in

Kaum Marjinal itu Bernama Rohingya


Saya sedikit menyesal menonton The Lady. Film yang menggambarkan betapa heroiknya sang Aung San Suu Kyi. Gambaran fantastis mengenai duplikat Margaret Thatchernya Myanmar. Saya sudah hampir tidak bisa berkata apa – apa lagi tentang wanita pemberani ini. Menjadi tahanan politik selama bertahun – tahun seakan tak menyurutkan niatnya dalam memperjuangkan hak – hak masyarakat Myanmar.

Bahkan sampai keinginannya mencalonkan diri menjadi pemimpin negara diganjal, seolah saya ingin sekali membelanya. Begitu pula ketika sang suami yang berusaha sekuat tenaga meyakinkan bahwa istrinya adalah seseorang yang pantas mendapatkan Nobel.

Semua itu pupus saat, saudara seiman saya, kaum Rohingya harus meratapi nasibnya terusir bahkan terlantar oleh negaranya sendiri.

Mengingatkan saya seperti saudara muslim saya di Gaza, Rohingya adalah kaum yang termarjinalkan oleh keadaan. Apakah mereka berasal dari kaum muslim ? atau karena mereka hidup di kawasan terpencil yang kumuh, jadi seolah – olah kehadiran mereka pantas diperlakukan sedemikian rupa ?

Sungguh sangat naif jika mendeskritkan Rohingya seperti itu.


Kaum Rohingya ini manusia lho, sama seperti kita pada umumnya, mereka adalah warga negara yang hak dan kewajibannya harus dipenuhi dan dijamin oleh UU, ya tentunya UU yang berlaku di negaranya.
Rasa kemanusiaan yang patut dijunjung tinggi seolah memudar dan dinomor sejutakan oleh pemerintah Myanmar, sehingga mengungsi adalah jalan keluar paling baik ketimbang harus memilih bertahan di kondisi yang serba tidak pasti dan tidak memungkinkan.

Baca Juga :   Jangan Menghakimi ? Bolehkah Orang Kristen Melakukannya ? (2)

Banyak negara sudah mengecam. Berbagai cara sudah dilakuan, tapi entah mengapa pihak yang tercekam, anteng adem ayam, seakan hembusan kecaman tertiup bagai butiran debu saja. Seolah – olah tidak ada masalah besar yang terjadi.

Sekarang pertanyaannya adalah….

Bagaimana seseorang peraih nobel perdamaian tidak mampu menciptakan perdamaian di negaranya sendiri ?

Membiarkan warga negaranya hidup terasingkan dan bahkan terusir ?

Apakah hati nurani disini tetap berlaku ?

atau….

Hanya mempertahankan ego yang sudah terlanjur meninggi ?

Ironis.

Gambaran The Lady tentu berbeda jauh sekali dengan apa yang digambarkan di filmnya. Sosok sempurna tanpa cela ataupun cacat menjabarkan bahwa sosok The Lady adalah sosok yang tepat sebagai seorang juru selamat atau pahlawan yang luar biasa. Nyatanya ?

Kecewa betul.

Sejuta faktor telah menjelaskan, mengapa Rohingya bisa terusir dan terdiskriminasi oleh negaranya sendiri, tapi bagaimana dan apapun alasannya, ini adalah isu serius mengenai masalah kemanusiaan. Bicara masalah HAM. Sudah sepatutnya mereka mendapatkan haknya sebagai warga negara pada umumnya.

Apa pantas, sebagai seorang kepala negara secara de facto memperlakukan warga negaranya seperti itu ? pengabaian secara frontal tanpa basa basi yang membuat negara lain menyayangkan tindakan dari seseorang peraih penghargaan nobel atas perdamaian.

Jujur saja, tidak ada gunanya menarik hadiah nobel yang telah dianugerahkan, sebab, tidak ada jaminan kehidupan para Rohingnya bisa pulih seperti sedia kala, sanak saudara mereka yang sudah wafat tak akan bisa kembali hidup, kebahagiaan yang telah rebut tidak akan bisa kembali seperti dahulu.

Baca Juga :   Kopi Lanang

Rohingya bukan hanya masalah suatu negara, Rohingya adalah permasalahan kita semua, masalah yang tidak hanya mendasari etnis, suku, bahasa, budaya, atau agama, tapi kemanusiaan. Hak Asasi Manusia inilah yang patut kita hormati. Mungkin bagi mereka, Rohingya adalah suatu hama atau benalu, atau bahkan kejinya adalah sampah. Nyatanya Rohingya juga adalah bagian dari kita. Bagian dari persaudaraan kita sesama umat manusia.

Barakallah, semoga Allah SWT selalu melimpahkan kekuatan dan ketabahan yang luar biasa bagi saudaraku Rohingya di luar sana. Husnul Khatimah bagi mereka yang telah mendahului kita.

Barakallah….


Written by mabdulrahman

Lulusan Universitas Sebelas Maret, Aktif di Dunia Perpajakan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR