OUR NETWORK

Kejamnya Terorisme dan Ambiguitas Sikap Umat Islam

Pada konteks inilah saya melihat bahwa ada semacam ambiguitas sebagian umat Islam dalam menyikapi aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam tersebut.

Sekarang ini terorisme bukan lagi hantu, tetapi telah menampakkan dirinya secara telanjang bulat mengancam keindonesiaan kita. Ancaman terorisme dengan ideologi maut dan jaringan internasional yang mereka miliki tidak boleh lagi dianggap sepele dan dipandang sebelah mata.

Mereka tidak hanya membunuh manusia tidak berdosa, merusak fasilitas umum, menghancurkan rumah-rumah ibadah, menghadirkan rasa resah dan ketakutan publik, tetapi juga melampui hal-hal itu, mereka mencoba mengoyak dan membuat retak bangunan persaudaraan, persatuan dan kesatuan elemen bangsa.

Berusaha merusak pondasi toleransi, multikulturalisme, dan hubungan antar umat beragama yang telah dibangun selama ini, dan membangunnya penuh dengan jalan terjal dan tertatih-tatih. Bisa dibayangkan, jika bangunan ini retak, lalu runtuh, maka NKRI bubar. Hal ini seringkali kurang disadari oleh sebagian besar warga bangsa yang masih berpikiran sempit yang hasratnya dipenuhi dengan nalar politik jangka pendek.

Beberapa rentetan bom bunuh diri yang menguncangkan tanah air baru-baru ini, baik yang terjadi di tiga gereja di Surabaya (Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia (GKI) dan Gereja Pantekosta) dan markas-markas kepolisian di Surabaya-Sidoarjo yang telah menewaskan 25 orang tak berdosa. Termasuk 13 orang pelaku ikut pula hancur lebur dengan anak istri serta anak belianya.

Sementara 55 orang lainnya harus dirawat karena luka-luka. Di Riau, aksi terorisme ini menabrakkan mobil ke Polda Riau. Akibatnya, 1 orang polisi tewas dan 4 luka-luka. Sementara, 4 orang pelaku tewas dan 1 lagi berhasil dibekuk polisi. Di beberapa daerah, setidaknya ada 33 orang terduga teroris yang berhasil dilakukan penindakan oleh polisi berdasarkan laporan sumber-sumber media yang terpercaya.

Tragedi yang melukai perasaan dan menombak mata batin rasa keindonesiaan kita ini seharusnya membuka lebar-lebar nalar sehat, hati nurani, dan segenap kesadaran kita bahwa keberagaman sebagai sebuah bangsa dan NKRI sebagai komitmen bersama seluruh elemen bangsa yang ada di dalamnya tengah menghadapi ancaman serius yang sangat menakutkan sekaligus mengerikan.

Mengapa menakutkan dan mengerikan? Karena yang diserang adalah rumah-rumah ibadah, yang diruntuhkan tempat-tempat umum yang dianggap thoghut, merongrong pancasila sebagai komitmen bersama dan yang mengerikan lagi adalah mereka membajak agama sebagai pembenaran teologi maut yang mereka anut dengan melibatkan anak belia yang belum terlalu mengerti surga dan neraka yang mereka khayalkan.

Sehingga agama yang suci, panduan moral, menebar kasih sayang dan cinta damai, kemudian berubah wajahnya menjadi bringas, sadis, dan sangat menakutkan di tangan kotor mereka yang sesungguhnya anti agama ini.

Perilaku segelintir manusia yang membajak simbol agama ini seolah membenarkan apa yang dituduhkan Paul Kurtz (1994), Nietzsche (1966), dan Sartre (1945) yang secara fundamental menentang agama dan berpandangan bahwa agama sebagai sumber dari hampir semua masalah kemanusiaan di dunia.

Terlebih lagi, Ernest Renan (1823-1892) seorang intelektual Prancis, kepada Islam, Renan mengatakan: “Islam merupakan pengingkaran total terhadap Eropa, Islam merupakan penghinaan terhadap ilmu pengetahuan, penindasan terhadap civil society, Islam adalah bentuk kesederhanaan spirit bangsa Semit yang mengerikan, membatasi pemikiran manusia, menutupnya terhadap ide-ide yang sulit, sentimen yang beradab, dan penelitian rasional.” Suatu tuduhan yang telah dibantah oleh banyak tesis, tetapi bisa menjadi benar di tangan para teroris yang membajak Islam. Masihkah kita berempati kepada mereka yang merusak Islam secara kejam dan sadis ini?

Anehnya, dalam suasana duka yang mendalam, bercucur darah, berkeping-keping daging dan tulang belulang manusia karena tragedi ini, jatuh korban, iris tangis membasahi pertiwi, langit kabut mengiringi duka yang cukup mendalam, tapi masih saja ada sebagian warga bangsa yang putus urat peduli dan rasa kemanusiaannya, lalu berceloteh dan mengatakan bahwa bom yang meledak diberbagai tempat dan rumah ibadah tersebut adalah rekayasa penguasa dan hanyalah settingan belaka.

Sungguh ironi memang, masih banyak status-status ditulis di dinding media sosial yang menyangsikan kebenaran dari aksi barbar yang jelas-jelas kita saksikan di depan mata telanjang kita tersebut. Bahkan yang menyebarkan hoax ini adalah steakholder yang seharusnya menyejukkan suasana dan ikut mengecam aksi anti kemanusiaan tersebut, malah membuat pernyataan-pernyataan yang mengaburkan kebenaran jika bukan membela terorisme.

Cukup disayangkan, di Kalimantan Barat ada seorang kepala sekolah berinisial FSA, lewat dinding medsosnya ia mengatakan “Sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui. Sekali ngebom: 1. Nama Islam dibuat tercoreng ; 2. Dana trilyunan anti teror cair; 3. Isu 2019 ganti presiden tenggelam.

Sadis lu bong… Rakyat sendiri lu hantam juga. Dosa besar lu..!!!”. Karena status hoax dan meresahkan ini, FSA ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh pihak penegak hukum. Hal yang serupa pula dilakukan oleh seorang dosen Universitas Sumatera Utara (USU) Himma, ia mengatakan “Skenario pengalihan yg sempurna… #2019GantiPresiden” tulisnya di akun facebook.

Atas pernyataannya itu, Himma ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Mapolda Sumatera Utara. Sebenarnya masih banyak status-status yang bertebaran di media sosial yang tidak bertanggung jawab dan tanpa sadar justru memberi angin segar dukungan kepada kelompok atau jaringan radikalisme-terorisme di Indonesia.

Pada konteks inilah saya melihat bahwa ada semacam ambiguitas sebagian umat Islam dalam menyikapi aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam tersebut. Masih banyak diantara umat Islam yang membangun nalar yang menimbulkan keraguan, kekaburan, dan konstruksi opini seolah-olah aksi bom bunuh diri tersebut tidak jelas dan pengalihan isu semata.

Padahal faktanya harus diakui bahwa ada sekelompok orang yang membajak nama Islam sebagai jalan pintas untuk memenuhi kepentingannya. Dan jelas ini merugikan citra Islam itu sendiri. Kelompok ini bisa datang dari internal umat Islam, yang akar sejarahnya memang ada, yaitu kelompok khawarij.

Yang penjelmaannya di Indonesia melalui kelompok seperti JAD dan jaringan radikal lainnya. Dan juga bisa dari pihak luar tanpa disadari mereka sengaja memanfaatkan, memprovokasi, dan membudidayakan kelompok radikal Islam untuk kepentingan ekonomi dan politik di belahan dunia sebagaimana pandangan beberapa pihak yang seringkali muncul.

Menghadapi kenyataan ini, seharusnya umat Islam yang merasa dirugikan, haruslah “marah” dan menyatakan perlawanan atau “jihad” terhadap tindakan terorisme yang membajak simbol Islam tersebut demi menjaga citra baik Islam yang hanif.

Apapun motifnya, entah karena sesat paham terhadap ajaran agama, adanya campur tangan kekuatan global, ataupun karena faktor ekonomi-politik. Hemat saya, Saatnya pemerintah dan seluruh elemen bangsa, khususnya bersama elemen umat Islam dapat duduk bersama, mengevaluasi dan merumuskan langkah konkrit yang komprehensif dalam membendung bahaya radikalisme, dan jaringan terorisme di Indonesia. Wallahu’alam.

Aktifis Muda Muhammadiyah dan Alumnus Sekolah Pascasarjana UIN Syarifhidayatullah Jakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…