Minggu, April 11, 2021

Kekerasan Pelajar, Masalah yang Masih Belum Teratasi

Sekolah Unggulan dan Soal Segregasi Manusia

Tahun ajaran baru telah ada di depan mata. Tiga bulan ke depan orang tua akan banyak disibukkan dengan aktivitas menggali informasi tentang sekolah terbaik...

Analisis Aksi Damai Reuni 212 dalam Perspektif Lingkup Identitas

Pertanyaan tersebut disodorkan oleh seorang ekonom, Amartya Sen dalam bukunya “Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas” yang juga peraih Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1998, melihat...

Sihar Sitorus, Hoax, dan Pilgub Sumut yang Berkualitas

Cara kita mendapatkan ilmu semakin maju. Sementara kebenaran informasi yang kita terima semakin terbelakang. Kita hidup di dua dunia. Pertama, dunia nyata yang penuh...

Widji Thukul, Reaktansi dan Peringatan

Setelah 22 tahun menghilang, saya rasa kita patut mengakui bahwa Widji Thukul lebih tahu Indonesia daripada saya, Anda dan kita semua. Sajak-sajaknya masih sangat...
Galang Dwi Putra
Mahasiswa S1 Antropologi Budaya UGM

Istimewa negerinya istimewa orangnya itulah Yogyakarta, tempat yang sederhana dan memberikan kenyamanan untuk masyarakatnya. Yogyakarta adalah kota yang kaya akan budayanya dan juga terkenal dengan julukannya yaitu “Jogja kota pelajar”. Julukan ini tentunya dapat dibuktikan dengan banyaknya prestasi yang ditorehkan oleh murid-muridnya maupun sekolahnya.

Sejak dahulu kota ini sudah menjadi tujuan para perantau untuk bersinggah diri, banyak orang berbondong-bondong untuk pergi ke Jogja demi menempuh pendidikan yang berkualitas berharap mendapat hasil yang lebih baik. Sampai saat ini Jogja masih menjaga julukanya sebagai kota pelajar. Tapi, dibalik kualitas pendidikan yang baik Jogja juga mempunyai permasalahan dan catatan kelam yang sampai saat ini belum selesai, yaitu kekerasan pelajar.

Hampir menginjak 2 tahun luka kelam bagi dunia pendidikan kita akibat kasus kekerasan pelajar yang menewaskan siswa SMA di Yogyakarta . Kasus tewasnya siswa di Yogyakarta ini bukan hanya sesekali, tetapi sudah banyak korban yang menjadi contoh. Salah satu kekerasan pelajar yang sering terjadi adalah tawuran.

Tawuran sendiri  merupakan suatu fenomena yang kausatif, dan juga memiliki banyak latar belakang, terutama dilihat dari posisi dan kondisi pelajar yang melakukan hal tersebut. Pada dasarnya, banyak peneliti yang telah melihat penyebab  mereka melakukan aksi tawuran. Berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan, seperti psikologi, sosiologi, pendidikan, agama, dan lain sebagainya telah mencoba memberikan pengungkapan masalah dan latar belakang masalah sesuai dengan dsiplin ilmu mereka.

Penyebab tawuran yang umum terjadi adalah karena adanya dorongan yang kuat dari senior untuk melanjutkan budaya tawuran yang ada. Didukung dengan doktrin tentang dendam antar sekolah, mereka merasa bahwa dengan melakukan perlawanan, mereka dapat menunjukkan eksistensi diri sehingga dapat diakui kehebatannya. Doktrin yang ada bisa memengaruhi mereka, didukung karena pada masa usia SMA, mereka memang masih dalam tahap pencarian jati diri.

Peer group, atau teman bergaul sangatlah memengaruhi mereka. Jadi, lingkungan pergaulan juga tak kalah kuat sebagai salah satu factor yang menyebabkan pelajar melakukan aksi tawuran. Budaya ‘ikut-ikutan saja’ juga merupakan hasil dari pergaulan yang menuntut mereka melakukan tindakan yang dianggap sebagai bentuk loyalitas terhadap peer group dan kelompok

Kekerasan pelajar ini tidak serta merta lahir begitu saja, tetapi banyak faktor yang melatarbelakangi timbulnya kekerasan pelajar ini. Salah satu faktor yang melatarbelakanginya adalah faktor pengawasan. Sudah sejak lama kekerasan pelajar ini sulit diatasi karena pengawasan yang kurang maksimal. Pengawasan ini hanya dilihat dari kacamata eksternalnya saja (luar) tanpa mempertimbangkan faktor internal (dalam). Kekerasan pelajar di Jogja bermula dari terbentuknya sebuah geng pelajar yang menjalar ke berbagai sekolah.

Geng pelajar ini memiliki ikatan yang sangat kuat sehingga sangatlah sulit untuk dibubarkan. Geng pelajar ini pun memiliki sistem perkaderan yang dimana dengan cara menggunakan pemaksaan dan juga menciptakan budaya senior-junior. Budaya senior – junior di dalam sekolah masih berlaku untuk sekolah yang memiliki geng pelajar.

Budaya senior-junior inilah yang menjadi senjata utama para geng pelajar untuk menambah jumlah anggota. Tak jarang juga pemaksaan dilakukan oleh senior kepada junior untuk masuk ke dalam geng tersebut. Dengan adanya budaya senior – junior maka akan berdampak kepada munculnya kasus – kasus bullying dan kekerasan pelajar lainnyaPenyelesaian kasus kekerasan pelajar ini harus dengan pendekatan dari dalam, pihak sekolah, aparat keamanan, maupun masyarakat luas perlu melebur jadi satu dengan mereka. Cara – cara yang lebih manusiawi adalah solusi utamanya.

Timothy D. Walker dalam bukunya Teach Like Finland mengungkapkan pengalamannya saat mengajar disalah satu sekolah Finlandia. Buku ini dapat mengajarkan kita tentang pentingnya meluangkan waktu yang lebih untuk murid dari sini pihak sekolah melalui guru dapat lebih dekat dengan para murid. Dengan meluangkan waktu dengan mereka kita dapat memahami apa yang menjadi masalah dalam diri mereka. Pendekatan yang dicontohkan Timothy inilah yang perlu dilakukan oleh pihak sekolah.

Selain sekolah, keluarga juga sangat berperan dalam mendorong keputusan pelajar-pelajar tersebut dalam mengambil keputusan untuk melakukan aksi tawuran. Pelajar yang kami wawancarai mengaku bahwa ia memiliki masalah keluarga yang membuatnya frustasi, dan memilih untuk mencemplungkan diri ke dalam dunia tawuran sebagai pelampiasan dari luapan emosi yang ia miliki. Kondisi keluarga bisa kami nilai sebagi proses social yang dalam perkara ini diabaikan sehingga kemudian menyebabkan konflik batin bagi anak. Peran-peran pendekatan para aktor inilah yang akan menjadi salah satu solusinya.

Dari pendekatan-pendekatan diatas kita akan menemukan sebuah titik temu. Dimana solusi meredam bahkan menghilangkan budaya kekerasan yang dilakukan oleh segerombolan pelajar ini dengan cara mengenal mereka terlebih dahulu dan masuk lebih jauh ke dalam kehidupan mereka. Dengan begitu kita dapat berdamai sekaligus menjadi jembatan untuk berdamai dengan diri mereka masing-masing.

Galang Dwi Putra
Mahasiswa S1 Antropologi Budaya UGM
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

Barter Fatwa, Bolehkah?

Saya tersentak atas pemberitaan media yang mensinyalemen adanya barter fatwa. Barter fatwa yang dimaksud adalah menukar fatwa halal dengan jabatan komisaris sebuah BUMN. Majalah Tempo...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.