Selasa, Maret 2, 2021

Keadilan untuk Agni

Memahami Isu-Isu Keagamaan dengan Filsafat

Kajian seputar agama itu majemuk. Banyak ragamnya. Banyak subyek kajian, karena mencatut beragam makna, aneka symbol dan  dimensi-dimensinya. Karena dimensi tiap agama berbeda-beda, agama...

Ekspresi Keberagamaan Muslim Kelas Menengah

Berhijab, jilbab mewah, hijab penuh dengan pernak-pernik, pergi umrah plus, mengikuti jemaah pengajian berkelas di TV, ikut serta jamiyyah dzikir, serta rajin sedekah ke...

Abu Bakar Aceh: Pelopor Kajian Sejarah Al-Qur’an di Indonesia

Sebelum menjadi disiplin ilmu tersendiri, pembahasan sejarah Al-Qur’an masuk ke dalam sub-kajian ‘ulum al-qur’an. Judul yang biasanya digunakan adalah rasm al-qur’an, tashif al-qur’an, kitabah...

Desa, Urbanisasi dan Revolusi Mental

Ada sebuah pernyataan yang menarik dari Farid Gaban dalam tulisannya yang berjudul Membangun Desa, Menagih Nawa Cita Jokowi. Katanya, di balik nuansa pedesaan yang indah...
Harsa Permata
Alumni Filsafat Universitas Gadjah Mada, gelar Sarjana Filsafat diraihnya pada tahun 2005. Pada tahun 2013, ia menyelesaikan studi pada program pascasarjana di kampus yang sama. Ia sempat menjadi pengajar di Sekolah Dasar dan Menengah internasional di Jakarta, pada tahun 2005-2011. Sekarang ia adalah dosen tetap di Universitas Universal, Batam, dan dosen tidak tetap di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Agni, seorang mahasiswa Fisipol (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) Universitas Gadjah Mada (UGM), yang diperkosa oleh temannya sesama mahasiswa UGM, di lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Maluku. Sampai sekarang yang bersangkutan (Agni) belumlah mendapat keadilan sebagaimana mestinya.

Hal yang membuat geram adalah sikap dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yang menganggap persoalan ini selesai tanpa memberikan sanksi yang keras, seperti pemecatan sebagai mahasiswa UGM, bagi pelaku pemerkosaan.

Pihak UGM hanya menahan kelulusan pelaku, dan meminta pelaku untuk mengulang KKN lagi. Selain itu, UGM hanya mengubah nilai KKN, Agni dari semula C menjadi A/B dan memberikan fasilitas konseling padanya (www.bbc.com, akses 10 November 2018). Artinya Agni sudah dizalimi secara ganda. Pertama, secara seksual oleh temannya di lokasi KKN dan kedua, oleh UGM yang memberi nilai C, karena dianggap ikut berkontribusi terhadap tindakan perkosaan yang dialaminya. Setelah diubah pun ia tidak mendapat nilai KKN sempurna.

Untuk itu, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana reputasi UGM sebagai salah satu kampus ternama di nasional Indonesia dan di internasional? Boleh dikata semua hasil penelitian ilmiah yang dilakukan UGM dan semua jurnal akademisi UGM yang terindeks scopus, seolah tak ada artinya selama pelaku tindakan barbar, yaitu pemerkosaan tidak mendapat sanksi keras.

Secara moral, tindakan perkosaan tersebut adalah perbuatan bejat dan jelas sangat tak bisa dibenarkan. Selain itu, dampak psikologis, seperti depresi, rendah diri, dan lain-lain, biasanya akan selalu membebani kondisi kejiwaan si korban.

Secara hukum bahkan dalam pasal 285 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) tertulis: “Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan isterinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun” (https://www.hukumonline.com, akses 10 November 2018).

Artinya, jika UGM tak juga berani memberi sanksi keras pada pelaku pemerkosaan, maka UGM sama saja memposisikan diri sebagai sebuah institusi di atas hukum dan moral.

Mediasi antara korban dan pelaku saja tidaklah cukup untuk menyelesaikan masalah, karena selain secara hukum, tindakan perkosaan adalah tindakan pidana, secara akademis, pelaku perkosaan haruslah mendapat sanksi yang seberat-beratnya. Fungsi dari sanksi yang berat adalah sebagai efek jera, supaya si pelaku tidak mengulangi lagi tindakannya yang biadab secara moral, dan juga agar tidak ada lagi orang lain yang mengikuti jejak si pelaku.

Beberapa hal lain yang juga menjadi tanda tanya besar adalah, di mana para alumni UGM yang dulu menjadi pelopor gerakan pro-demokrasi, yang berhasil menumbangkan kediktatoran Orde Baru?

Apakah sudah keenakan di pusat kekuasaan, hingga lupa pada kondisi demokrasi di kampusnya sendiri? Bagaimana sikap gerakan kiri dan pro-demokrasi, terhadap kasus yang menimpa Agni ini? Sejauh ini baru BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) UGM yang mendukung perjuangan advokasi diri oleh Agni, dan mengecam semua bentuk pelecehan dan kekerasan di lingkungan kampus (Rio Apinino, https://tirto.id, akses 10 November 2018).

Di mana organisasi-organisasi gerakan mahasiswa ekstra kampus seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND)? Apakah kasus yang sudah menasional ini dianggap tidak layak untuk disuarakan? Padahal sejujurnya, semua kasus perkosaan di manapun itu, baik di kampus, kampung, di kosan, harus dilawan dengan sekuat-kuatnya, karena hal tersebut adalah cerminan dari sikap anti-demokrasi, yang sangat bertentangan dengan moralitas kemanusiaan.

Pers-pers fakultas di UGM seperti BPMF (Biro Pers Mahasiswa Filsafat) Pijar, Pers mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Dian Budaya, Pers mahasiswa Fisipol UGM, Sintesa, yang dulu pada era Orde Baru dan awal reformasi cukup aktif menyuarakan aspirasi demokratik mahasiswa dan rakyat, sepertinya belum bersuara dalam menyikapi kasus Agni ini. Saat ini pers mahasiswa yang terdengar suaranya, hanya pers UGM, Balairung, yang berani menyuarakan ketidakadilan yang dialami oleh Agni.

Presiden Jokowi, sebagai presiden Republik Indonesia dan alumni UGM, sebenarnya juga bertanggung jawab secara moral untuk terwujudnya keadilan bagi korban, yang dalam hal ini adalah Agni. Bagaimana caranya? Jokowi bisa menginstruksikan pada Rektor UGM untuk memecat pelaku perkosaan, yang merupakan mahasiswa Fakultas Teknik UGM. Selain itu, Jokowi bisa menginstruksikan pada seluruh kampus di Indonesia supaya memberi sanksi keras sampai pemecatan bagi pelaku pelecehan dan kekerasan seksual dalam lingkungan kampus.

Keberanian Jokowi dalam mengambil tindakan tegas, pasti akan mendapat apresiasi baik di kalangan rakyat. Sebaliknya jika Jokowi tak berani mengambil tindakan tegas dalam kasus ini, maka selamanya sebagai bagian dari alumni UGM, ia akan menanggung malu sebagai lulusan dari universitas yang tidak berani memberi sanksi keras pada pemerkosa. Hal ini juga berlaku bagi semua alumni UGM, yang tidak bersikap atas kasus ini.

Tindakan perkosaan sendiri, selain adalah tindakan yang sangat bejat dan biadab, juga sangat bertentangan dengan ideologi bangsa dan negara Indonesia, yaitu Pancasila. Masyarakat yang beradab dan demokratis di manapun pasti mengutuk keras semua bentuk tindakan kekerasan seksual tersebut.

Indonesia sebagai sebuah bangsa yang memiliki sejarah panjang perjuangan anti penindasan manusia atas manusia, sudah seharusnya bersikap keras dan tegas terhadap tindakan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan seperti pemerkosaan, pelecehan seksual, rasisme, dan lainnya.

Harsa Permata
Alumni Filsafat Universitas Gadjah Mada, gelar Sarjana Filsafat diraihnya pada tahun 2005. Pada tahun 2013, ia menyelesaikan studi pada program pascasarjana di kampus yang sama. Ia sempat menjadi pengajar di Sekolah Dasar dan Menengah internasional di Jakarta, pada tahun 2005-2011. Sekarang ia adalah dosen tetap di Universitas Universal, Batam, dan dosen tidak tetap di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Berita sebelumnyaCandu Dana Desa
Berita berikutnyaMenuju Pemilu 2019 yang Berkualitas
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.