Sabtu, Januari 23, 2021

KDRT Saat Pandemi

Islam Liberal dan Reinterpretasi “Turats” Jalan Tengah Pembaharu

Barangkali istilah Islam liberal masih menuai banyak pro dan kontra, apakah ini semacam kemajuan atau kekeliruan. Akan tetapi, yang pasti gagasan Islam Liberal ini...

Bahaya Teori Konspirasi Vaksin di Tengah Pandemi

Kedatangan 2.400 vaksin Covid-19 dari Sinovac, Tiongkok awal bulan ini (19/7) memberikan harapan bagi usaha pelambatan penularan COVID-19 di Indonesia, khususnya dalam proses pembuatan...

Menulis di Kertas Masih Menjadi Pilihan

Menulis adalah salah satu cara merekam informasi  untuk suatu saat diingat (dibaca) kembali. Meski kini perkembangan teknologi informasi menawarkan alat dan media yang canggih...

Menjaga Asa Pertumbuhan Ekonomi Di Tahun Politik

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tahun 2018 adalah sebesar 5,17 persen. Angka ini lebih rendah 0,23 persen dibandingkan target...

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, seperti lansia, orang dewasa, remaja, anak-anak, bahkan bayi.

Kasus pertama dari virus ini dikonfirmasi terjadi di Wuhan, China pada akhir tahun 2019, lalu mulai menyebar ke seluruh dunia pada awal tahun 2020 dan dikonfirmasi masuk ke Indonesia pada awal Maret 2020. Virus ini menjadi pandemi besar dan menginfeksi hampir seluruh negara di dunia ini.

Pandemi COVID-19 di Indonesia memaksa Pemerintah RI untuk melakukan berbagai kebijakan. Kebijakan ini dikeluarkan untuk menekan jumlah korban yang terinfeksi virus corona. Penyebaran COVID-19 melalui droplet dan kontak fisik membuat adanya penerapan social distancing dan karantina mandiri di rumah. Hal ini menyebabkan masyarakat harus tinggal di rumah setiap harinya.

Dilema penerapan kebijakan ini membawa konsekuensi pada berbagai aspek. Di satu sisi penerapan sosial distancing memberi dampak positif pada bidang kesehatan untuk menekan angka penyebaran virus corona, di lain sisi dampak negatif muncul pada bidang perekonomian karena sulitnya masyarakat mencari penghasilan.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan juga perceraian meningkat di masa pandemi ini, seperti yang tercantum dalam jurnal Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang ditulis Theresia Vania, dkk. Jurnal yang dipublikasikan di laman resmi Universitas Padjajaran mengatakan, kasus KDRT di masa pandemi meningkat di beberapa negara seperti Australia, China, Spanyol, dan Indonesia.

Di China tercatat 300 pasangan mengajukan cerai disebabkan pertengkaran yang bisa berujung KDRT sejak 24 Februari 2020. Di Australia terjadi peningkatan sebanyak sepertiga kasus dari 40% jumlah klien korban KDRT. Lalu, di Spanyol terdapat 18% lebih banyak kasus di dua minggu pertama lockdown. Di Indonesia kasus KDRT di Jogja meningkat menurut Edy Muhammad, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Jogja.

Menurut Penulis, banyak faktor yang menyebabkan meningkatnya KDRT selama masa pandemi COVID-19 seperti faktor sosial, faktor ekonomi, dsb. Namun, faktor ekonomi menjadi penyebab utama yang paling sering terjadi karena banyak aktivitas ekonomi yang mati atau berkurang di masa ini.

Faktor ekonomi tersebut banyak dipicu terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar sehingga banyak keluarga yang memiliki kesulitan ekonomi karena tidak adanya pemasukan untuk biaya hidup. Masalah tersebut dapat memicu tekanan dan dan menyebabkan ketidakstabilan emosi anggota keluarga yang dapat berujung pada kekerasan fisik.

Adanya peningkatan angka KDRT bukan hanya tugas atau tanggung jawab dari pemerintah melainkan semua lapisan masyarakat. Ada beberapa upaya dalam mengatasi KDRT selama masa pandemi ini. Kita dapat langsung melapor kepada petugas yang berwenang, selain itu lembaga yang mengawasi masalah ini juga harus cepat serta tanggap dalam memproses laporan mengenai KDRT dan membantu menyelesaikan masalah agar bisa mengurangi angka peningkatan.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.