Rabu, Maret 3, 2021

Kasus George Floyd, Bagaimana Sejarah Rasisme Amerika?

Sex (in) Equality

Diskriminasi atau bias gender sering ditemykan dalam pemberitaan dalam media konvensional amaupun media online, dan secara tidak langsung konten dari pemberitaan tersebut merepresentasikan bentuk...

Budak Smartphone

Smartphone sudah menjadi barang yang dibawa kemana-mana. Ketika pergi, smartphone ketinggalan maka akan berupaya mengambilnya. Dirilis dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, masyarakat mengakses...

Pendidikan Kita dan Keteladanan Korupsi

Berita tertangkapnya Bupati Cianjur dan Dinas Pendidikan setempat, karena diduga oleh KPK telah mengkorupsi dana pendidikan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) yang baru saja...

Menegakkan Keadilan Pemilu

Pemungutan suara yang telah dilaksanakan beberapa hari lalu ternyata tidak menyudahi terbaginya dua kubu masyarakat Indonesia yang disebabkan oleh perbedaan pilihan dalam Pemilihan Umum...
Bernadette Dyva Soubirous
Mahasiswi S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Menjunjung kebebasan berpendapat dan hak properti.

Dunia tengah mengalami ketegangan akibat tindakan rasisme yang terjadi baru-baru ini. Kecaman kuat diarahkan kepada empat orang tersangka yang berprofesi sebagai aparat kepolisian Amerika. Derek Chauvin adalah tersangka utama atas kematian George Floyd, seorang berkulit hitam yang tinggal di kota Minneapolis.

Pada awalnya, Floyd sedang berada di sebuah toko Cup Food. Ia ingin membeli sebungkus rokok. Namun, karyawan toko mengatakan bahwa uang yang diberikan Floyd adalah palsu. Sesaat setelahnya, telepon dengan angka 911 disambungkan.

Mobil aparat kepolisian datang dan membekuk Floyd dengan tuduhan penyalahgunaan uang palsu. Salah satu polisi, Derek Chauvin, mengeluarkan Floyd dari mobil dan langsung menjatuhkannya ke tanah. Lalu, ia meletakkan lututnya pada leher Floyd selama delapan menit.

Perjuangan delapan menit Floyd nyatanya telah merenggang nyawanya. Kematian ini membuat seluruh dunia mengecam tindakan Chauvin dan keempat rekannya. Dunia meyakini bahwa tindakan ini didasari oleh Rasisme.

Sejarah Rasisme di Amerika Serikat

Rasisme adalah tindakan superioritas yang dilakukan oleh individu atau sekelompok orang dengan ras tertentu kepada ras lain yang dianggap lebih rendah. Menurut Marger (1994), adanya pemikiran rasisme secara alami akan memberikan perlakuan yang berbeda kepada ras yang berbeda dengan dirinya.

Sejarah rasisme di Amerika Serikat telah berlangsung sejak abad ke-19. Pembentukan awal rasisme dipicu dengan adanya sistem perbudakan. Sistem ini menempati orang berkulit putih dengan kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan orang berkulit hitam.

Pada tahun 1877, pemerintah Georgia pernah memberlakukan pajak pemilih baik bagi masyarakat kulit putih dan hitam. Ini bertujuan agar masyarakat kulit hitam yang mayoritas berpenghasilan sangat rendah tidak dapat membayar apalagi menggunakan hak pilihnya.

Adanya peraturan untuk melindungi hak sipil masyarakat kulit hitam di Amerika nyatanya pernah selalu menemukan titik buntu. Melalui Kongres, Undang-Undang Hak Sipil pada tahun 1875 yang menjamin bahwa setiap warga kulit hitam memiliki akses yang sama pada akhirnya dibatasi bahkan dilemahkan oleh Mahkamah Agung sendiri.

Penafsiran yang sempit terhadap Amandemen Perang Sipil Tiga Belas-Empat Belas-Lima Belas terjadi pada abad ke-19. Pengadilan meyakini bahwa rasisme adalah perbedaan yang melekat dan menentukan prestasi dan ras seseorang lebih unggul dari yang lainnya, oleh karena itu memiliki hak untuk mendominasi orang lain.

Pada tahun 1892, tindakan “separate but equal” dilakukan dengan adanya kesetaraan dalam penggunaan fasilitas publik, namun dipisahkan. Misalnya, penggunaan kursi di bus; kelompok kulit putih dapat duduk di kursi-kursi depan bus, sedangkan kulit hitam di belakang.

Pada akhir abad ke-19, walaupun amandemen dan konstitusi telah melindungi kesetaraan dibawah payung hukum, namun interpretasi pengadilan menjadikannya tidak berjalan sesuai yang diharapkan.

Dukungan terhadap tindakan desegregasi mulai terlihat perkembangannya pada awal abad ke-20. Warga kulit hitam mulai bekerja bersama untuk pelayanan dan organisasi keagamaan.

Pada awal tahun 1909, didirikan National Association for the Advancement of Colored People (NAACP) dengan tujuan mengakhiri diskriminasi rasial. Pada tahun 1902, hukum Amerika menyatakan bahwa Mahkamah Agung tidak akan berselisih kembali berkaitan dengan pemisahan rasial. Namun, hingga  tahun 1935, diskriminasi rasial masih terjadi pada kelompok kulit hitam, terutama dalam bidang pendidikan.

Di era kepemimpinannya, Presiden Harry S. Truman juga mendirikan komite presiden untuk memperjuangkan hak sipil warga kulit hitam. Dukungan Truman dalam desegregasi rasial ini terlihat dengan adanya pendirian komite presiden untuk memperjuangkan hak sipil warga kulit hitam.

Presiden John F. Kennedy juga sangat mendukung upaya desegregasi terhadap penghapus diskriminasi warga kulit hitam. Beliau mengakomodasi bentuk-bentuk pelayanan terhadap warga kulit hitam. Kebijakan affirmative action memberikan ruang bagi kelompok yang tersisihkan, serta mengevaluasi ketimpangan yang sebelumnya terjadi. Tindakan ini diteruskan oleh Presiden Lyndon Johnson yang menempatkan hak sipil sebagai prioritas dalam  agenda pemerintahannya.

Perjuangan masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat telah dalam memperoleh kesempatan dan perlakuan yang sama telah membuka jalan kesetaraan bagi penduduk asli Amerika, kelompok imigran, kaum perempuan, disabilitas, hingga homoseksual.

Kasus George Floyd

Sejumlah demonstran turun ke jalanan untuk memprotes aksi rasisme terhadap George Floyd. Mereka menuntut keadilan dan kesetaraan bagi kaum kulit hitam. Protes dilakukan sebagai aksi solidaritas mengenang kematian Floyd yang tidak wajar.

Tagar seperti #blackouttuesday atau #blacklivematter mewarnai kolom-kolom sosial media. Tidak hanya warga Amerika, bahkan seluruh dunia sedang berempati atas Floyd. Solidaritas lintas negara sedang dilakukan.

Rasisme terhadap kaum kulit hitam bukan wacana baru di Amerika. Modernisasi menuntut masyarakat untuk lebih berpikiran terbuka. Liberalisme di Amerika membawa nilai kebebasan dan kesetaraan, terutama terkait dengan hak individu.

Beberapa hari belakang ini, demonstrasi telah berubah menjadi aksi kerusuhan. Penuntutan masyarakat telah menyebar ke seluruh negara bagian. Beberapa daerah masih lebih mengedepankan unjuk rasa secara damai. Namun, tidak sedikit yang terlibat bentrok dengan aparat kepolisian, hingga merusak properti warga.

Demonstrasi juga menuntut perlakuan baik aparat kepolisian kepada masyarakat. Hal ini ditandai dengan tidak adanya penggunaan senjata. Selain itu, di beberapa kota, aparat kepolisian dituntut berlutut sebagai rasa empati atas kematian Floyd.

Bernadette Dyva Soubirous
Mahasiswi S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Menjunjung kebebasan berpendapat dan hak properti.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.