OUR NETWORK

Kembali ke Fitrah dengan Menghargai Lingkungan Hidup

Akhir kata, selamat hari raya Idul Fitri, semoga kita kembali kepada fitrah dan memulai fitrah untuk menjaga lingkungan hidup dimulai dari hal yang sederhana dengan mulai bertanggung jawab terhadap sampah yang kita hasilkan

Umat Muslim menjalankan ibadah puasa selama bulan suci Ramadhan dengan tujuan mencapai spiritualitas yang kemudian diistilahkan pada hari raya Idul Fitri dengan kembali kepada fitrah. Istilah fitrah merujuk dari Surat Ar-Rum ayat 30 bahwa Allah telah menciptakan manusia menurut fitrah yaitu agama yang lurus. Sependek pengetahuan saya bahwa ajaran Islam begitu mulia untuk mendorong umatnya senantiasa berbuat lurus sesuai ajaran agama.

Kembali ke fitrah perlu pula dimaknai secara meluas dalam semua aspek kehidupan, salah satunya aspek lingkungan hidup. Mengapa lingkungan hidup? Karena bumi, sumber daya alam dan spesies yang telah diciptakan Allah menjadi rumah dan mendukung kehidupan manusia. Namun, karena penyalahgunaan ‘wewenang’ terhadap ciptaan-Nya, manusia menjadi perusak terhadap lingkungan hidup.

Masih dalam Surat Ar-Rum pada ayat 41 yang bermakna peringatan kepada manusia bahwa: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Maka, isi surat Ar-Rum 41 ini kembali ke fitrah kepada ajaran yang lurus dan bagaimana berperilaku terhadap lingkungan hidup.

Dalam sebuah perkiraan pada edisi mudik tahun ini diperkirakan terdapat 1,4 juta lebih kendaraan yang ke luar Jakarta pada mulai H-8 hingga H-1 Lebaran. Ini baru untuk kendaraan yang keluar Jakarta, belum termasuk hitungan kendaraan yang menuju ke daerah lainnya.

Saya membayangkan bagaimana tingginya emisi gas buang atau pencemaran udara yang ditimbulkan dari kendaraan roda empat dan roda dua pada saat musim liburan lebaran. Tulisan ini bukan untuk menyalahkan para pemudik, tetapi mengajak refleksi diri bahwa kita perlu membalas kebaikan alam atas ‘dosa’ pencemaran yang sudah dihasilkan bersama.

Penggunaan bahan bakar fosil pada bahan bakar minyak untuk kendaraan yang digunakan pada saat mudik dan menimbulkan kemacetan sangat rentan menghasilkan polusi udara berupa Sulfur Dioxide, Nitrogen Dioxide, Carbon Monoxide, Ozone, dan Hydro Carbon. Yang kemudian, polutan ini mempengaruhi sistem pernafasan, pembuluh darah, hati, dan ginjal.

Peningkatan polutan memang tidak dapat terhindarkan karena kepemilikan kendaraan pribadi yang sedemikian massal, namun ada hal yang dapat diantisipasi oleh para pemudik agar tidak semakin ‘membebani’ lingkungan hidup. Salah satunya adalah mengelola sampah.

Dalam Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 telah tertuang mengenai kebijakan pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga.

Budaya konsumsi saat ini sulit rasanya untuk menghindarkan diri dari penggunaan plastik. Plastik sebagai kantong belanja maupun plastik kemasan makanan dan minuman. Maka, untuk mengurangi beban terhadap lingkungan hidup, para pemudik dapat membawa tempat minum isi ulang untuk mengurangi sampah plastik.

Selain itu, dapat membawa kantong belanja sendiri sebagai upaya mengurangi sampah kantong plastik. Selain itu, sampah makanan maupun sampah botol plastik dapat dibuang pada tempatnya. Apabila pengelolaan sampah yang sesederhana ini tidak dilakukan, perlu kiranya kita bertanya pada diri kita pribadi “sudahkah kita kembali pada fitrah?”

Satu hal, lagi umumnya pada saat libur lebaran kebun binatang seringkali dipadati oleh pengunjung. Untuk kembali kepada fitrah, maka pengunjung perlu menahan keinginan memberikan makanan dan minuman pada satwa apabila makanan dan minuman tersebut bukan peruntukan pangan satwa.

Menunjukkan respek pada satwa pun merupakan salah satu hal menuju fitrah. Dalam Surat Asy-Syu`ara ayat 183 bahwa ‘Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan’. Maka, terdapat kewajiban bagi manusia untuk tidak membuat kerusakan dan tidak menganiaya satwa.

Perilaku lingkungan hidup menurut sosiolog, Riley Dunlap (2000) terdiri dari lima garis besar. Yang pertama adalah kesadaran bahwa bumi memiliki sumber daya alam yang terbatas; menghindari pemikiran bahwa manusia pengatur alam semesta karena terdapat tanaman dan satwa yang memiliki hak hidup; kecerdasan manusia terbatas tidak dapat memastikan bahwa bumi sepenuhnya layak huni; dan kesadaran akan kemungkinan terjadinya bencana alam apabila manusia menyalahgunakan lingkungan.

Akhir kata, selamat hari raya Idul Fitri, semoga kita kembali kepada fitrah dan memulai fitrah untuk menjaga lingkungan hidup dimulai dari hal yang sederhana dengan mulai bertanggung jawab terhadap sampah yang kita hasilkan. Hal-hal tersebut adalah mengurangi sampah plastik, memilah sampah dan membuang sampah pada tempatnya.

Blogger & Penulis lepas isu sosial ekologi dan politik lingkungan hidup

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…