Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Kebencian Terstuktur, Sistematis, Masif Hingga di MK

Persetan dengan Sekolah ala Ivan Ilich

Ada apa dengan sekolah dianggap dan diyakini sebagai sarana satu-satunya dalam mencari ilmu pengetahuan? Mengapa sekolah yang jumlahnya sedemikian menjamur dianggap sebagai jalan hidup...

Perekonomian Iran Diterjang Embargo

Memasuki empat puluh satu tahun, Iran menjalani hukuman sanksi embargo ekonomi dari Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutunya. Baqer Moin dalam bukunya “Khomeini: Life...

Duka Nduga, Duka Pembangunan Indonesia

Selasa, 4 Desember 2018 Indonesia mendapat kabar tentang penembakan pekerja PT. Istaka Karya yang sedang membangun jembatan. Beberapa sumber mengatakan 31 pekerja gugur dibunuh,...

Petani dan Ironi Pekerja Informal Pedesaan

Masih teringat di memori pikiran kita peringatan Hari Tani Nasional 2019 dengan aksi besar-besaran di beberapa daerah. Aksi yang dilakukan oleh aliansi yang terdiri...
Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi

Semua yang dipersoalkan kubu Prabowo-Sandi dalam sidang Gugatan di Mahkamah Konstitusi. Dianggap hanyalah sebuah propaganda belaka. Begitu, tanggapan kuasa hukum pasangan Joko Widodo-Kiai Ma’ruf Amin, Yusril Ihza Mahendra menanggapi materi gugatan pasangan nomor urut 02.

Menurut Yusril, seharusnya persoalan yang sudah bukan persoalan subtansi tidak harus masuk dalam materi sidang MK. Dicontohkan Yusril, perihal sumber dana kampanye pasangan Jokowi tidak perlu dibahas lagi dalam sidang MK. Tapi kalau itu masuk dalam materi sidang, kubunya siap menanggapi dengan bukti-bukti yang dimiliki.

Tidak dipungkiri kubu Prabowo terus berupaya menghidupkan terus, suasana kebencian publik terhadap hasil Pilpres 2019 lalu. Lalu, masih akan mungkin sekam kebencian tersebut disulut kembali. Sebagai bahan bakar gerakan deligitimasi kemenangan Jokowi-KH. Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019 lalu?

Dalam permohonan, Prabowo-Sandiaga menyatakan perolehan suara yang berbanding terbalik dengan KPU. Perolehan suara yang diajukan dalam permohonan disebutkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin memperoleh suara 63.573.169 atau 48%. Sementara Prabowo-Sandiaga mendapat total suara 68.650.239 atau 52%.

Berdasarkan dalil-dalil tersebut, Prabowo-Sandiaga memohon agar MK menyatakan batal dan tidak mengikat terhadap Keputusan KPU Nomor 987/PL.01.08-KPT/06/KPU/V/2019 itu. Bagi, kubu Prabowo semua materi yang dipermasalahkan. Hanya berdasarkan asumsi-asumsi saja. Tidak ada bukti terjadinya kecurangan yang terstuktur, sistematis, masif (TSM).

Dengan merujug pernyataan Yusril, pendekatan konstitusional dalam proses sengketa pemilu, jauh api daripada panggang. Mahkamah Konstitusi hanya sebagai alat memperpanjang kebencian selama Pilpres 2019 berlangsung. Ya, hanya dengan membangun narasi kecurangan yang tendensius.  Cara yang dilakukan kubu Probowo untuk memperlemah legitimasi hasil Pilpres.

Narasi kebencian

Rasanya, sangat sulit bagi Prabowo menghidupkan kembali api kebencian tersebut. Kendati sekam-sekam sisa-sisa kebencian kampanye Pilpres 2019 masih tersisa beberapa titik.

Banyak faktor argumentasi konklusi yang melatar belakangi. Baik empiris maupun yang bersifat prediksi. Fakta empiris dua moment besar yang seharusnya jadi bahan bakar yang dahsyat untuk mendeligitimasi hasil Pilpres 2019 tidak mampu dioptimalkan Prabowo yang kalah dalam dalam hitungan quick count maupun real count versi KPU.

Yaitu, saat deklarasi kemenangan tiga hari paska coblosan. Bila kita lihat seharusnya, momen itu sangatlah strategis. Saat psikologi masyarakat lagi klimaks dengan semburan kebencian. Seharusnya, Prabowo mampu menyulutnya. Selain itu, para biang komunikator masih lengkap, energinya masih kuat. Namun hasilnya, hanya beberapa guyonan politik belaka. Animo gerakan tidak mampu menyita perhatian publik.

Fakta empiris kedua, saat KPU mengumumkan hasil real count 21 Mei lalu. Memang moment ini oleh beberapa pihak diprediksi akan menjadi titik masuk gerakan massa. Yang ujungnya melegitimasi hasil Pilpres 2019 lalu. Semua potensi yang dimiliki koalisi partai pendukung, pendukung-pendukung Prabowo akan dimainkan disana.

Alhasil, gerakan 22 Mei 2019 beralih menjadi kerusuhan. Yang tidak mampu menyedot emosi khalayak ramai. Gerakan ini bahkan mengerus simpati pendukung Prabowo sendiri dibeberapa segmentasi. Gerakan 22 Mei yang diharapkan mampu menduplikasi gerakan reformasi jatuhnya rezim Soeharto. Menyisahkan penangkapan-penangkapan elit Prabowo dengan tuduhan makar terhadap pemerintahan yang sah.

Lalu, apabila kita melihat prediksi-prediksi langkah Prabowo menyikapi kekalahan kali kedua menghadapi Jokowi. Para pemerhati politik, masih melihat akan ada upaya Prabowo terus ‘menganggu’ keputusan politik ini.

Tentu saja, sidang gugatan Mahkamah Konstitusi yang akan jadi bahan bakar menghidupkan kebenciannya. Seperti diketahui, sejak mendaftarkan gugatan ke MK, tim kuasa hukum membangun narasi negatif terhadap proses sidang mendatang. Seolah-olah, Mahkamah Konstitusi akan bertindak diskriminatif.

Apakah efektif?

Seadainya, kubu pasangan nomor urur 02, mau berpikir jernih. Upaya ini hanya akan menciptakan jurang keperpihakaan. Atau akan membuat kontra-produktif bagi pendukungnya. Suka atau tidak suka, hasil pilpres hitung cepat dan keputusan KPU. Menjadi indikator bagi masyarakat. Sehingga persepsi mayoritas khalayak pro atau kontra, bahwa pilpres ini telah rampung.

Upaya, bermain-main di Mahkamah Konstitusi hanya sebuah kesia-siaan belaka. Elit-elit partai koalisi pendukung 02 pun, sudah banyak mengeluarkan pernyataan yang tidak sepakat dengan langkah politik ini.

Seharusnya, ini jadi dasar bagi BPN dalam mengambil sikap. Bukan mengambil jalan yang distruktif bagi nilai-nilai demokratis. Cara-cara lebih terhormat tidaklah kurang. Kalau hanya sekedar tidak sejalan dengan kepemimpinan Jokowi. Karena demokrasi yang sehat juga memperlukan oposisi yang cerdas.

Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.