Jumat, Oktober 30, 2020

Kekerasan di Sekolah, Salah Siapa?

Media Indonesia dalam Pusaran Terorisme

Peristiwa Bom Gereja Santa Maria di Surabaya (2018) dan serangkaian aksi teror beruntun baru-baru ini merupakan andil dari glorifikasi pemberitaan yang dibuat oleh media-media...

Sang Negarawan

Terimpit bertumpuk masalah sejak lama, Indonesia mendambakan sosok negarawan muncul dalam setiap Pemilu, termasuk Pemilu 2019. Sebagai sosok yang bijak dan adil, seorang negarawan...

Kepala Daerah Karantina Wilayah, Siapa yang Salah?

Kalangan analis memperkirakan pandemi Coronavirus Disease atau Covid-19 akan terus berlanjut hingga mencapai puncaknya menjelang akhir April dan awal Mei. Perkiraan itu bisa saja...

Belajar dari Ahmad Wahib Di Pinggir Waduk

Di antara sekian banyak pertanyaan yang menggetarkan dalam Pergolakan Pemikiran Islam catatan harian Ahmad Wahib, ada satu bagian yang mustahil saya lupakan: “… Aku...
Joelinus Hidayat
I'm a college student that concern about political and social problems that occur in the society.

Lembaga pendidikan yang seharusnya ideal untuk mendidik siswa malah tidak melakukan tugasnya dengan benar. Dilansir dari website kpai.go.id kasus kekerasan terhadap guru meningkat drastis di tahun 2019 dibanding tahun 2018 yang hanya ada satu. Guru yang seharusnya dihormati siswa juga mengalami tindak kekerasan. Banyaknya kasus kekerasan yang ada ini menggambarkan bahwa ada kesalahan dalam sistem pendidikan ini.

Faktor mendasar yang menyebabkan hal ini terjadi adalah sistem pendidikan di Indonesia yang sudah tidak kompatibel dengan jaman sekarang.

Sistem pendidikan yang menggunakan nilai akademik sebagai acuan keberhasilan seorang siswa atau sebuah lembaga pendidikan akan menciptakan generasi yang memiliki pendidikan karakter rendah. Padahal pendidikan karakter sangatlah penting untuk perkembangan siswa.

Kurangnya pendidikan karakter disaat siswa masih dalam proses transisi menjadi dewasa berdampak pada karakter siswa di kemudian hari. Masa transisi ini atau masa pubertas kerap membuat siswa menjadi pribadi yang menjengkelkan, merasa benar dan tidak mau salah.

Jika pendidikan karakter dan pengendalian emosi tidak diberikan sejak awal, siswa akan sangat sensititif terhadap masukan yang tidak sesuai dengan jalan pikir mereka. Hal ini tentu saja bisa membuat siswa melakukan tindakan kekerasan karena minimnya pendidikan karakter yang didapat.

Siswa bahkan menganggap guru tidak seharusnya memberitahu mana yang benar dan baik untuk dirinya. Guru dianggap sebagai orang yang tujuannya hanya mengajar materi dalam kelas saja, bukan orang yang mengajarkan nilai–nilai kehidupan.

Padahal tugas utama guru bukanlah hanya memberi materi di kelas, melainkan mendidik siswanya. Tidak heran jika siswa kerap merasa guru bukanlah orang yang tepat untuk mendidik karakter mereka, melainkan hanya orang yang mendidik dalam hal akademik saja.

Sistem pendidikan yang berfokus kepada nilai sebagai ajang keberhasilan membuat siswa akan mengukur kemampuan diri dari nilai yang didapat. Nilai – nilai tentang karakter akan memudar dengan adanya sistem seperti ini.

Siswa akan berusaha sekuat tenanga demi mendapat nilai yang baik, dengan apapun caranya. Seringkali siswa dengan sengaja mencontek hanya demi meraih nilai yang bagus. Hal kecil ini merupakan awal dari penurunan karakter siswa, dan akan terus meningkat jika sistem pendidikan di Indonesia masih menggunakan nilai akademik sebagai acuan keberhasilan.

Jika sistem ini terus menerus diberlakukan, siswa akan kehilangan pendidikan karakter yang sangat penting dalam perkembangan anak menuju dewasa. Siswa akan melegalkan hal yang sebenarnya salah dan menganggap hal itu merupakan sesuatu yang harus dilakukan. Oleh karena itu, masih banyak ditemui kasus kekerasan terhadap guru karena siswa merasa apa yang dilakukannya benar.

Pembentukan karakter seharusnya menjadi fokus dalam kesuksesan lembaga pendidikan. Dengan kontrol emosi yang diajarkan dalam sekolah, siswa akan memiliki pengendalian diri sebelum menentukan tindakan yang mereka akan lakukan. Pembenahan terhadap sistem pendidikan perlu dilakukan untuk mengurangi tindakan kekerasan terhadap guru maupun sebaliknya.

Joelinus Hidayat
I'm a college student that concern about political and social problems that occur in the society.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.