Senin, April 12, 2021

Keadilan Untuk Audrey, Keadilan Untuk Kita Semua

Aborsi Aman, Jalan Pintas atau Kesempatan?

Agaknya membahas isu aborsi adalah hal yang masih tabu di masyarakat mengingat sebagian besar masyarakat kita masih berada dalam pola pikir yang konservatif. Bahkan...

Jadi, Benar Begitu kan Jenderal ?

Saat ini, suhu perpolitikan di Indonesia sedang panas – panasnya. Mungkin ada faktor juga dari panasnya cuaca yang menyebabkan kekeringan di beberapa tempat di...

Menyoal Kampanye dalam Pandemi

Keputusan pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) serta penyelenggara pemilu untuk tetap melanjutkan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2020 dalam masa pandemi tentu membawa...

Diskursus Dibalik Pemutaran dan Peremajaan Film G30S

Film merupakan sebuah karya untuk memberikan sebuah pandangan baru, merekonstruksi pemikiran seseorang agar terpengaruh oleh pesan yang ingin disampaikan. Sehingga terkadang film merupakan upaya...
Kevin Ng
Kevin saat ini sedang melakukan studi di University of Western Australia dan merupakan jurnalis lepas di salah satu media Indonesia di Australia. Ia tertarik pada filsafat, ilmu sosial, komunikasi, sejarah, bisnis, politik dan ekonomi, serta berbagai macam topik lainnya. Ia terbuka untuk berdiskusi atau sekedar berbincang mengenai isu-isu aktual hingga bercandaan.

Baru-baru ini saya mendengar jeritan perempuan yang hak asasi manusianya ditebas oleh manusia-manusia yang tak layak dianggap sebagai manusia. Dirinya dianiaya, dan sekarang terbaring di rumah sakit.

Namanya Audrey, siswi yang masih belia itu tidak tahu dari entah dari mana datangnya hari buruk itu menjemput. Saya di sini tidak akan menceritakan bagaimana ia ditindas, karena itu hanya akan menyebarkan kebiadaban semakin meluas.

Masalah yang menimpa Audrey boleh disetarakan dengan kasus Novel Baswedan, walaupun dalam kasus Audrey  pelakunya diketahui. Tindakan yang menimpa kedua korban tidak terjadi karena ketidaktahuaan.

Pelakunya sama-sama memilki niat yang sama : untuk menghabisi segala citra korban sebagai manusia. Saya tidak tahu jalan berpikir para pelaku, atau maksud mereka. Apakah mereka mau korban untuk menjadi “kapok” atau sekedar hiburan bagi mereka ?. Tentu saja, ada maksud mengapa mereka melakukan aksi brutal itu.

Sebagaimananya manusia beradab memilki amarah, hal itu tidak diutarakan dengan perampasan hak asasi manusia. Dan mempertontonkan aksi pemukulan dan sambil tertawa itu bukanlah manusia!

Bagi sebagian orang mungkin berpikir bahwa apa yang menimpa Audrey hanya urusan “anak sekolah” atau bullying. Tidak tahu apa benar atau tidak benar, pasti tetap ada yang menanggap kasus ini sekedar permasalahan bocah. Maka jalur “damai” menjadi salah satu jalan keluarnya.

Mohon maaf sebesar-besarnya kepada orang yang memilih penyelesaiaan kasus seperti itu. Ini bukan sekedar cara apa untuk menyelesaikan masalah, tetapi bagaimana seorang gadis lucu yang hakikatnya telah dirampas. Ini soal perampokan harta pribadi terbesar yang dimiliki oleh manusia, yakni kehidupannya. Dan jalur yang harus dilakukan untuk menyelesaikan ini ialah menghukum para pelaku-pelaku yang terlibat.

Usut tuntas apa yang mereka lakukan kepada Audrey dan jangan beri pupuk pada ketidakadilan. Kemanusiaan dipertaruhkan. Jujur saja saya sudah lelah setiap kali orang-orang ditindas, dan pelakunya hanya bisa berkata, “Maaf.”. Kemudian kejadian serupa berulang (walau pelakunya tak sama), dan seterusnya dan seterusnya.

Mungkin kita bisa melihat kalau pelaku dalam kasus ini memiliki usia yang cukup belia pula. Dengan alasan seperti itu, penyelesaian kasus tidak sampai ke ranah hukum. Kalau begitu terus, maka ini bisa menjadi alasan primer setiap kali kasus yang mirip terulang kembali. Bukankah segala bentuk keadilan tidak memandang usia ? Pelaku sadar betul ketika mereka melakukan perbuatannya. Mereka bahkan telah menyiapkan skema agar berjalannya kegiatan.

Mungkin saat ini mereka (pelaku) masih “kecil”, tetapi suatu saat akan jadi besar. Kita selalu mengatakan bahwa generasi penerus bangsa ada di tangan para pemuda. Kalau masih muda sudah melakukan kejahatan, masa depan telah hancur sebelum datang. Pemahaman soal hak asasi manusia perlu diilhami oleh semua orang, termasuk bagi mereka yang muda. Dan jangan harap kita bisa mendapatkannya di media sosial, karena sejatinya itu berasal dari hati. Ingatlah ! Mereka yang tidak menghargai hak-hak manusia sebagai manusia berarti tak punya hati.

Sudah sepantasnya bila keadilan dalam kasus ini dipertaruhkan. Apa yang harus kita lakukan sekarang adalah melawan segala ketidakadilan yang ada. Kejahatan atas kemanusiaan tidak boleh lagi terbentuk dalam segala rupa. Usia tak boleh dipandang sebelah mata karena segala bentuk ketidakadilan berawal dari kebiasaan.

Dan kita tidak perlu lagi mendeskripsikan kejadian yang menimpa korban, atau bagaimana pelaku melakukannya. Kejadian serupa tak boleh lagi berulang. Saya berharap kasus ini adalah kasus perampasan hak asasi manusia yang terakhir. Audrey telah memberikan suaranya kepada kita untuk menolak diam, terus menyuarakan kebenaran. Jangan sia-siakan pengorbanannya , karena inilah saat yang tepat untuk bersuara atas keadilan. Berhentilah sejenak dalam kegalauanmu, dan sebarkan kebenaran di mana-mana.

Sekarang kita hanya punya satu tujuan, yakni meminta keadilan untuk Audrey. Ketidakadilan terhadap Audrey adalah bentuk ketidakadilan terhadap kemanusiaan. Mintalah keadilan dan jangan berhenti. Bila kita manusia, maka kita juga perlu menuntut keadilan. Dalam kebisingan kita tak boleh diam, dan kesunyian akan datang setelahnya. Bersuaralah… Bersuaralah….

Kevin Ng
Kevin saat ini sedang melakukan studi di University of Western Australia dan merupakan jurnalis lepas di salah satu media Indonesia di Australia. Ia tertarik pada filsafat, ilmu sosial, komunikasi, sejarah, bisnis, politik dan ekonomi, serta berbagai macam topik lainnya. Ia terbuka untuk berdiskusi atau sekedar berbincang mengenai isu-isu aktual hingga bercandaan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.