Kamis, Februari 25, 2021

Kematian George Floyd, Tanda Masih Eksisnya Rasisme di AS

Menjaga Ruang Publik Kita

Indonesia merupakan suatu rumah yang dibangun oleh berbagai unsur kebangsaan; agama, etnisitas, kelas sosial, dan ideologi politik. Sebagai rumah, Indonesia bukan hanya suatu deretan...

Haidar Bagir, Rumi, dan Tasawuf

Bagi penulis, Pak Haidar Bagir adalah guru. Beliau juga merupakan idola. Penulis belajar melalui buku, tulisan, video, sosial media, dan forum diskusi secara langsung...

Apresiasi Puan Maharani atas BEC sebagai Etalase Seni

BEC merupakan salah satu bentuk etalase seni yang patut mendapat apresiasi (Puan Maharani)Menampilkan ragam kebudayaan lokal selalu merupakan hal yang membahagiakan. Pertama, sebab setiap lokal...

Rekonsiliasi ’65: Dimulai dari Diri Sendiri

Pertama kali saya bertemu Momo, begitu beliau biasa disapa, pada akhir tahun lalu di acara pameran bertajuk Street Dealin. Perhelatan tahunan yang diadakan Garduhouse,...
Syifa SY
Penulis adalah fakir ilmu yang selalu tertarik untuk belajar

Baru-baru ini media ramai memberitakan kematian seorang pria berkulit hitam keturunan Afrika-Amerika bernama George Floyd yang tewas di bawah tekanan lutut oknum polisi di Minneapolis, Amerika Serikat. Floyd (46 tahun) saat itu baru saja membeli membeli sebungkus rokok di sebuah toko bernama Cup Foods, ditangkap polisi setelah dicurigai menggunakan uang palsu saat melakukan transaksi di toko tersebut.

Polisi yang pada saat itu menerima laporan dari pegawai toko dengan alasan gerak-gerik Floyd yang mencurigakan, langsung menangkapnya yang sedang duduk di luar toko. Dalam video yang telah beredar, seorang polisi bernama Derek Chauvin menekan leher Floyd dengan lututnya. Kala itu Floyd telungkup dan tak bisa berkutik.

Beberapa orang yang menyaksikan perisitiwa tersebut meminta polisi agar menghentikan aksinya tersebut setelah melihat Floyd yang merintih kesakitan dan kesulitan napas. Tak lama kemudian, tekanan lutut polisi di lehernya membuat ia kehabisan napas dan meninggal dunia.

Kematian Floyd tentu saja mengundang aksi protes dari masyarakat, terutama para aktivis kemanusiaan dan mereka yang berkulit hitam. Perlakuan buruk oknum polisi tersebut dinilai rasis karena didasarkan perasaan tidak suka terhadap orang kulit hitam.

Banyak ungkapan bertuliskan “Aku tak bisa bernapas” sebagai wujud prihatin sekaligus kekecewaan publik terhadap tindakan tersebut yang menyebabkan seorang pria berkulit hitam mati dengan tragis di bawah lutut polisi. Dilansir dari Kompas.com, hampir 1.400 orang di seluruh Amerika Serikat (AS) ditangkap setelah melakukan aksi protes yang berakhir ricuh.

Aksi protes atas kematian George Floyd kemudian meluas ke berbagai negara seperti Inggris, Jerman dan Selandira Baru. Diwartakan Reuters, terdapat ratusan orang di London dan Berlin menggelar unjuk rasa sebagai wujud solidaritas terhadap masyarakat AS yang juga menggelar aksi protes besar-besaran di berbagai kota. Keempat oknum polisi yang ada dalam video, termasuk Derek Chauvin sebagai pelaku penyebab kematian Floyd, diberhentikan dari Kepolisian sehari setelah George Floyd menghembuskan napas terakhirnya.

NBC juga memberitakan seorang pengacara bernama Ben Crump, mengungkapkan bahwa kasus kematian Floyd menunjukkan adanya sistem peradilan AS yang memperlakukan orang berkulit hitam dengan berbeda dari orang berkulit putih. Crump juga mewakili kematian dua orang Afrika-Amerika lainnya yang baru-baru ini terbunuh dan juga melibatkan kesalahan polisi.

Kematian orang-orang berkulit hitam tersebut, merupakan tanda masih eksisnya rasisme di AS. Perilaku rasis tidak dibenarkan secara hukum dan telah melanggar hak asasi manusia yang dinyatakan dalam Universal Declaration of Human Rights, sebuah deklarasi hak asasi manusia yang telah diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada 10 Oktober 1948.

Deklarasi tersebut menyatakan bahwa setiap orang berhak atas hak asasi yang dimilikinya dengan tidak ada pengecualian apa pun, seperti pembedaan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pandangan lain, asal-usul kebangsaan atau kemasyarakatan, hak milik, kelahiran ataupun kedudukan lain. Bila ditilik dari deklarasi tersebut, kematian Floyd merupakan sebauah pelanggaran besar terhadap hak asasi seperti hak hidup, hak untuk mendapat keadilan, hak atas perlindungan hukum, dan hak untuk tidak disiksa dan diperlakukan secara kejam.

Kematian Floyd mengundang aksi-aksi kemanusiaan yang dilakukan oleh ribuan orang di berbagai kota di AS. Aksi ini bertujuan untuk mengubah dan menentang adanya perlakuan rasis, serta menuntut adanya keadilan atau perlakuan yang setara bagi semua orang.

Beragam slogan dan tagar dengan tajuk Black Lives Matter mulai membanjiri media sosial, sebagai kampanye dengan tujuan mencptakan adanya persamaan, menghilangkan supremasi orang berkulit putih, serta memberdayakan kekuatan lokal untuk melawan ketidakadilan yang menimpa kehidupan orang-orang kulit hitam.

Perlakuan rasis di AS memang kerap kali dijumpai, tetapi dengan adanya unjuk rasa yang dilakukan masyarakat AS atas kematian Floyd, menunjukkan bahwa juga banyak dari mereka yang memiliki hati nurani dan rasa kemanusiaan yang tinggi.

 

Syifa SY
Penulis adalah fakir ilmu yang selalu tertarik untuk belajar
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Polemik Pernikahan Dini Masa Pandemi

Menyebarnya virus covid 19 di Indonesia sangat cepat dan menyeluruh ke berbagai wilayah dari kota besar sampai daerah pelosok desa. Virus ini terjadi mulai...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

Revitalisasi Bahasa Daerah Melalui Tradisi Santri

Bahasa daerah merupakan bahasa awal yang digunakan manusia dalam berkomunikasi. Melihat bahasa daerah di Indonesia sangat banyak ragamnya dan merupakan kekayaan budaya Indonesia, seiring...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.