Kamis, Maret 4, 2021

Keadilan Untuk Audrey, Keadilan Untuk Kita Semua

Tanpa Bahas Maritim, Kemana Arah Debat Capres 2019?

Hampir dalam setiap seminar kebangsaan 4 tahun terakhir ini, isu maritime jadi kalimat pembuka dalam kegiatan tersebut. Bahkan, sudah sejak dini kita disuguhi mengenai...

Para Pahlawan yang Tak Terlihat

Kata pahlawan mulai mengalami perluasan makna. Dulu, orang mengenal pahlawan sebagai pejuang yang dengan gagah berani melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Pahlawan kerap diasosiasikan...

Antara Anak-Anak, Kita dan Tentara

Tentara itu memang selalu "menginspirasi". Bagi warga sipil, mulai dari usia SD sampai SMA. Bahkan sampai level Ormas Pemuda dan Agama.Belajar kepemimpinan pada tentara....

Islam Masalahnya?

Pernahkah anda mempertanyakan kenapa islam selalu menjadi “subjek” ketika terjadi suatu pertentangan atau perdebatan baik dari gejala-gejala yang baru terjadi akhir-akhir ini maupun dari...
Kevin Ng
Kevin saat ini sedang melakukan studi di University of Western Australia dan merupakan jurnalis lepas di salah satu media Indonesia di Australia. Ia tertarik pada filsafat, ilmu sosial, komunikasi, sejarah, bisnis, politik dan ekonomi, serta berbagai macam topik lainnya. Ia terbuka untuk berdiskusi atau sekedar berbincang mengenai isu-isu aktual hingga bercandaan.

Baru-baru ini saya mendengar jeritan perempuan yang hak asasi manusianya ditebas oleh manusia-manusia yang tak layak dianggap sebagai manusia. Dirinya dianiaya, dan sekarang terbaring di rumah sakit.

Namanya Audrey, siswi yang masih belia itu tidak tahu dari entah dari mana datangnya hari buruk itu menjemput. Saya di sini tidak akan menceritakan bagaimana ia ditindas, karena itu hanya akan menyebarkan kebiadaban semakin meluas.

Masalah yang menimpa Audrey boleh disetarakan dengan kasus Novel Baswedan, walaupun dalam kasus Audrey  pelakunya diketahui. Tindakan yang menimpa kedua korban tidak terjadi karena ketidaktahuaan.

Pelakunya sama-sama memilki niat yang sama : untuk menghabisi segala citra korban sebagai manusia. Saya tidak tahu jalan berpikir para pelaku, atau maksud mereka. Apakah mereka mau korban untuk menjadi “kapok” atau sekedar hiburan bagi mereka ?. Tentu saja, ada maksud mengapa mereka melakukan aksi brutal itu.

Sebagaimananya manusia beradab memilki amarah, hal itu tidak diutarakan dengan perampasan hak asasi manusia. Dan mempertontonkan aksi pemukulan dan sambil tertawa itu bukanlah manusia!

Bagi sebagian orang mungkin berpikir bahwa apa yang menimpa Audrey hanya urusan “anak sekolah” atau bullying. Tidak tahu apa benar atau tidak benar, pasti tetap ada yang menanggap kasus ini sekedar permasalahan bocah. Maka jalur “damai” menjadi salah satu jalan keluarnya.

Mohon maaf sebesar-besarnya kepada orang yang memilih penyelesaiaan kasus seperti itu. Ini bukan sekedar cara apa untuk menyelesaikan masalah, tetapi bagaimana seorang gadis lucu yang hakikatnya telah dirampas. Ini soal perampokan harta pribadi terbesar yang dimiliki oleh manusia, yakni kehidupannya. Dan jalur yang harus dilakukan untuk menyelesaikan ini ialah menghukum para pelaku-pelaku yang terlibat.

Usut tuntas apa yang mereka lakukan kepada Audrey dan jangan beri pupuk pada ketidakadilan. Kemanusiaan dipertaruhkan. Jujur saja saya sudah lelah setiap kali orang-orang ditindas, dan pelakunya hanya bisa berkata, “Maaf.”. Kemudian kejadian serupa berulang (walau pelakunya tak sama), dan seterusnya dan seterusnya.

Mungkin kita bisa melihat kalau pelaku dalam kasus ini memiliki usia yang cukup belia pula. Dengan alasan seperti itu, penyelesaian kasus tidak sampai ke ranah hukum. Kalau begitu terus, maka ini bisa menjadi alasan primer setiap kali kasus yang mirip terulang kembali. Bukankah segala bentuk keadilan tidak memandang usia ? Pelaku sadar betul ketika mereka melakukan perbuatannya. Mereka bahkan telah menyiapkan skema agar berjalannya kegiatan.

Mungkin saat ini mereka (pelaku) masih “kecil”, tetapi suatu saat akan jadi besar. Kita selalu mengatakan bahwa generasi penerus bangsa ada di tangan para pemuda. Kalau masih muda sudah melakukan kejahatan, masa depan telah hancur sebelum datang. Pemahaman soal hak asasi manusia perlu diilhami oleh semua orang, termasuk bagi mereka yang muda. Dan jangan harap kita bisa mendapatkannya di media sosial, karena sejatinya itu berasal dari hati. Ingatlah ! Mereka yang tidak menghargai hak-hak manusia sebagai manusia berarti tak punya hati.

Sudah sepantasnya bila keadilan dalam kasus ini dipertaruhkan. Apa yang harus kita lakukan sekarang adalah melawan segala ketidakadilan yang ada. Kejahatan atas kemanusiaan tidak boleh lagi terbentuk dalam segala rupa. Usia tak boleh dipandang sebelah mata karena segala bentuk ketidakadilan berawal dari kebiasaan.

Dan kita tidak perlu lagi mendeskripsikan kejadian yang menimpa korban, atau bagaimana pelaku melakukannya. Kejadian serupa tak boleh lagi berulang. Saya berharap kasus ini adalah kasus perampasan hak asasi manusia yang terakhir. Audrey telah memberikan suaranya kepada kita untuk menolak diam, terus menyuarakan kebenaran. Jangan sia-siakan pengorbanannya , karena inilah saat yang tepat untuk bersuara atas keadilan. Berhentilah sejenak dalam kegalauanmu, dan sebarkan kebenaran di mana-mana.

Sekarang kita hanya punya satu tujuan, yakni meminta keadilan untuk Audrey. Ketidakadilan terhadap Audrey adalah bentuk ketidakadilan terhadap kemanusiaan. Mintalah keadilan dan jangan berhenti. Bila kita manusia, maka kita juga perlu menuntut keadilan. Dalam kebisingan kita tak boleh diam, dan kesunyian akan datang setelahnya. Bersuaralah… Bersuaralah….

Kevin Ng
Kevin saat ini sedang melakukan studi di University of Western Australia dan merupakan jurnalis lepas di salah satu media Indonesia di Australia. Ia tertarik pada filsafat, ilmu sosial, komunikasi, sejarah, bisnis, politik dan ekonomi, serta berbagai macam topik lainnya. Ia terbuka untuk berdiskusi atau sekedar berbincang mengenai isu-isu aktual hingga bercandaan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.