancam. Nabi Muhammad pun menuai ancaman fisik maupun mental dari segala penjuru.

Arogansi kaum kafir Quraisy yang berwatak predator terus berkonsolidasi untuk mengukuhkan hegemoni kekuasaannya. Akan tetapi, Nabi Muhammad yang berjiwa revolusioner dengan ajaran Islamnya terus berjuang mengibarkan panji-panji kebenaran, keadilan dan kejujuran. Ajaran Islam yang berwatak pembebasan tentu sangat kontras dengan banalitas kaum kafir Quraisy saat itu yang menyimpang, menindas dan saling merebut sumberdaya yang bergelimang teror, kekerasan dan bercak-bercak darah.

Pada satu fase, Nabi Muhammad menghadapi dilema, tantangan dan teror tiada henti. Cobaan yang dialami Nabi Muhammad kian berat ketika dua orang terdekatnya wafat, yakni istrinya Khadijah dan pamannya Abu Thalib. Nabi Muhammad benar-benar terpukul dan bergelayut dalam kesedihan yang sungguh berat.

Dalam suasana duka itu, Allah SWT memerintahkan Malaikat Jibril “membimbing” Nabi Muhammad menapaki perjalanan spiritual yang dikenal dengan peristiwa Isra’ Mi’raj. Dalam peristiwa sakral itu, Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Masjid al-Haram di Makkah menuju Masjid al-Aqsa di Palestina. Dari Masjid al-Aqsa, Nabi Muhammad naik ke langit ke tujuh (Sidratul Muntaha) dalam satu malam hingga bertemu Allah SWT.

Apa dan bagaimana kita mengambil hikmah dan memaknainya?

Ujian berat yang dihadapi oleh Nabi Muhammad sebelum Isra’ Mi’raj merupakan satu fase perjalanan untuk menghayati keimanan secara mendalam. Terkhusus umat Islam, pandemi global virus corona (Covid-19) bisa dimaknai sebagai ujian untuk mempertebal iman seraya terus berikhtiar melawan corona sesuai anjuran para pakar yang otoritatif, instruksi pemerintah dan himbauan institusi keagamaan resmi.

Bagi bangsa Indonesia, kita harus menjadikan momen pelik ini untuk menggalang solidaritas kebangsaan dan rasa persaudaraan. Saling membantu tanpa melihat asal-usul agama, suku bangsa, warna kulit, afiliasi politik dan sebagainya.

Banyak negara yang tercabik-cabik akibat globalisasi kecemasan melalui virus corona ini. Tapi sebagian besar negara masih fokus menyelamatkan diri masing-masing. Dalam menghadapi petaka seperti Covid-19 ini, sangat sulit sebuah negara berjalan sendirian. Karena itu, masyarakat internasional harus bersinergi dan berkolaborasi untuk melawan penyakit trans-nasional ini.

Untuk jangka pendek, negara-negara di dunia perlu saling tukar-menukar sumberdaya untuk mencegah jatuhnya banyak korban dan menyembuhkan sebisa mungkin pasien yang terpapar corona dengan instrumen medis yang tersedia. Untuk jangka panjang, mengedepankan kerjasama lintas negara dalam kerangka penyelamatan ekosistem dunia, penguatan sistem kesehatan global dan perbaikan tata ekonomi politik internasional.

Secara hakiki, Isra’ (perjalanan) tampak secepat kilat menumbuhkan sikap batin betapa waktu berputar begitu cepat mengiringi perjalanan manusia. Lautan drama kehidupan ibarat pertemuan antara sungai perjalanan yang satu dengan sungai perjalanan yang lain. Lalu perjalanan itu dipenuhi aliran yang saling bertautan, merasakan beragam percikan kejadian, berjumpa dengan banyak makhluk dengan segala bentuk, corak dan manifestasinya.

Dalam memaknai hikmah perjalanan rohani (Mi’raj) kita perlu menyadari, bahwa kita sebagai manusia memiliki keterbatasan. Sehebat apapun kita, terkadang menemui kebuntuan dan kelabakan. Walhasil, tak semua dimensi semesta bisa diurai. Disinilah rohani yang didasari pada iman akan memberi jalan terang, menyibak hikmah dan menyingkap lapis-lapis tabir Ilahi.

Dalam perjalanan Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad menerima mandat langitan berupa shalat lima waktu. Shalat adalah perjalanan rohani untuk berdialog secara transendental dengan Tuhan, sebagaimana Mi’raj-nya Nabi Muhammad. Shalat adalah perintah Allah SWT untuk mengingatNya, melezatkan rohani manusia hingga mencapai makrifat. Bahkan Nabi Muhammad bersabda bahwa shalat adalah Mi’rajnya bagi orang-orang mukmin.

Shalat didirikan untuk menjauhkan manusia dari perbuatan keji dan munkar. Karena itu, hikmah Isra’ Mi’raj juga adalah untuk meningkatkan kualitas shalat, tidak sekadar gerak-gerik seremonial belaka, tapi harus membentuk kesalehan individual sekaligus kesalehan sosial. Shalat yang berhasil tercermin pada sejauhmana kita bisa membentengi diri dari perilaku destruktif, dan menumbuhkan kebajikan di tengah-tengah masyarakat.

Kita menyaksikan serbuan corona yang sungguh mengobok-obok ketenangan di zamrud khatulistiwa. Untuk mencegah penularan wabah virus corona, kita disarankan agar menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengisolasi diri dan bekerja dari rumah. Fisik boleh saja berjarak, tapi hati tetap senantiasa saling bertaut satu sama lain. Situasi ini juga menjadi momen untuk tafakur dan kontemplasi dalam kesunyian, dan bermunajat kepada Allah SWT.

Manusia memang harus mengeluarkan dayanya sekuat tenaga, tapi tetap saja terbatas. Akal dan wahyu, ikhtiar dan doa, pikir dan dzikir harus berpadu dan beriringan untuk menjawab penyakit global tersebut. Dengan demikian, Isra’ Mi’raj memberikan energi baru bagi kita selaku khalifah di muka bumi dengan berbagai peran masing-masing untuk membenahi diri, meluruskan arah kiblat bangsa dan dunia.

Mudah-mudahan spirit Isra’ Mi’raj dapat mencairkan ketegangan, menertibkan instabilitas temperatur batin dan menyalakan harapan. Harus diakui bahwa keganasan virus corona teramat berat, tapi kita harus menghadapinya dengan optimis, disiplin dan kompak. Semoga kemelut corona segera berlalu. Semoga kita semua senantiasa dalam keadaan sehat wal ‘afiat.

Alumnus Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNHAS, Makassar. Pengurus PB HMI, DPP KNPI. Pernah bekerja sebagai peneliti di BNPT. Analis Politik di Charta Politika.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…