Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Kehidupan yang Genit cum Semholai

Kemerdekaan yang Terakhir

Siapa manusia yang enggan untuk merdeka? Saya rasa tidak ada manusia yang tidak mau menjadi manusia yang merdeka. Menjadi merdeka berarti dapat meraih kesejahteraan,...

Selamatkan Otak, Selamatkan Anak

Mana ada anak kecil yang benar-benar niat ke sekolah untuk belajar. Mana tau dan peduli mereka dengan pelajaran yang disiapkan guru-guru dalam kurikulum atau...

NKRI Harga Mati, Malaysia Terima Kasih!

Sudah 72 tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Merdeka. Tentu bukanlah usia yang muda, setelah bapak bangsa Sukarno memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesa dihadapan rakyat...

Pancasila dan Gempuran Politik Pasca Pemilu

Beranjak dari artikel (opini) yang ditulis oleh Aris Heru Utomo dan dipublikasi di media massa Victory News pada tanggal 21 Mei kemarin, yang membahas...
Rizka Nur Laily Muallifa
Pembaca tak tabah. Dalam masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku itu Menghidupi Kematian. Pamrih di @bacaanbiasa

Dangdut sempat dan masih lekat dengan lema seputar biduan seksi, goyangan seronok, musik kampungan, minuman keras, dan lema-lema picisan lain. Kendatipun begitu, dangdut kian kuat menjelma sebagai local genius yang melampaui batas segalanya. Itu kata Jokpin yang kuamini.

Dangdut nyatanya berhasil menggoyang kepedihan-kepedihan hidup sebagian besar dari kita. Tak peduli seberapa tinggi tingkat ekonomi dus seberapa rendah status sosial yang dimiliki seseorang. Apapun cerita hidup manusia, kuncinya cuma goyang.

Dangdut banjir pujian-pujian di tengah diskusi agak genit di Balai Soedjatmoko Solo (26/4/2018). Tak lain dan tak bukan ialah Bentara Muda Solo –komplotan anak-anak muda Solo yang bertekad belajar apa saja— yang nekad menggelar diskusi bermaksud genit dan semlohai.

Diskusi sebagai penasbihan kelahiran Bentara Muda Solo. Solo dalam hal ini mulai perlu membandingkan dirinya dengan Jakarta dan Bali, utamanya mengenai geliat muda-mudinya dalam beribadah seni. Tersebab itu, Bentara Muda Solo musti hadir. Apapun yang terjadi. Mula-mulanya ialah memantik awam dengan goyangan.

Diskusi emoh mengikuti hal-hal formalistis. Tak ada banner berujud fisik, tak ada formasi duduk yang membedakan pembicara dengan lainnya. Semua yang hadir duduk membentuk lingkaran sambil bebas curi-curi pandang kiri kanan. Kacang dan pisang rebus, gorengan, kopi, serta teh pekat sepakat untuk setia menemani obrolan perkara dangdut.

Goyang (Agak) Intelektuil

Ada 17 penulis yang menulis esai untuk keperluan agak ngintelek menerbitkan buku berjudul Goyang Aksara (Bilik Literasi, 2018). Buku ialah bentuk perayaan atas dangdut yang diinisiasi begawan orkes melayu asal Sidoarjo, OM Monata dan Bilik Literasi. Dangdut berbekal peristiwa, lacakan referensi-referensi anyar entah lawas, pengalaman ketubuhan hadir dalam tulisan-tulisan yang dipaksakan terbaca seksi cum semlohai.

Lacakan referensi di perpustakaan kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) sudah lebih dulu susah berterima. Muhammad Ilham, mahasiswa Sosiologi yang konon iseng melakukan pelacakan mencatat hanya ada 7 hasil penelitian dari puluhan ribu koleksi perpustakaan. Dangdut terlalu semlohai dan tak sesuai kaidah sopan keilmiahan a la kampus. Meneliti dangdut? Kok kayaknya kurang bergengsi secara akademik keilmiahan!

Editor Goyang Aksara,  Udji Kayang Aditya Supriyanto sempat berkelakar menyebut dangdut sebagai musik agung. Keagungannya membuat dangdut tak bisa ditandingi jenis musik apapun. Baik kompleksitas permainan musiknya, sengkarut kerja tim panggung dan manajemen, sampai jumlah penikmatnya. Keagungan dangdut berterima dari cerita Dian selaku manajer OM Monata yang turut hadir dalam diskusi. Dian bercerita cukup banyak mengenai pengalaman ketubuhan dan sosialnya bersama OM Monata.

Dangdut ialah penghidupan dan kehidupan itu sendiri. Dian tak berterima apabila dangdut dilihat sekadar dari goyangan, biduan-biduan semlohai, miras, dan tawuran belaka. Acara dangdut yang kerap digelar di tanah lapang melibatkan cukup banyak kru panggung, kualitas sound dan mixer yang mumpuni, lighting, dan hal-hal teknis lainnya. Kerja demikian jelas tak gampang, dan tim ini musti senantiasa solid bekerja bersama.

Biduan-biduan dangdut yang demi tampil apik di panggung musti melilit perutnya dengan korset yang keterlaluan tak manusiawi. Di antara kerasnya usaha para pekerja di sebuah orkes melayu, ada keluarga-keluarga yang menanti jerih payah mereka di rumah. Di antara anggota keluarga itu ada yang menderita stroke atau penyakit lain, tertekan gaharnya kebutuhan ekonomi dan sosial.

Kelompok orkes melayu semacam OM Monata sendiri memiliki standar khusus termasuk mewajibkan para biduannya berpakaian “sopan”. Biduan yang kedapatan memakai pakaian di atas lutut akan kena tegur tim manajemen. OM Monata telanjur dikenal sebagai kelompok musik dangdut yang sopan. Monata Mania, fanbase OM Monata misalnya memiliki gaya berjoged yang khas. Mereka biasanya menjauh dari keriuhan panggung, mencari sisi yang agak lapang dan berjoged dengan irama yang boleh dikatakan tertib dan enak dipandang mata.

Bulan Ramadan yang disebut Dian sebagai bulan paceklik sebab banyak acara dangdut yang tak beroleh ijin, dimanfaatkan untuk kegiatan sosial seperti berbagi takjil. Kegiatan demikian rutin diinisiasi Monata Mania. Dangdut a la OM Monata jelas agung sekali.

Pengalaman Ketubuhan

Lirik-lirik lagu dangdut terutama dangdut koplo dengan komposisi musik yang rancak nyatanya lebih mudah melekat di ingatan berkat bus-bus Surabaya-Yogyakarta yang jadi moda transportasi saya pulang-pergi dari rumah orangtua di desa menuju perantauan.

Ketiadaan dangdut di bus pernah membuat seorang supir bus tertidur sembari tetap menggerakkan setir. Dangdut menjelma penyelamat para penumpang dari latah maut di jalanan. Dangdut hadir dalam kalap sopir saling adu kecepatan dan derap doa para penumpang berharap selamat sampai tujuan.

Di kalangan mahasiswa, dangdut berterima ketika pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa-desa. Mahasiswa menikmati dangdut saat acara perayaan hari kemerdekaan, serta acara-acara semacam ngunduh mantu dan sunatan. KKN ialah kegiatan kampus yang berjasa membuat mahasiswa berbaur dengan masyarakat desa dalam alunan kemesraan lagu dangdut di lapangan desa. Selepas kegiatan KKN, mahasiswa gandrung dangdut getol membayangkan kampus menggelar konser dangdut. Berharap rektor dan mahasiswa berebut menyawer biduan dengan goyangan yang nyerempet-nyerempet intelek.

Di kehidupan desa, dangdut mencuat dari rumah-rumah warga. Warga desa merasa perlu mengeraskan volume sound supaya tetangga kiri-kanan turut bergoyang di rumah masing-masing. Gendang dangdut alpa kala azan tiba dan pabila malam sudah terlalu kelam. Goyang berpindah ke haribaan mimpi-mimpi. Tsah!

Rizka Nur Laily Muallifa
Pembaca tak tabah. Dalam masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku itu Menghidupi Kematian. Pamrih di @bacaanbiasa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.