OUR NETWORK

Kekerasan Pelajar, Masalah yang Masih Belum Teratasi

“Bunga-bunga bangsa tahun depan berkunang-kunang pandang matanya, di bawah iklan berlampu neon, Berjuta-juta harapan ibu dan bapak menjadi gemalau suara yang kacau,menjadi karang di bawah muka samodra” – Sajak Sebatang Lisong (WS Rendra)

Istimewa negerinya istimewa orangnya itulah Yogyakarta, tempat yang sederhana dan memberikan kenyamanan untuk masyarakatnya. Yogyakarta adalah kota yang kaya akan budayanya dan juga terkenal dengan julukannya yaitu “Jogja kota pelajar”. Julukan ini tentunya dapat dibuktikan dengan banyaknya prestasi yang ditorehkan oleh murid-muridnya maupun sekolahnya.

Sejak dahulu kota ini sudah menjadi tujuan para perantau untuk bersinggah diri, banyak orang berbondong-bondong untuk pergi ke Jogja demi menempuh pendidikan yang berkualitas berharap mendapat hasil yang lebih baik. Sampai saat ini Jogja masih menjaga julukanya sebagai kota pelajar. Tapi, dibalik kualitas pendidikan yang baik Jogja juga mempunyai permasalahan dan catatan kelam yang sampai saat ini belum selesai, yaitu kekerasan pelajar.

Hampir menginjak 2 tahun luka kelam bagi dunia pendidikan kita akibat kasus kekerasan pelajar yang menewaskan siswa SMA di Yogyakarta . Kasus tewasnya siswa di Yogyakarta ini bukan hanya sesekali, tetapi sudah banyak korban yang menjadi contoh. Salah satu kekerasan pelajar yang sering terjadi adalah tawuran.

Tawuran sendiri  merupakan suatu fenomena yang kausatif, dan juga memiliki banyak latar belakang, terutama dilihat dari posisi dan kondisi pelajar yang melakukan hal tersebut. Pada dasarnya, banyak peneliti yang telah melihat penyebab  mereka melakukan aksi tawuran. Berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan, seperti psikologi, sosiologi, pendidikan, agama, dan lain sebagainya telah mencoba memberikan pengungkapan masalah dan latar belakang masalah sesuai dengan dsiplin ilmu mereka.

Penyebab tawuran yang umum terjadi adalah karena adanya dorongan yang kuat dari senior untuk melanjutkan budaya tawuran yang ada. Didukung dengan doktrin tentang dendam antar sekolah, mereka merasa bahwa dengan melakukan perlawanan, mereka dapat menunjukkan eksistensi diri sehingga dapat diakui kehebatannya. Doktrin yang ada bisa memengaruhi mereka, didukung karena pada masa usia SMA, mereka memang masih dalam tahap pencarian jati diri.

Peer group, atau teman bergaul sangatlah memengaruhi mereka. Jadi, lingkungan pergaulan juga tak kalah kuat sebagai salah satu factor yang menyebabkan pelajar melakukan aksi tawuran. Budaya ‘ikut-ikutan saja’ juga merupakan hasil dari pergaulan yang menuntut mereka melakukan tindakan yang dianggap sebagai bentuk loyalitas terhadap peer group dan kelompok

Kekerasan pelajar ini tidak serta merta lahir begitu saja, tetapi banyak faktor yang melatarbelakangi timbulnya kekerasan pelajar ini. Salah satu faktor yang melatarbelakanginya adalah faktor pengawasan. Sudah sejak lama kekerasan pelajar ini sulit diatasi karena pengawasan yang kurang maksimal. Pengawasan ini hanya dilihat dari kacamata eksternalnya saja (luar) tanpa mempertimbangkan faktor internal (dalam). Kekerasan pelajar di Jogja bermula dari terbentuknya sebuah geng pelajar yang menjalar ke berbagai sekolah.

Geng pelajar ini memiliki ikatan yang sangat kuat sehingga sangatlah sulit untuk dibubarkan. Geng pelajar ini pun memiliki sistem perkaderan yang dimana dengan cara menggunakan pemaksaan dan juga menciptakan budaya senior-junior. Budaya senior – junior di dalam sekolah masih berlaku untuk sekolah yang memiliki geng pelajar.

Budaya senior-junior inilah yang menjadi senjata utama para geng pelajar untuk menambah jumlah anggota. Tak jarang juga pemaksaan dilakukan oleh senior kepada junior untuk masuk ke dalam geng tersebut. Dengan adanya budaya senior – junior maka akan berdampak kepada munculnya kasus – kasus bullying dan kekerasan pelajar lainnyaPenyelesaian kasus kekerasan pelajar ini harus dengan pendekatan dari dalam, pihak sekolah, aparat keamanan, maupun masyarakat luas perlu melebur jadi satu dengan mereka. Cara – cara yang lebih manusiawi adalah solusi utamanya.

Timothy D. Walker dalam bukunya Teach Like Finland mengungkapkan pengalamannya saat mengajar disalah satu sekolah Finlandia. Buku ini dapat mengajarkan kita tentang pentingnya meluangkan waktu yang lebih untuk murid dari sini pihak sekolah melalui guru dapat lebih dekat dengan para murid. Dengan meluangkan waktu dengan mereka kita dapat memahami apa yang menjadi masalah dalam diri mereka. Pendekatan yang dicontohkan Timothy inilah yang perlu dilakukan oleh pihak sekolah.

Selain sekolah, keluarga juga sangat berperan dalam mendorong keputusan pelajar-pelajar tersebut dalam mengambil keputusan untuk melakukan aksi tawuran. Pelajar yang kami wawancarai mengaku bahwa ia memiliki masalah keluarga yang membuatnya frustasi, dan memilih untuk mencemplungkan diri ke dalam dunia tawuran sebagai pelampiasan dari luapan emosi yang ia miliki. Kondisi keluarga bisa kami nilai sebagi proses social yang dalam perkara ini diabaikan sehingga kemudian menyebabkan konflik batin bagi anak. Peran-peran pendekatan para aktor inilah yang akan menjadi salah satu solusinya.

Dari pendekatan-pendekatan diatas kita akan menemukan sebuah titik temu. Dimana solusi meredam bahkan menghilangkan budaya kekerasan yang dilakukan oleh segerombolan pelajar ini dengan cara mengenal mereka terlebih dahulu dan masuk lebih jauh ke dalam kehidupan mereka. Dengan begitu kita dapat berdamai sekaligus menjadi jembatan untuk berdamai dengan diri mereka masing-masing.

Mahasiswa angkatan 2017

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…