Sabtu, Januari 16, 2021

Kata Maaf Menjadi “Baper”di Zaman Now!

Korona dan Ikhtiar Ulama Nusantara

Hampir satu bulan terakhir ini Indonesia tengah mengalami situasi genting akibat pandemi Covid-19 atau yang juga dikenal dengan virus korona. Pemerintah pusat telah menyatakan...

Siapa Pendamping Jokowi di 2019?: Ideal Type.

Setelah pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies-Sandi hari ini, Jakarta resmi memiliki Gubernur dan Wagub baru. Itu menandakan "tantangan" besar sudah di...

Swedia, Pasca Orde Zlatan

Memang sulit memisahkan Swedia dan Zlatan. Besar kemungkinan anda akan merespon Zlatan Ibrahimovic terlebih dahulu –sebelum menyebut IKEA atau ABBA- , saat saya menyebut...

Bencana dan Semesta Akal Sehat

Mungkin tidak ada kata lain untuk melukiskan berbagai tragedi bencana alam yang kita alami selain tiga kata ini, berita, cerita dan derita. Walaupun berbeda sedikit abjad...
masruroh al syarif
mahasiswa hukum tata negara UIN Malang

Baru-baru ini ungkapan “Baper” menjadi trending di masyarakat zaman now. Setiap percakapan antara teman sebaya yang saya temui, dan juga di dunia entertain melantunkan kata ini disetiap kesempatan. Entah itu sebagai alasan biar kekinian atau malah untuk memukul lawan bicara sehingga menjadi baper sungguhan.

Di setiap bahasa pasti akan mengalami perubahan mengingat zaman yang semakin maju namun tidak semua perubahan itu sebagai hal positif yang bisa diterima. Adakalanya kita harus memfilternya sebagai bahasa keseharian yang tetap menjunjung adat ketimuran yang selama ini diterapkan di Indonesia.

Ketika kita dengan berbicara seperti itu malahan tidak sengaja membuuat lawan bicara merasa terjatuh dan tersakiti maka bahasa yang seperti kata “Baper” seyogyanya mulai dikurangi dengan beberapa gerakan nyata seperti halnnya hoax yang sudah merajai di setiap media massa ataupun media maya Negara ini.

Seperti yang penulis perhatikan di sekitar, contoh katakanlah Si A meminta tolong untuk mengambilkan bukunya jatuh di lantai dan Si B entah itu niat guyon atau memang sengaja dengan lantangnya ia bilang tidak mau, lalu Si A dengan raut muka yang suntuk dalam menanggapinya sambil mengambil bukunya yang jatuh. Tak lama dari kejadian tiba-tiba Si A  bilang “Baperrrr!!!”.

Nah gambaran di atas secara jelas kata “Baper” bisa menggantikan kata “maaf” begitu hebatnya jaman sekarang sampai-samai budaya kita yang harusnya ketika seseorang menyakiti orang lain meminta maaf tapi malah dengan entengnya mengatakan “Baperrr!!!”.

Dan yang menggunakan kata-kata seperti ini merupakan agent of change yang nantinya akan menjadi pengganti pemimpin-pemimpin masa depan yang harusnya bisa melestarikan kebudayaan bahasa Indonesia kita maupun sikap orang Indonesia yang selalu mungutamakan kata maaf dalam setiap tindakannya.

Bila dikaitkan dengan teori komunikasi behaviorisme. Teori dari ilmuan asal Amerika Serikat bernama Jhon B. Watson (1878 – 1958). Menurutnya Teori Behaviorisme ini mencakup semua perilaku, termasuk tindakan balasan atau respon terhadap suatu rangsangan atau stimulus. Artinya bahwa selalu ada kaitan antara stimulus dengan respon pada perilaku manusia. Jika suatu stimulus atau rangsangan yang diterima seseorang telah teramati, maka dapat diprediksikan pula respon dari orang tersebut.

Sehingga yang dipaparkan oleh Jhon B. Watson ini sangat berkaitan dengan masalah kata “Baper” dalam setiap omongan. Bagaimana respon lawan bicara setelah mendapat rangsangan dari lawan bicara yang tidak menenangkan malahan menjatuhkan dan bisa memicu pertikaian antar individu dengan individu atau individu dengan kelompok.

Solusi yang tepat untuk masalah ini adalah dengan sinergi antara pemerintah, seniman, akademisi, masyarakat sipil yang mana didalamnya ada cakupan generasi sekarang maupun yang yang akan datang bisa bekerjasama untuk melawan kata-kata yang dianggap amoril untuk dilakukan dalam keseharian.

Saling berkontribusi untuk mengembalikan budaya bahasa yang baik dan benar agar tidak saling menyakiti dan menimbulkan pertikaian. Semoga bermanfaat.

masruroh al syarif
mahasiswa hukum tata negara UIN Malang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.