Selasa, Maret 2, 2021

Kekuasaan dan Rayuan Praktik Korupsi

Euforia Persija dan Nasionalisme Simbolik

Harus diakui, kemenangan Persija Jakarta 3-0 atas Bali United Sabtu (17/2) lalu, memberikan euforia tersendiri bagi para The Jack mania—Pendukung setia Persija. Keberhasilan Persija...

Puan Maharani, Tugas Kemanusiaan, dan HAM

Dalam selayang pandang, kita seperti tidak melihat hasil dari pembangunan jika tak bisa “diwujudkan” di depan mata. Maka wajar ketika apresiasi yang ada, didapatkan...

Demonstrasi dan Gagal Pahamnya Salafi

Pra-reformasi pada tahun 1998, Indonesia dipimpin rezim otoriter. 32 tahun Orde Baru menjalankan pemerintahan dengan kekuatan besi.  Kebebasan berpendapat menjadi barang langka ditemukan. Masyarakat...

Titik Nadir HMI Kita

HMI selalu layak dan menarik diperbincangkan dari aneka ragam perspektif dan berbagai macam sudut pandang. Sebab, HMI telah memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi...
Muh Fahrurozi
Alumni Universitas Negeri Makassar Angkatan 2015. Relawan dan Pemerhati Pendidikan.

Mungkin sudah seringkali kita mendengar bahwa korupsi di negeri ini sudah menjadi budaya baru. Pasalnya, praktek korupsi tidak lagi di lakukan di kalangan politisi saja, perbuatan picik itu sudah menjalar sampai ke lingkungan akademis dan religius pun ikut-ikutan terbawa arus.

Bahkan hal sialan semacam itu pun mulai masuk kedalam lembaga-lembaga kemahasiswaan yang selama ini jelas menentang dengan keras segala hal yang berbau korupsi, kolusi, dan nepotisme. Kalau sudah begitu, apakah kita yang saat ini sebagai generasi pelanjut tongkat estafet akan ikut tergoda oleh rayuan itu?

Praktek korupsi memang selalu menjadi hal yang paling menggiurkan dikarenakan untuk mendapatkan keuntungan yang banyak, seseorang tidak perlu capek dan keluar keringat lebih.

Sepertinya perjuangan untuk menyelamatkan negeri ini kedepannya menjadi tantangan yang begitu berat bagi mereka-mereka yang negarawan. Mudah-mudahan nanti saya termasuk salah satu dari negarawan itu.

Praktek korupsi tidak sebatas seperti yang dilakukan oleh politikus-politikus, yang terpampang dimedia-media. Perbuatan semacam ini sudah melembaga, dan itu mungkin yang menjadikan beberapa orang menarik kesimpulan bahwa negeri kita punya budaya baru, yaitu budaya korupsi.

Kebiasaan pungli dan suap menyuap saat ditilang, mengurus KTP, memasukan anak kesekolah unggulan/favorit, sampai money politic saat pilkades, pilrek, pilkada dan pilpres, serta upeti untuk atasan agar mendapatkan atau untuk mempertahankan jabatannya. Semua itupun praktek korupsi yang selalu kita sepelekan.

Fenomena korupsi memang takkan pernah habis untuk diperbincangkan di negeri ini. Sejak era kolonialisme, hingga era kemerdekaan dimulai dari rezim kuasa Orla, rezim totaliter orba sampai pada era reformasi yang selalu mengatasnamakan diri sebagai yang paling demokratis, korupsi begitu subur hingga negeri ini mendapatkan predikat sebagai salah satu Negara terkorup didunia.

Bukannya saya ingin pesimis melihat bagaimana perjalanan negeri ini, maka tidak salah jika harus harus mengutuk rezim orba yang telah membuka kran praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme sehingga efeknya sampai dengan hari ini bahkan merajalela.

Rezim orba mungkin tidak terlalu separah rezim sekarang. Dulu, praktek busuk itu hanya terjadi dalam lingkaran eksekutif semata, dan sekarang? Mungkin saya tidak perlu menjelaskannya, sebab yang paling kuduspun (Orang-orang beragam) ikut terbawa arus praktek sialan yang bernama korupsi ini.

Dan lebih sialannya lagi, praktek ini dilakukan berkelompok-kelompok. Oh Indonesia ku, kau amat menyedihkan. Mereka yang berkuasa memanfaatkan namamu untuk kepentingan mereka sendiri.

Semakin banyak jumlah nol (‘0’), semakin runtuh idealism yang dibangun. Tidak bedah jauh seperti dabu yang sekali tersapu angin, maka hilang dan terbang entah kemana. Begitulah kenyataan yang tengah kita hadapi saat ini, korupsi telah mebuat tatanan moralitas dan stabilitas ekonomi dan politik menjadi pora-poranda.

Mereka yang tertuduh dan terbukti berbuat korupsi seakan tidak memiliki beban atau rasa malu di hadapan public. Bahkan konon, kalau ada pejabat yang tidak bisa mengeruk kekayaan Negara, maka akan dianggap tidak sukses kariernya di pentas politik. Kasus E-KTP dan beberapa barisan perbuatan biadab seperti itu di negeri ini menjadi sebaris bukti nyata.[]

Muh Fahrurozi
Alumni Universitas Negeri Makassar Angkatan 2015. Relawan dan Pemerhati Pendidikan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.