Banner Uhamka
Senin, September 21, 2020
Banner Uhamka

Kata Maaf Menjadi “Baper”di Zaman Now!

Memaknai “Hari Kemenangan” Perspektif Dungu

Kasus positif Covid-19 sudah mencapai lebih dari 20 ribu. Lima ribuan di antaranya berhasil sembuh dan hampir seribu empat ratusan lainnya meninggal dunia. Angka itu...

Nyai Walidah dan Tren Jilbab

Sejak tayang film biopik Nyai Ahmad Dahlan, bermunculan juga jilbab tren Nyai Dahlan. Jilbab yang juga melekat dalam foto resmi atau lukisan Nyai Dahlan....

Ancaman Corona, Merawat Harapan

Dunia hari ini sedang dirundung dengan persoalan paling pelik, ruwet, dan menggegerkan. Hampir beberapa negara seperti China, Italia dan Indonesia diperhadapkan dengan masalah penyebaran...

Soleh Ritual Dan Soleh Sosial Dalam Mewujudkan Masyarakat Madani

“Carilah apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu untuk kehidupan akhirat kelak, namun jangan lupakan juga bagianmu dari dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah...
masruroh al syarif
mahasiswa hukum tata negara UIN Malang

Baru-baru ini ungkapan “Baper” menjadi trending di masyarakat zaman now. Setiap percakapan antara teman sebaya yang saya temui, dan juga di dunia entertain melantunkan kata ini disetiap kesempatan. Entah itu sebagai alasan biar kekinian atau malah untuk memukul lawan bicara sehingga menjadi baper sungguhan.

Di setiap bahasa pasti akan mengalami perubahan mengingat zaman yang semakin maju namun tidak semua perubahan itu sebagai hal positif yang bisa diterima. Adakalanya kita harus memfilternya sebagai bahasa keseharian yang tetap menjunjung adat ketimuran yang selama ini diterapkan di Indonesia.

Ketika kita dengan berbicara seperti itu malahan tidak sengaja membuuat lawan bicara merasa terjatuh dan tersakiti maka bahasa yang seperti kata “Baper” seyogyanya mulai dikurangi dengan beberapa gerakan nyata seperti halnnya hoax yang sudah merajai di setiap media massa ataupun media maya Negara ini.

Seperti yang penulis perhatikan di sekitar, contoh katakanlah Si A meminta tolong untuk mengambilkan bukunya jatuh di lantai dan Si B entah itu niat guyon atau memang sengaja dengan lantangnya ia bilang tidak mau, lalu Si A dengan raut muka yang suntuk dalam menanggapinya sambil mengambil bukunya yang jatuh. Tak lama dari kejadian tiba-tiba Si A  bilang “Baperrrr!!!”.

Nah gambaran di atas secara jelas kata “Baper” bisa menggantikan kata “maaf” begitu hebatnya jaman sekarang sampai-samai budaya kita yang harusnya ketika seseorang menyakiti orang lain meminta maaf tapi malah dengan entengnya mengatakan “Baperrr!!!”.

Dan yang menggunakan kata-kata seperti ini merupakan agent of change yang nantinya akan menjadi pengganti pemimpin-pemimpin masa depan yang harusnya bisa melestarikan kebudayaan bahasa Indonesia kita maupun sikap orang Indonesia yang selalu mungutamakan kata maaf dalam setiap tindakannya.

Bila dikaitkan dengan teori komunikasi behaviorisme. Teori dari ilmuan asal Amerika Serikat bernama Jhon B. Watson (1878 – 1958). Menurutnya Teori Behaviorisme ini mencakup semua perilaku, termasuk tindakan balasan atau respon terhadap suatu rangsangan atau stimulus. Artinya bahwa selalu ada kaitan antara stimulus dengan respon pada perilaku manusia. Jika suatu stimulus atau rangsangan yang diterima seseorang telah teramati, maka dapat diprediksikan pula respon dari orang tersebut.

Sehingga yang dipaparkan oleh Jhon B. Watson ini sangat berkaitan dengan masalah kata “Baper” dalam setiap omongan. Bagaimana respon lawan bicara setelah mendapat rangsangan dari lawan bicara yang tidak menenangkan malahan menjatuhkan dan bisa memicu pertikaian antar individu dengan individu atau individu dengan kelompok.

Solusi yang tepat untuk masalah ini adalah dengan sinergi antara pemerintah, seniman, akademisi, masyarakat sipil yang mana didalamnya ada cakupan generasi sekarang maupun yang yang akan datang bisa bekerjasama untuk melawan kata-kata yang dianggap amoril untuk dilakukan dalam keseharian.

Saling berkontribusi untuk mengembalikan budaya bahasa yang baik dan benar agar tidak saling menyakiti dan menimbulkan pertikaian. Semoga bermanfaat.

masruroh al syarif
mahasiswa hukum tata negara UIN Malang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Komunis Pertama dalam Tubuh Organisasi Islam Di Indonesia

Pada tahun 1913 H. J. F. M. Sneevliet (1883-1942) tiba di Indonesia. Dia memulai karirnya sebagai seorang pengamut mistik Katolik tetapi kemudian beralih ke...

Berperang Melawan Infodemi

Menurut (Eshet-Alkalai, 2004) ruang maya atau cyberspace bukan hanya desa global atau global village melainkan hutan belantara yang lebat dengan segala informasi. Informasi tersebut bisa jadi...

Religion in Academic Study; An Introduction

"Religion" in relation to ritual practice became an item in an inventory of cultural topics that could be presented either ethnographically in terms of...

Optimisme di Tengah Ketidakbersatuan ASEAN

Optimisme ASEAN yang memasuki usia 53 tahun pada 8 Agustus lalu harus dihadapkan pada kenyataan pahit dan diliputi keprihatinan. Negara-negara anggota ASEAN dipaksa atau...

Investasi dalam Bidang SDA dan Agenda Neoliberal

Hari telah menuju sore, dengan wajah yang elok Presiden Joko Widodo membacakan naskah pidatonya saat dilantik untuk kedua kalinya pada tahun 2019 lalu. Sepenggal...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.