Rabu, Oktober 28, 2020

Kejutan untuk Cebong dan Kampret

Climate Change as Humanity Reflection

Climate change is a popular terminology for more than a decade due to potentially causing catastrophe. Then, international and national forum, the discourse to...

Liga Premier Gusur Dominasi La Liga

Selama lima tahun berturut-turut sejak 2014, gelaran Liga Champions didominasi oleh tim asal La Liga yang diwakili Real Madrid dan Barcelona. Kedua tim tersebut...

Pidato Mega, Goncangan Pembentukan Kabinet Jokowi?

Pidato Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pada pembukaan Kongres V di Sanur Bali kamis (8/8), menuai banyak reaksi dari publik. Selain pidatonya yang terlihat...

Melacak Inferioritas Rasial Bangsa Kita dari Orientalisme

Masih segar di ingatan kita bahwa media-media arus utama beberapa waktu lalu “membombardir” linimasa  masyarakat digital dengan komodifikasi pernikahan lintas-ras antara surfer asal Magelang...
zainul abidin
Magister Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Dan sekarang menjadi Asisten Peneliti di Center for Election and Political Party (CEPP) Fisip Universitas Indonesia.

Pertemuan antara Megawati dan Prabowo pada 24 Juli 2019 menguatkan dominasi oligarki politik dalam dinamika saat dan setelah pemilihan presiden (pilpres) tahun 2019. Hampir semua dinamika politik di bawah kendali kekuasaan oligark politik, yaitu pemilik dan pemimpin partai politik.

Megawati menjamu Prabowo dengan menu koalisi. Respon mengejutkan dari Prabowo yaitu bersedia menjadi bagian dari koalisi pemerintah. Status dan dinamika ini meretas polemik dan konflik pada saat pilpres yang lalu. Namun babak baru dari drama politik bergelindung seperti bola panas di antara oligark politik.

Pemilik partai Nasdem yaitu Surya Paloh merepon tindakan politik Megawati yaitu dengan mengundang penguasa dan pimpinan partai pengusung Jokowi. Surya Paloh mengundang Muhaemin Iskandar (PKB), Erlangga Hertarto (Golkar), dan pimpinan partai lain untuk memebicarkan peta koalisi baru pemerintah.

Tindakan politik Surya Paloh tersebut, menandakan ada perseteruan yang mengerucut di antara oligark. Kepentingan yang saling menyerempet pemicu keharmonisan koalisi. Dan kecenderungan dari oposisi yaitu status politik yang disebabkan kepentingan yang tidak terakomodasi.

Pembubaran Koalisi Indonesia Kerja (KIK) dan Surya Paloh akan mengusung Gubernur DKI Jakarta yaitu Anies Baswedan sebagai Calon Presiden Republik Indonesia tahun 2024 sebagai tanda panasnya tarik menarik kepentingan. Baik dalam tindakan koalisi maupun status oposisi. Pembelahan tajam di dalam masyarakat mengarusutamakan kepentingan politik oligark.

Cebong dan Kampret Polarisasi Arus Bawah

Polarisasi politik antara Cebong dan Kampret bertujuan untuk melayani dan memuaskan hasrat dan kepentingan politik oligark. Kesimpulan ini ditarik dari relasi oligark politik saat ini, terutama antara Megawati dan Surya Paloh dan atau Megawati dan Prabowo. Label Cebong dan Kampret bukan untuk oligarknya, akan tapi disematkan di konstituen politiknya.

Ketegangan dan pembelahan Cebong dan Kampret karena fanatik politik di arus bawah. Sentimen politik dangkal dan emosional yang ada di pendukung dan simpatisan dan atau yang tidak memiliki ikatan kepentingan yang jelas yang mengarusutamakan pembelahan antara Cebong dan Kampret.

Bagi oligark, kondisi tersebut akan merawat loyalitas dari konstituen politiknya. Keuntungan yang lain bagi oligark yaitu konstituen dan masyarakat seutuhnya tidak memahami relasi politik dari pembelahan sosial tersebut. Apalagi kepentingan politik yang mengikat di antara oligark politik.

Berkembangbiaknya Cebong dan Kampret didukung oleh isu yang sudah mengakar dan mendarah daging di masyarakat. Ditungganginya isu Islam dan PKI menyuburkan simpul-simpul Cebong dan Kampret di arus bawah. Hal tersebut dapat menakar loyalis dan konstituen pada pilpres 2019.

Jawa Barat dan Banten menjadi lumbung suara Prabowo dan Jawa Tengah tetap menjadi lumbung suara Jokowi. Di masyarakat Islam sendiri, Cebong cenderung masyarakat Islam yang abangan, sedangkan Kampret cenderung masyarakat Islam kategori santri. Di antara oligark sendiri tidak mepersoalkan ketegangan yang terjadi. Yang menjadi persoalan di oligark yaitu jatah dan kursi yang tambah dan tergerus.

Kabinet Indonesia Kerja ke-2 dari Joko Widodo akan merepresentasi kepentingan oligark. Komposisi dan akomodasi kepentingan oligark di kabinet akan kontras dengan dinamika politik masyarakat yang mengerucut ekstrim. Karena sentimen politik agama menjadi benang kusut di perpolitikan di Indoensia. Maka susah untuk diuraikan dalam tempo yang singkat.

Oleh sebab itu, kabinet Jokowi akan mengejutkkan masyarakat yang terpapar rivalitas antara Cebong dan Kampret. Semua akan tercengang dengan dinamika oligark politik yang memainkan remot kontrol dalam berbagai drama politik. Jadi rakyat kecillah yang merupakan kurban politik dari konflik kepentingan politik oligark.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan politik menjadi tugas bersama. Polarisasi yang terjadi dalam masyarakat seutuhnya dampak dari rendahnya kecerdasan politik yang ada di masyarakat Indonesia. Pencerdasan kehidupan politik masyarakat harus menjadi tindakan politik yang paling penting setelah terjadi pembelahan masyarakat antara Cebong dan Kampret.

zainul abidin
Magister Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Dan sekarang menjadi Asisten Peneliti di Center for Election and Political Party (CEPP) Fisip Universitas Indonesia.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.