Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Keluarga sebagai Sekolah

Kebangkitan atau Kehancuran Nasional Pasca Pilpres?

Tak terasa perayaan Hari Kebangkitan Nasional pada tahun ini, yang baru saja kita lewati beberapa hari lalu, memasuki angka yang terbilang ‘cukup cantik’: 111....

Dari Etos Kompetitif Menuju Etos Kolaboratif

Agaknya tidak ada teori yang lebih kontroversial dari Teori Evolusi Darwinian. Setelah mengarungi lautan menumpang KMS Beagle dan mengklaim ide ‘evolusi kompetitif’-nya di Galapagos,...

Ketika Mandulnya Gerakan Mahasiswa

Potret mahasiswa sebelum reformasi adalah kaum terpe­lajar In­donesia yang sangat dekat dengan “akar rumput’ masyarakat Indonesia. Mereka disamping mengikut rutinitas perkulia­han, pun juga aktif...

Move On dari PNS!

Masa depan adalah hal yang sangat rentan namun paling sering dibicarakan. Banyak hal yang dilakukan oleh seseorang agar masa depannya terjamin. Arti kata “terjamin”...
Anicetus Windarto
Peneliti di Lembaga Studi Realino, Sanata Dharma, Yogyakarta

Tanggal 29 Juni adalah Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang diperingati setiap tahunnya. Peringatan itu menjadi momentum yang tepat untuk mendalami makna dari keluarga, khususnya di zaman yang oleh pujangga Jawa kenamaan, R. Ng. Ronggawarsita III (1802-1873), telah diramalkan sebagai “zaman edan”.

Itu artinya, cara pandang terhadap keluarga di zaman ini diharapkan dapat semakin berkembang dan menjadi semacam “sekolah” yang memungkinkan setiap orang untuk belajar secara mandiri dan tanpa pamrih.

Dalam konteks ini, Saya Sasaki Shiraishi dalam bukunya yang berjudul Pahlawan-pahlawan Belia. Keluarga Indonesia dalam Politik (KPG, 2001) menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja Indonesia, khususnya di era Orde Baru, memiliki makna khusus. Artinya, mereka bukan semata-mata dipandang berdasar usia antara 6-12 untuk anak-anak dan 13-22 tahun untuk remaja, namun juga dianggap memiliki kekuatan yang disebut “liar” dan “labil”.

Karena itulah, tak jarang mereka mendapat pengawasan yang melekat (waskat), entah dalam bentuk lisan (kata-kata) maupun tulisan (simbol). Apalagi suara mereka yang diibaratkan seperti bunyi “wek-wek-wek” dari sekumpulan bebek kerap dinilai sebagai suatu kegaduhan dari pada sebuah kreativitas. Maka tak heran jika keberadaan mereka tampak lebih sering diabaikan daripada diperhatikan hingga saat ini.

Pada titik ini, Harganas dapat menjadi media yang efektif dan operatif untuk lebih memperkenalkan keluarga sebagai sekolah. Itu artinya, keluarga dihadirkan bukan sekadar sebagai ruang-ruang kelas yang menjejali peserta didik dengan beragam ilmu belaka.

Namun, hal itu perlu juga didukung dan dibantu dengan menciptakan hubungan sosial yang berpotensi membiarkan setiap orang bebas berkreasi dan berinisiatif. Salah satunya dengan membentuk relasi kekeluargaan atau famili-isme yang oleh Ki Hadjar Dewantara dijadikan dasar bagi gerakan pendidikan nasional, khususnya melalui Taman Siswa di tahun 1920-an.

Apa sesungguhnya kekhasan dari gerakan pendidikan itu? Pertama, sebagai bagian penting dari gerakan nasionalis awal di Indonesia, sejak semula pendidikan dirancang dengan membebaskan anak-anak untuk bermain dan belajar menurut kemampuan dan kemauan sendiri.

Tentu saja para guru tetap mengawasi dan membimbing mereka bukan dengan mata yang menghukum, tetapi memberi keteladanan yang mencerminkan tanggungjawab dan perhatian berdasar kesetaraan dan persaudaraan.

Kedua, penyebutan “bapak” atau “ibu” terhadap mereka yang lebih tua bukan dilandasi oleh hubungan kekuasaan atau otoritas yang menyiratkan superioritas dan inferioritas status, melainkan hormat pada yang dituakan.

Dengan kata lain, hubungan antara anak dan bapak atau ibu dimungkinkan untuk berbeda pendapat misalnya. Namun perbedaan itu tidak membuat siapapun berhak untuk menghakimi, bahkan menghukum, mereka yang dianggap tidak setara, apalagi tidak bisa atau punya apa-apa. Penghargaan seorang terhadap yang lain adalah kunci dari gerakan pendidikan yang toleran, plural dan tajam.

Ketiga, dalam pendidikan tidak dikenal adanya hukuman. Yang “bersalah” dituntut untuk membuat suatu pengakuan dan dituntun untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan secara ksatria. Dalam arti ini, anak-anak didik diajar untuk tahu diri, mengerti tugas dan konsekuensi dari segala keputusan beserta tindakannya.

Hal itu digambarkan dengan baik dalam sebuah cerita pewayangan di mana sosok Abimanyu tidak takut menentang kakeknya demi dapat bertemu dengan Arjuna, ayahnya sendiri. Begitu  pula dengan para pemuda (Sukarni, Wikana dan Singgih) yang menculik Sukarno-Hatta dan dibawa ke Rengasdengklok sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI 17-8-1945 demi ketetapan hati dan rasa cinta yang berkobar-kobar pada Indonesia.

Pada tataran inilah sosok “bapak” atau “ibu” sebagai pemandu, guru, dan penjaga memainkan peran dan fungsi penting dalam konsep kekeluargaan/famili-isme yang dikaji ulang melalui pendidikan di sekolah atau kelas.

Tiga kekhasan pendidikan dengan model “gaya keluarga’ di atas tampak masih relevan dan signifikan untuk dioperasionalkan di masa kini mengingat masalah dan tantangan dalam dunia pendidikan saat ini semakin tak terduga.

Terutama dengan menjadikan keluarga sebagai sekolah, dunia pendidikan diharapkan mampu mengembangkan bukan hanya segala potensi akademik, tetapi sekaligus jiwa dan roh kebebasan dari para pembelajar. Mengutip pesan penuh makna dari Ki Hadjar Dewantara bahwa “setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah”, maka menjadikan keluarga sebagai sekolah bukanlah sesuatu yang tak terbayangkan sama sekali.

Anicetus Windarto
Peneliti di Lembaga Studi Realino, Sanata Dharma, Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.