OUR NETWORK

“Kecebong dan Kampret” Label-Label Buruk dalam Pemilu

Padahal, wacana merupakan kemampuan atau prosedur berpikir secara sistematis alias kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat.

Menjelang Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019, arah politik semakin mengerucut ke dua nama. Head-to-head antara Jokowi Widodo dan Prabowo Subianto, tampaknya, masih akan berlangsung dua kali setelah sebelumnya pertarungan di Pilpres 2014.

Apalagi setelah beberapa waktu lalu Gerindra, partai yang didirikan Prabowo, resmi memberikan mandat kepadanya untuk kembali maju. Itu respons oposisi karena Jokowi jauh-jauh sebelumnya sudah dijagokan oleh beberapa partai, termasuk PDIP, untuk nyapres lagi.

Ini juga berarti, rakyat masih akan disuguhi ”perang wacana” antara kubu pro-Jokowi dan pro-Prabowo. Kenapa perang wacana mesti diberi kutip? Sebab, bukannya melempar wacana yang membangun, oknum-oknum dari kedua kubu malah lebih suka menyampaikan hal-hal cenderung destruktif.

Padahal, wacana merupakan kemampuan atau prosedur berpikir secara sistematis alias kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat. Wacana-wacana yang dilemparkan di dunia maya, terutama di media sosial, sungguh-sungguh tidak sehat–kalau tidak mau dibilang menjijikkan. Dalam pesta demokrasi ini, seyogianya festival gagasanlah yang patut dijadikan senjata utama. Berperang opini dengan cara-cara yang terdidik dan mencerahkan.

Seperti yang kita tahu, mayoritas yang mendukung Jokowi dan kubunya adalah pihak-pihak yang mengaku Islam moderat dan liberal yang mengusung kebebasan berpikir. Sementara itu, kebanyakan pendukung Prabowo berada di pihak sebaliknya, salah satunya kalangan Islam fundamental.

Mari sejenak berselancar di Facebook. Di situ sudah pasti banyak wacana yang dilemparkan, baik dari pendukung Jokowi maupun Prabowo. Entah itu hoax atau berita asli. Yang menyedihkan, nalar sehat kedua kubu seakan hilang begitu saja gara-gara lontaran-lontaran tak senonoh yang bermunculan.

Saling serang dengan kata-kata nyinyir itu dimulai semenjak Pilpres 2014, lantas berlanjut di Pilkada DKI 2017, dan sepertinya masih berlangsung pada Pilpres 2019 –tapi sejujurnya saya berharap tidak.

Artikel bbc.com berjudul Kamus Nyinyir Pilkada Jakarta yang Dipakai di Media Sosial (12/4/2017) bisa menjadi contoh. Di situ tertulis, ada beberapa istilah yang digunakan untuk melabeli dan menyerang lawan politiknya.

Sebut saja ”si mulut jamban”, ”kaum bumi datar”, ”cebonger”, ”bani taplak”, ”bani serbet”, dan lain-lain. Sebagaimana diketahui, pada Pilkada DKI 2017, pendukung Ahok juga merangkap kubu Jokowi, sedangkan pendukung Anies Baswedan merangkap kubu Prabowo.

Yang paling umum dan sering muncul di media sosial akhir-akhir ini untuk ”merepresentasikan” kedua kubu adalah kecebong untuk pihak pro-Jokowi serta kampret buat kubu Prabowo. Tidak tahu kenapa seperti itu.

Kalau kecebong, barangkali karena hobi Jokowi memelihara kodok sehingga pengikutnya disebut kecebong. Sederhananya, kecebong adalah hewan yang bakal menjadi kodok ketika besar. Sedangkan kampret adalah kelelawar kecil atau bisa disebut anak kelelawar.

Memang, mencintai dengan membabi buta sama bahayanya dengan membenci yang membabi buta. Begitu juga, mencintai kubu yang satu dengan merawak rambang sama buruknya dengan membenci tanpa perhitungan. Sebab, yang seperti ini biasanya ngawur dan emosional menjadi andalan utama.

Sebaiknya penggunaan istilah-istilah yang tidak mendidik itu mulai diminimalkan, syukur-syukur dimusnahkan sama sekali. Sebab, agama Islam, misalnya, secara tegas melarang umatnya menjuluki orang lain dengan gelar-gelar yang tercela. Menamai orang dengan jenis-jenis hewan, kita tahu, kerap berkonotasi buruk. Seperti halnya menyerupakan manusia dengan monyet, anjing, dan sebagainya.

Islam secara tegas melarang memanggil dan memberi gelar buruk untuk mengolok-olok orang lain. Yang dimaksud mengolok-olok dan memberi gelar buruk adalah menghinakan dan merendahkan orang lain. Sebab, terkadang orang yang dihina itu bisa jadi lebih terhormat di sisi Allah dan bahkan lebih dicintai-Nya daripada orang yang menghina.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran yang kurang lebih artinya: ”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok). Jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olok) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk…..” (QS Al Hujurat: 11)

Berikut salah satu riwayat mengenai asbabun nuzul atau sebab turunnya surah di atas. Sebagaimana disebutkan oleh Ad-Dahhak, ketika Rasulullah tiba di Madinah, tiada seorang pun dari kami (Bani Salamah) melainkan mempunyai dua atau tiga nama. Tersebutlah pula, apabila beliau memanggil seseorang di antara mereka dengan salah satu namanya, mereka mengatakan: ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia tidak menyukai nama panggilan itu.” Maka, turunlah firman Allah tersebut.

Firman Allah di atas cukup jelas, salah satu hal yang dilarang adalah mencela satu sama lain dan terlebih menyematkan gelar-gelar atau label-label yang buruk. Padahal, betapa mereka yang diberi gelar buruk itu punya asma yang agung pemberian orang tuanya. Jika tahu, pastilah bapak ibunya sedih juga manakala buah hatinya diberi panggilan yang buruk.

Ayat di atas sepatutnya digunakan sebagai otokritik. Lihatlah diri sendiri jika diberi sebutan-sebutan buruk, apakah akan menerima begitu saja. Naluri umumnya mengatakan ”tidak”. Ambil contoh lain yang sederhana saja, orang dengan perawakan gemuk kemudian seenaknya saja dipanggil, atau lebih tepatnya diejek, ”mbrot”, ”mbul”, ”emak-emak”, ”truk gandeng”, dan banyak yang lebih merendahkan lagi.

Orang kurus juga sering dipanggil ”cungkring”, ”krempeng”, ”biting”, ”gepeng”, dan lain-lain. Kelihatannya biasa, tapi itu dilarang keras oleh Allah. Dan yang pasti, menyakitkan. Sebutan kecebong dan kampret pun seharusnya sama memedihkannya.

Jadi, masihkah kita terus berperang wacana dengan olok-olok? Patut direnungkan!

Penyelaras bahasa Jawa Pos, aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…