Rabu, Januari 27, 2021

Kecanduan Spinning

Kartu Merah untuk Rasisme SARA

Kasus rasisme banyak terjadi di dunia sepakbola. Padahal Induk federasi Sepakbola dunia (FIFA) sudah melakukan upaya preventif dan represif untuk menanggulangi wabah rasisme di...

Peluang Ronaldo Ke Bernabeu

Babak penyisihan grup Liga Champions telah usai dengan menyisakan enam belas tim yang akan berjuang di fase knock-out. Enam belas tim yang lolos ke...

Menyoal Kampanye Pejabat

Hiruk pikuk kampanye kini telah dimulai, berbagai model dan cara pun dilakukan demi mendukung calon pilihan. Nuansa kampanye tidak saja terasa pada lapisan bawah,...

Di Tengah Pusaran Berita Politik

Apa yang kita dapatkan dari mendengar pemberitaan politik, apalagi nonton para pejabatnya yang ketika diundang jadi debat kusir, tanpa kejelasan dan muter-muter serta saling...
Ilham Akbar
Mahasiswa yang sangat mencintai Batagor dan hobi membaca buku. Director Film Today is Ended. Link Film: https://youtu.be/bKDMqolO4fI

Pupus sudah harapan masyarakat yang sempat mengharapkan pemilu yang akan dilaksanakan pada bulan April nanti menjadi pemilu yang bermartabat, atau menjadi pemilu yang penuh dengan kejujuran.

Kini masyarakat hanya tinggal menunggu keajaiban saja, apakah pemilu nanti akan menjadi bermartabat dan jujur, atau akan menjadi pemilu yang tidak sama sekali bermartabat, dan tidak sama sekali jujur.

Peristiwa menjelang pilpres dan pileg, kini diwarnai dengan praktik politik yang sangat menjijikan, dan praktik tersebut sangat tidak pantas untuk diterapkan kepada masyarakat yang sedang haus intelektual ini. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, praktik politik yang sangat menjijikan itu kini menjadi bangkai yang sudah membusuk.

Namun ketika bangkai tersebut sudah tercium oleh masyarakat, para pejabat di negeri ini seolah sedang mencoba untuk menutup rapat-rapat bangkai tersebut, sehingga walaupun sebenarnya sudah banyak yang menciumnya, tetapi masyarakat selalu dibohongi bahwa pada saat ini sedang tidak terjadi apa-apa, dan semuanya baik-baik saja.

Kini kehidupan masyarakat Indonesia selalu dihampiri oleh propaganda dan agitasi yang sangat murahan, sehingga bukannya mendapatkan pendidikan politik yang mencerdaskan, namun ternyata yang diperoleh masyarakat hanya sebuah indoktrinasi yang membuat masyarakat menjadi bodoh. Bahkan propaganda dan agitasi tersebut selalu bergentayangan dimanapun itu, sehingga dapat memaksa masyarakat untuk menjadi fanatik terhadap pilihan politiknya.

Padahal sejatinya fanatisme merupakan solusi yang sangat dipaksakan, karena fanatisme merupakan pilihan yang sangat kuldesak dan tidak mempunyai nilai humanisme. Namun memang, menjadi masyarakat yang cerdas di tahun politik seperti ini, tidak semudah mengedipkan mata, karena yang diprioritaskan oleh negeri ini bukan orang yang cerdas, tetapi hanya orang yang mudah dihasut untuk menjadi fanatik.

Jadi pada saat ini, menjadi fanatik terhadap pilihan politik merupakan tren sangat kolot yang sering digandrungi oleh orang-orang yang tidak menerapkan akal sehat yang dikaruniai oleh Tuhan. Nahasnya lagi, kini fanatisme tersebut menjadi santapan empuk bagi para pembuat spinning di media sosial.

Spinning merupakan upaya mencari publikasi dengan cara apapun juga, sehingga upaya tersebut dapat menyampingkan faktor kebenaran. Tahun 2019 merupakan tahun yang sangat tepat bagi para pembuat spinning untuk melakukan aksi dan atraksinya dalam mempublikasikan informasi yang dapat meracuni akal sehat masyarakat Indonesia. Kendati demikian, kegiatan spinning juga ternyata digandrungi oleh masyarakat kita, dan tanpa kita sadari, masyarakat kita merupakan masyarakat yang sudah kecanduan terhadap spinning.

Polarisasi Hashtag di Media Sosial

Pada saat ini berita yang beredar di media massa maupun media online, selalu menampilkan berita yang bertendensi politik, sehingga berita tersebut dapat mendorong masyarakat untuk melampiaskan fanatismenya dengan menciptakan konflik antara satu sama lain. Nahasnya lagi konflik yang sering terjadi, merupakan konflik yang diakibatkan oleh para pembuat spinning yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Sehingga pada akhirnya, masyarakat selalu menjadi pihak yang terkena dampak konformitas (ikut-ikutan) dari kerumunan orang yang sedang sibuk menyebarkan hashtag di media sosial.

Bahkan pada saat ini sekali saja pejabat Negara melakukan kesalahan, maka hal tersebut akan menjadi trending topic di media sosial. Misalnya, peristiwa yang dialami oleh Menkominfo Rudiantara di acara Kominfo Next, yang saat ini sedang menjadi buah bibir di media sosial. Ulah netizen di media sosial tersebut, dikarenakan tindakan yang dilakukan oleh Rudiantara pada saat pegawainya memilih stiker nomor dua.

Alasan pegawai tersebut memilih nomor dua, karena ia merupakan pendukung dari capres dan cawapres nomor dua. Tetapi menurut Rudiantara Aparatur Sipil Negara itu harus netral, dan tidak bertendensi tehadap politik, oleh sebab itu Rudiantara memberikan pertanyaan, “Bu yang gaji ibu siapa sekarang? Pemerintah atau siapa? Bukan yang keyakinan ibu? Yasudah makasih.” Akhirnya, peristiwa tersebut menjadi santapan empuk bagi para pembuat spinning di media sosial, sehingga menciptakan #YangGajiKamuSiapa.

Tentu hal ini menjadi sesuatu yang tidak bisa dibendung lagi, karena semakin informasi tersebut beredar, maka netizen pun tidak akan tinggal diam, sehingga terbentuklah polarisasi yang berkembang di media sosial. Polarisasi merupakan suatu perilaku yang dilakukan oleh orang yang justru cenderung membuat keputusan yang lebih berani ketika mereka dalam kelompok daripada ketika mereka sendirian (Rakhmat, 2011: 155). Polarisasi #YangGajiKamuSiapa di media sosial, menjadi salah satu bukti bahwa pada saat ini masyarakat semakin kecanduan terhadap spinning yang bisa membuat masyarakat untuk terhasut oleh hashtag.

Terlepas dari benar atau salahnya tindakan yang dilakukan oleh Menkominfo Rudiantara, kita mungkin bisa menilai bahwa, jika hashtag tersebut tidak berhasil menarik perhatian masyarakat, maka tidak akan mungkin hashtag tersebut menjadi polarisasi yang tidak bisa dibendung oleh siapapun itu. Kendati demikian, ternyata para pembuat spinning tersebut kini lebih pintar daripada Menteri, lebih pintar daripada Presiden, dan seolah-olah saat ini yang memegang kendali pikiran masyarakat di Indonesia adalah para pembuat spinning.

Jadi, sungguh benar-benar hebat ya para pembuat spinning itu? Bahkan walaupun masyarakat tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya, akhirnya masyarakat asal mengikuti saja untuk menyebarkan hashtag tersebut. Karenanya, kini persoalan apapun itu yang dianggap biasa saja, akan menjadi luar biasa jika para pembuat spinning di negeri kita menyebarkan informasi yang seolah-olah harus menjadi perbincangan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Tetapi nahasnya masyarakat tidak bisa membaca motif dibalik suatu fenomena hashtag yang selalu muncul dalam beberapa tahun belakangan ini. Seharusnya jika ingin mengikuti hashtag, maka masyarakat harus mengetahui dulu apakah hashtag tersebut berkaitan dengan politik atau hanya sekadar mengkritisi saja. Maka dari itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut, masyarakat harus lebih pintar daripada para pembuat spinning, agar tidak selalu tertipu oleh intrik yang dapat membodohi masyarakat.

Referensi

Rakhmat, Jalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Ilham Akbar
Mahasiswa yang sangat mencintai Batagor dan hobi membaca buku. Director Film Today is Ended. Link Film: https://youtu.be/bKDMqolO4fI
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Hukum Tata Cara Mengendus Kuasa, Kuliah Gratis untuk Refly Harun

Semoga Saudara Refly Harun dalam keadan sehat akal wal afiat!! Awalnya saya merasa tidak begitu penting untuk memberi tanggapan akademis terhadap saudara Refly Harun. Kendati...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.