Jumat, Januari 22, 2021

Kedaulatan Negara dan Ancaman Disintegrasi Bangsa

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

Mengatur Privasi di Negara Demokrasi

Tepat tanggal 31 Oktober 2017 kemarin pemerintah kembali mewajibkan pengguna kartu prabayar (SIM card) untuk melakukan registrasi. Pemerintah sebelumnya pernah memberlakukan wajib daftar untuk...

Tahun Politik, Inilah Kriteria Pemimpin “Islami”

Tahun ini, politik menjadi obrolan utama dari setiap perbincangan ibu-ibu di pasar saban pagi. Pasalnya, sebanyak 171 daerah, mulai tingkat provinsi hingga kabupaten akan...

Partai Cyber dan Fenomena Berpolitik

Penggunaan internet yang dimulai sejak era 1990-an menandakan berakhirnya mobilisasi tradisional. Seluruh perangkat keras tak lagi memberikan efek dominan terhadap perubahan cara pandang politik....
Made Bryan Pasek Mahararta
Indonesia Controlling Community

Sebuah ironi yang sedang terjadi saat ini tentang maraknya isu disintegrasi bangsa dan konflik SARA kembali terulang. Padahal, jejak sejarah pendirian Republik ini ialah atas dasar persamaan nasib dan kehendak yang sama.

Sebagai bangsa yang menghendaki kemerdekaan membangun sebuah negara yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Indonesia sebagai negara heterogen mempunyai beragam suku, agama, ras dan golongan yang berbeda. Terdapat ratusan suku bangsa dan adat istiadat serta bahasa daerah yang berkembang membuktikan bahwa Indonesia adalah sebuha negara besar dan istimewa.

Tentu selain jumlah penduduk yang begitu padat sebanyak 260 juta jiwa lebih, Indonesia juga memiliki sumber daya alam yang melimpah. Hal itu disebabkan oleh ribuan pulau dan lautan luas yang dimiliki membentang di antara samudera Hindia dan samudera Pasifik.

Namun, hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Tantangan itu adalah ancaman disintegrasi bangsa. Konflik perpecahan antar saudara sebangsa selalu saja terjadi disebuah negara besar. Justru konflik yang sering terjadi itu bukan karena adanya teroris atau perang antar kawasan.

Konflik yang terjadi di negara besar seperti Indonesia disebabkan faktor lain: sebuah kesenjangan sosial di dalam masyarakat, rasisme, separatisme dan juga aktivitas intoleransi. Faktor inilah yang selalu membayang-bayangi setiap pergantian rezim atas dasar kepentingan dan keberpihakan asing dalam mengintervensi pemerintahan Indonesia.

Identitas Negara Bangsa

Sejak peristiwa Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, dalam hasil Kongres Pemuda I itu sebenarnya kedaulatan bangsa Indonesia sudah mulai terbentuk sebagai suatu jati diri bangsa Indonesia. Identitas sebagai satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air telah disepakati bersama oleh para pemuda Indonesia. Maka, semangat persatuan itulah yang menjadi kekuatan bangsa di masa pra kemerdekaan melawan penjajah di seluruh tanah air.

Perjanjian seperti itu tidak akan pernah kita jumpai di banyak negara lain. Negara sehebat Uni Soviet pun tidak punya janji pemuda untuk berbahasa satu. Maka, Uni Soviet bisa saja bubar dan terbelah satu sama lain.

Begitu juga di negara Yugoslavia yang berhasil mengusir tentara Nazi di Jerman pada 4 Juli 1941. Salah satu pemimpin Yugoslavia, Josep Bros Tito, mendirikan “Anti Facist Council for the National Liberation of Yugoslavia”, pada 23 September 1943. Dan kemudian peristiwa tersebut menjadi hari kemerdekaan Yugoslavia. Kemudian pada 1944 terbentuk 6 negara bagian Republik Sosialis Yugoslavia: Serbia, Montenegro, Kroasia, Macedonia, Slovenia dan Bosnia Harzegovina.

Tetapi, setelah kematian Tito mulai muncul konflik etnis dan berdampak pada krisis moneter di Yugoslavia. Selanjutnya, beberapa negara bagian memutuskan untuk menjadi sebuah negara yang merdeka. Krisis politik yang terjadi tidak dapat dihentikan. Partai Komunis tidak bisa memberikan solusi terhadap gejolak sosial masyarakat dan berujung pada perpecahan. Selanjutnya, perang saudara terjadi dan berakhir sampai negara Yugoslavia bubar di tahun 1992.

Lalu, apakah dua kejadian bubarnya negara Uni Soviet dan Yugoslavia bisa terjadi di Indonesia? Sebenarnya para bapak bangsa Indonesia telah menuliskan sebuah teks Proklamasi yang menjadi bukti bahwa kemerdekaan Indonesia adalah mutlak perjuangan bangsa Indonesia atas melawan penjajahan di masa kolonialisme dan imperialisme.

Makna Kemerdekaan

Indonesia juga disebutkan sebagai sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbeda-beda tetapi  satu jua (Bhinneka Tunggal Ika) yang tertulis dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila.

Pancasila adalah sebuah filosofi hidup masyarakat Indonesia yang heterogen. Dari Sabang sampai Merauke, muslim, kristiani, budha, hindu dan konghucu bersatu mendirikan negara Indonesia. Semua tentang kemanusiaan dan keadilan sosial, persatuan dan spiritualitas, dan sebuah negara demokratis

Oleh sebab itu, aksi intoleransi dan separatisme bukanlah ajaran dari masyarakat Pancasila. Sementara itu, separatisme merupakan bentuk kejahatan dan perbuatan yang melanggar berdasarkan tinjauan dari aspek hukum.

Jika sekelompok pemuda di era pra kemerdekaan telah melakukan perlawanan untuk bersatu mengeluarkan penjajah dari Indonesia dengan perang fisik dan diplomasi. Hal tersebut tentu saja berbeda dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat Papua sekarang.

Selanjutnya, masyarakat dan pemuda Papua harus bisa memikirkan setiap perbuatannya untuk membentuk sebuah Papua yang merdeka. Padahal, Papua hanya menjadi sumber untuk perusahaan internasional mengelola sumber daya alamnya. Sehingga, intervensi tersebut akan menghasilkan negara yang kembali dijajah oleh negara penjajah.

Dalam sebuah Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa disebutkan tentang hak asasi manusia untuk memutuskan nasibnya sendiri, namun apa yang pernah terjadi di Papua sekarang, maka masyarakat Papua tidak bisa melakukan referendum.

Masyarakat Papua sudah merdeka dari kolonialisme dan imperialisme sejak bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, bukan berarti dalam mengisi kemerdekaan harus dibutuhkan sebuah pembangunan yang merata untuk terwujudnya suatu keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Made Bryan Pasek Mahararta
Indonesia Controlling Community
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.