Senin, Januari 25, 2021

Kekerasan di Sekolah dan Problema Kompetensi Guru

Al-Ghazali dan Dimensi Filsafat yang terabaikan

(Tulisan ini disarikan dari dua buah buku Prof. Dr. M. Amin Abdullah dengan judul Antara al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam dan Islamic Studies...

Ego Kita dan Ingatan Komunal

Ego tumbuh dari kedalaman gelap pikiran seperti bunga teratai, membentuk bagian paling penting  dari jiwa - Carl Gustav Jung Seorang pejabat yang sempat bertahun-tahun menjadi...

Di Antara Rasa Sakit dan Kebosanan

Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar tentang sebuah cerita, tatkala sekelompok orang-orang suci hendak memancing bulan di dalam danau, menggunakan jala—sebab mereka yakin bahwa...

Sejarah Sebatas Pengakuan yang Belum Tentu Benar

Sejarah, kata orang-orang, adalah pergulatan melawan lupa. Sebuah pergulatan yang hampir setiap orang akan mengalaminya, sebab setiap saat, setiap dari kita akan senantiasa disuguhkan...
Murdianto An Nawie
Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Perkembangan diri manusia sejak masa kanak-kanak hingga dewasa, salah satunya ditentukan oleh lingkungan keluarga dan sosial. Pakar Ekosistem Pendidikan Urie Bronfenbrenner (2013) menyatakan perkembangan anak dipengaruhi oleh orang-orang yang berada disekitarnya atau dilingkungannya dimana anak tersebut tinggal.

Mulai dari lingkungan kecil (mikrosistem) yakni keluarga, sampai pada sistem yang lebih luas, mulai lingkungan tempat tinggal  sampai pada kehidupan bernegara, dalam hal ini kebijakan pendidikan. Oleh karena itu institusi keluarga yang kuat, lingkungan sosial yang sehat adalah prasyarat utama untuk perkembangan anak. Fakta makin merebaknya berbagai tindak kekerasan, penderitaan, rasisme dan berbagai penyakit sosial yang lain, menunjukkan lingkungan sosial yang makin kehilangan empati. Dan tentu hal ini mengancam masa depan manusia Indonesia

Tak terkecuali disekolah, berbagai fenomena kekerasan dan tindakan yang disebabkan kehilangan empati juga telah terjadi.  Kasus meninggalnya Guru Budi akibat tindak kekerasan siswanya menambah panjang masalah kekerasan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Padahal sejak laporan UNICEF di rilis tahun 2004 fakta telah menunjukkan  di beberapa daerah di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar sebagian kekerasan  terjadi di lingkungan sekolah,  tempat yang selama ini dipercaya paling aman dan terbaik untuk anak. Kekerasan dilakukan oleh guru, siswa bahkan orang tua dan wali siswa.

Komnas Anak (2010) memandang akar munculnya berbagai kekerasan dalam kehidupan sekolah,  ini dapat dilihat dari power relation yang timpang. Salah satunya adalah relasi anak dengan guru. Relasi anak dan guru, salah satunya terwujud dalam interaksi dan komunikasi yang terjadi antara guru terhadap siswanya. Sebagaimana telah dipahami bersama (common sense) pada masyarakat kita bahwa, relasi guru siswa  adalah relasi yang timpang, relasi antar orang dewasa yang tahu segalanya dengan siswa yang ‘tak tahu apa-apa’.

Secara keseluruhan relasi model ini berpotensi mengakibatkan tindakan yang tidak sehat dalam interaksi dan komunikasi guru kepada siswa, dalam bentuk kekerasan, tindakan membentak, menghukum secara berlebihan, menyetrap/mengancam anak didik. Data-data yang ditampilkan dibawah ini merupakan bukti bahwa persoalan ini merupakan masalah bersama yang harus dipecahkan bersama-sama oleh semua pihak terkait, mulai pengembil kebijakan, institusi mendidik calon guru, termasuk para guru sendiri.

Data KPAI dari tahun 2012 menunjukkan kekerasan didunia pendidikan masih merupakan pekerjaan rumah bagi dunia pendidikan kita. Menurut rilis KPAI di tahun 2012, 91% responden anak mengaku masih mendapatkan perlakuan tindak kekerasan di keluarga; 87,6% responden anak mengaku mengalami tindak kekerasan di lingkungan sekolah dan 17,9% responden anak yang pernah mengalami bentuk perlakuan kekerasan di masyarakat. Belum lagi data-data tentang maraknya guru yang mengalami reaksi kekerasan baik dari siswa maupun orang tua siswa, menambah panjang daftar hitam, kekerasan dilingkungan pendidikan

Fakta relasi guru – anak didik antara guru dan siswa terutama ditingkat pendidikan dasar, berada dalam relasi yang amat timpang (subyek-obyek), akibatnya interaksi cenderung linear, dari guru ke siswa. Komunikasi verbal dan non verbal guru kepada siswa cenderung tak setara, menyuruh, memerintah, relasi yang timpang ini sering berakibat pada terjadinya tindakan kekerasan.

Kegagalan guru menjalankan tugasnya menjalankan relasi yang sehat dengan anak didiknya, menjadi akar terjadinya komunikasi yang tidak sehat, dan juga berbagai bentuk kekerasan guru kepada anak didiknya terutama di level pendidikan dasar.

Hal ini terjadi karena guru gagal membangun relasi positif dengan siswa dalam proses pendidikan. Relasi yang sehat ini membutuhkan guru yang memiliki empati dan kepedulian yang tinggi. Sejak awal guru adalah orang tua sekaligus sahabat siswa disekolah, empati dan kepedulian guru kepada siswa dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar siswa akan cinta, harga diri dan kebutuhan hubungan sosialnya.

Ketika siswa sudah beranjak ke tingkat remaja akhir atau dewasa awal, kegagalan membangun relasi positif antara guru siswa, bisa berujung pada tindak kekerasan, yang kadangkala justru mengorbankan guru itu sendiri. Kasus Sampang beberapa saat yang lalu adalah contoh nyata.

Hal ini terkait dengan kompetensi kepribadian (personal competence) yang harus dimiliki guru, yakni kemampuan untuk memberi penghargaan, kepedulian, berempati terhadap perbedaan individual yang dimiliki siswa.

Penguasaan kompetensi kepribadian pada guru adalah satu prasyarat yang harus dimiliki guru sebagai bagian dari keseluruhan kompetensi yang harus dimiliki guru dalam proses belajar mengajar yang akan dilakukannya. Dalam hubungan individual guru dengan siswanya didalam kelas, guru akan dapat memaksimalisasi pengaruh moral yang positif jika dia mampu memerankan untuk memberi keteladanan, pelayanan sebagai effective caregiver (pemberi kepedulian yang efektif), model moral dan mentor yang etis.

Kompetensi kepribadian guru, dalam kaitannya dengan kemampuan berempati terhadap peserta didiknya sangat penting bagi guru, karena guru memiliki peran dalam pemenuhan kebutuhan dasar siswanya. Salah satu kebutuhan hubungan dasar manusia adalah kebutuhan sosial, termasuk kebutuhan manusia terhadap empati orang lain.

Jika siswa gagal mendapatkan penerimaan, empati dan perhatian serta penghargaan atas diri mereka dari orang lain disekitarnya, siswa tersebut akan mengalami hambatan dalam mencapai tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi. Siswa lahir menjadi manusia minim empati, yang rentan terpapar untuk melakukan tindak kekerasan kepada orang lain.

Murdianto An Nawie
Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.