Jumat, Oktober 30, 2020

Kembali ke Plural: Meninggalkan yang Polar

Budaya Tradisional dan Modern Life di Dubai?

Jika ada pertanyaan tentang apa kota paling modern di dunia saat ini, pasti kebanyakan orang akan setuju untuk mengatakan Dubai sebagai salah satu contoh...

Melawan Dominasi Pengelolaan Hutan Perhutani

Perhutani menguasai hampir seluruh wilayah hutan di Pulau Jawa dan Madura, selain mengelola hutan produksi juga diberikan wewenang untuk menjadi pelindung hutan lindung. Di...

Kebangkitan PKI (Tak) Berbahaya?

Barangkali, siapa pun yang berpikiran waras akan merasa terganggu dengan masifnya razia buku yang sedang terjadi. Buku-buku yang diduga memuat konten PKI dirampas oleh...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...
Sarani Pitor Pakan
Dosen SV UGM

Yang paling mengerikan dari segala proses dan desas-desus pemilu yang baru berlalu adalah tajamnya polarisasi di tengah-tengah kita.

Berbulan-bulan kita telah menelan delirium dari kantong-kantong percakapan di tongkrongan, grup-grup Whatsapp, media sosial, hajatan keluarga, dan lainnya. Kita terpaksa bernafas dengan semua nonsens itu, seraya berusaha merasa baik-baik saja di keseharian. Sesak dada kita oleh copras-capres yang tak keruan.

Polarisasi menajam, seperti sebuah bara yang tak kunjung padam. Dan kita menyiram bensin untuk membuatnya terus menyala. Kita merayakan bising, yang riil dan virtual, karena kita tak punya lagi alasan untuk tak melawan. Either/or.

Jika kamu bukan A, berarti kamu B. Begitu pula sebaliknya. Di titik itu, jalan ketiga seperti hangus, menjadi sisa-sisa abu yang terbang, masuk ke kerongkongan, dan membuat dada kian sesak oleh pilihan-pilihan yang tak ada lagi hari ini.

Bahkan, ketika isu golput masuk ke perdebatan, misalnya, kita membahasnya dengan narasi either/or serupa. Jika kamu G, berarti kamu A dan bukan B. Seakan-akan dunia ini cuma ada A dan B. Amnesia kolektif memasung kita, mengaburkan dan membungkam C sampai Z. Hingga, seolah-seolah C-Z sama sekali tak pernah ada.

Bulan-bulan belakangan, di Indonesia yang murung, angka-angka diubah jadi gestur, dan gestur diubah jadi alasan untuk nyinyir, dan nyinyir dipupuki di ruang-ruang privat, publik, dan di-antara keduanya.

Tak ada jalan pulang yang sederhana untuk mimpi buruk ini. Semua tak akan baik-baik saja dalam waktu dekat. Kita sudah terlanjur dibelah. Tapi, bukan berarti kita tak bisa bergerak. Kita harus segera mengepak tas dan pulang ke rumah. Api sudah berkobar dan tak ada jalan lain selain pulang. Rekonsiliasi mesti ditempuh, betapa pun pelan dan peliknya itu. Kita harus meninggalkan yang polar.

Pluriverse & Bhinneka

Sebagai sebuah cara berpikir, polarisasi membagi kita jadi dua bagian yang berlawanan. Ia serupa (atau mungkin memang terkait) dengan berbagai dualisme dalam tradisi pemikiran Barat sejak era Descartes: nature-culture, mind-body, subject-object, dan sebagainya. Cara berpikir yang dikotomis itu seringkali terlalu menyederhanakan realitas. Banyak cendekia kemudian berusaha menawarkan jalan keluar dari penjara-penjara Cartesian itu.

Salah satu konsep yang sering muncul dari usaha itu adalah pluriverse. Istilah ini berakar dari gerakan Zapatista di Amerika Latin, dan kurang lebih menjabarkan bahwa banyak semesta eksis bersama (many worlds co-exist).

Secara sederhana, saya memahami pluriverse sebagai posisi ontologis untuk menyadari bahwa ada banyak pengetahuan dan cara untuk hidup. Yang universal dan dikotomis itu cuma rekaan untuk meringkus kompleksitas ke dalam kategori-kategori.

Polarisasi mengerikan karena ia sebenarnya memecah kenyataan yang kompleks ke dalam dua kutub semata: A dan B. Yang di luar dua itu harus dipaksa-masukkan ke dalam A atau B, atau sama sekali tak dianggap ada. Imbasnya, polarisasi menciptakan kita dan mereka, dengan tembok tinggi yang memisahkan keduanya. Tembok itu tinggi menjulang, jauh lebih tinggi dari kotak suara, kantor parlemen, dan istana negara. Lalu, tembok imajiner itu seringkali merasuk terlalu dalam ke keluarga, kantor, pertemanan, dan klik-klik antarmanusia lain.

Di iklim yang mendidih itu, perspektif ala pluriverse akan memberi kita mata baru untuk melihat sekitar. Dalam konteks Indonesia, spirit bhinneka tunggal ika mungkin bisa kita gali ulang.

Sejak kecil dulu, pluralisme selalu diajari bapak-ibu guru di sekolah. Plural adalah kata kunci. Ia memberi kita argumentasi konseptual sekaligus praktikal tentang yang sehari-hari di sini. Ada 269 juta orang Indonesia dan tak adil untuk merangkum semuanya hanya ke dalam dua kutub saja. Tak masalah jika pilihan elektoral yang tersedia cuma dua. Tapi, di luar bilik suara, tak ada alasan untuk mengkotak-kotakkan kita dan mereka.

Jalan pulang yang panjang

Seperti sudah disebut, tak ada jalan pulang yang sederhana untuk keluar dari polarisasi ini. Polarisasi bisa ada dan berkembang karena proses normalisasi yang panjang. Proses itu melewati kanal-kanal yang publik, personal, dan sehari-hari (everyday practices).

Kanal-kanal yang samalah yang harus kita lalui untuk kembali ke yang plural, meninggalkan yang polar di belakang. Kita mesti menempuh jalan pulang itu dengan perlahan, dengan kesadaran bahwa ada A-Z di sekitar kita, dan masing-masing berhak atas eksistensinya.

Kesadaran adalah langkah pertama. Setelah kesadaran adalah dialog. Selanjutnya, kita harus kembali lagi duduk di meja yang sama dengan perbedaan. Di situ kita harus saling bicara dengan terbuka dan apa adanya, tapi tanpa nyinyir dan tendensi untuk nyinyir, serta tanpa perasaan takut keliru.

Anggap saja ini semacam proses hermeunetik yang terapeutik. Saat politik memecah, dialog meleburkan kita kembali ke dalam common sense. Seharusnya, keadaan akan lebih baik saat dialog antar-perbedaan dinormalisasi dan dirutinisasi.

Dan ada baiknya jika media massa berhenti menaburi luka dengan garam. Politik dan segenap dampak sosiologis yang dihasilkannya hari ini hanya sebagian kecil dari peristiwa yang terjadi di negeri ini.

Mungkin ada baiknya kita lebih sering membahas isu-isu yang selama ini tenggelam atau tak mendapat tempat di pemberitaan arus utama.  Mungkin ada baiknya kita lebih sering membahas puisi daripada retorika politisi A dan B. Jika itu terjadi, media massa bisa jadi katalis untuk menggerakan massa yang cemas di medsos.

Terakhir, interaksi kita hari-hari ini lebih banyak terjadi di ruang digital. Whatsapp, Facebook, Twitter, Instagram, dan lainnya telah menjadi spasi untuk berkomunikasi. Media sosial dan aplikasi pesan singkat sebagai instrumen rekonsiliasi tak terelakkan.

Di sanalah, dulu, bara disemai dan polarisasi terus dipupuki hingga subur. Jadi, hari ini, kita harus kembali ke ruang-ruang virtual masing-masing dan membagi emoticon-emoticon yang menentramkan. Percayalah, tak ada yang lebih indah daripada pulang ke rumah.

Sarani Pitor Pakan
Dosen SV UGM
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus d imasa Covid 19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.