Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Kasus Nikmat Artis Rp80 Juta, Biasa Aja Tuh!

Pilpres 2019 Demokrasi Zonder Literasi

Ibarat menyaksikan pementasan drama, jalan cerita menuju Pilpres 2019 terasa makin hambar, membosankan, bahkan menjengkelkan. Narasi yang disuguhkan ke hadapan rakyat sebagai pemilih, masih...

Dua Penghargaan Internasional untuk Ir. Ciputra

Ir. Ciputra founder Jaya grup, Metropolitan grup dan Ciputra grup adalah satu-satunya putra Indonesia yang mendapat anugerah dua penghargaan internasional sekaligus dari The Asia...

Menteri Mencaleg: Antara Tugas Negara dan Tugas Partai

Gelaran pesta akbar demokrasi sudah mendekati waktunya, para partai politik peserta pemilu telah mendaftakan bakal calonnya ke KPU. Banyak yang menjadi perhatian publik dari daftar...

Demonstrasi Buruh Vs Komodifikasi Media

1 Mei merupakan hari buruh sedunia dalam setiap tahunnya para buruh selalu melakukan demonstrasi di pelbagai tempat bahkan di penjuru dunia pun buruh selalu...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Terbongkarnya kasus prostitusi online yang diduga melibatkan artis Vanessa Angel oleh Polda Jawa Timur, tidak perlu dihebohkan. Skandal lendir nikmat artis seharga Rp80 juta ini, bagi saya biasa aja tuh. Toh, jauh hari sebelumnya, puluhan kasus sejumlah artis yang juga berprofesi sebagai pelacur kelas atas sudah pernah diberitakan secara masif oleh media massa.

Skandal bisnis lendir nikmat memang menjadi berita paling seksi yang mampu menyedot perhatian publik. Selain itu, bisnis esek-esek Anak Baru Gede (ABG) dan berita kekerasan seksual juga berhasil membetot atensi warganet. Hampir sebagian besar orang Indonesia sangat antusias kalau berbicara soal seks, baik hanya sekadar untuk gurauan atau obrolan serius yang sembunyi-sembunyi.

Dari sejumlah kasus prostitusi yang berhasil diungkap polisi, diduga kuat, tampaknya Indonesia memang memiliki jaringan organisasi transaksi syahwat yang terorganisir. Buktinya, Kapolda Jatim Irjen Polisi Luki Hermawan mengakui bahwa tarif dalam jaringan prostitusi artis sangat beragam. Mulai dari yang seharga Rp25 juta hingga mencapai Rp100 juta. Semakin popular seorang artis, maka harganya semakin selangit. Namun, tetap saja uang sebesar itu harus dibagi dua dengan mucikarinya.

Menurut Luki, pihaknya sudah mengantongi nama-nama artis yang berprofesi sebagai pelacur. “Nama-nama mereka sudah kita pegang semua dan tarifnya juga ada sesuai dengan tingkat kepopulerannya,” katanya.

Eksistensi bisnis prostitusi di Indonesia, pasti didukung jaringan organisasi yang kuat dan sudah berakar sejak lama. Jaringan ini mungkin sudah menyebar dalam beberapa sel. Misalnya jaringan sel prostitusi oknum pramugari, jaringan sel prostitusi oknum Sales Promotion Girls (SPG), jaringan sel prostitusi oknum artis, jaringan sel prostitusi oknum pelajar, jaringan sel prostitusi oknum model, jaringan sel prostitusi oknum profesional serta jaringan sel prostitusi oknum pengusaha. Setiap jaringan sel prostitusi memiliki pangsa pasar sendiri dan nilai transaksi yang berbeda-beda.

Dalam bisnis prostitusi berlaku teori ilmu ekonomi, supply and demand. Teori ini secara tegas menunjukkan bahwa aktivitas pelacuran tidak akan pernah ada di dunia, kalau tidak ada peminatnya. Para konsumen lendir nikmat ini juga berasal dari berbagai lapisan sosial, diantaranya bisa dari kalangan oknum pengusaha, pejabat negara, politisi, tokoh agama, mahasiswa, kelompok akademisi, profesional, aparat hukum hingga rakyat jelata.

Pelacur Profesi Tertua

Pelacur merupakan salah satu profesi tertua di dunia. Di zaman Yunani dan Romawi kuno, temple prostitutes atau pelacur kuil bersanding erat dengan soal keagamaan. Pelacur kuil bekerja untuk Tuhan. Uang yang didapatkan pelacur disumbangkan untuk pembangunan kuil Aphrodite.

Di Yunani, juga dikenal pelacur Auletrides dan Hetaerae. Pelacur Auletrides sangat piawai di ranjang. Pelacur Auletrides bisa dipesan untuk pesta pribadi. Sedangkan pelacur Hetaerae adalah pelacur kelas tinggi di Athena yang hanya memberikan pelayanan seks kepada para bangsawan. Di Yunani, pelacur bukanlah profesi rendah, justru pelacur menempati kedudukan terhormat.

Tawaif adalah dunia pelacuran di India Utara (abad 18). Para pelacurnya disebut Tawaifs. Seorang Tawaifs memiliki status sosial tinggi karena mereka adalah pelacur keturunan. Sedangkan, di India Selatan, para pelacur disebut Devadasi.

Para orang tua yang anak gadisnya telah memasuki masa puber, akan segera melelang keperawanan anak gadisnya (Devadasi) kepada penawar tertinggi. Di negeri tirai bambu Tiongkok (100 SM), Kaisar Wu mengakui keberadaan pelacur profesional yang disebut Ying-chi. Dalam sejarahnya, para pelacur bukan hanya berperan memuaskan pelanggan, mereka mempunyai andil besar dalam peradaban manusia.

Sanksi Hukum Prostitusi

Di Indonesia, aparat hukum tidak punya hak memberi sanksi hukum kepada oknum yang terlibat prostitusi, selama aktivitas mereka tidak merugikan keuangan negara serta mengganggu kenyamanan dan keamanan sosial.

Di sisi lain, aparat hukum wajib bertindak, bila aktivitas prostitusi sudah mulai melibatkan kepentingan politik, mengganggu kenyamanan publik serta melanggar Undang-Undang (UU).

Prostitusi menjadi problem besar bagi bangsa ini, karena diduga kuat ada sekelompok oknum elit penguasa yang banyak menggunakan wanita pelacur untuk merebut kekuasaan. Dari sinilah muncul istilah gratifikasi seks. Salam seruput ngopi angetnya kawan….

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.