Banner Uhamka
Senin, September 21, 2020
Banner Uhamka

Kasus George Floyd, Bagaimana Sejarah Rasisme Amerika?

Nadiem Harus Mencetak Nadiem Desa

Nadiem Makarim menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini, tepatnya setelah penunjukan mantan bos ‘Decacorn Gojek’ itu sebagai menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru. Dengan segala...

Desa dan Negeri Dongeng

Mengulik kembali cerita-cerita dongeng masa kecil yang sering didengar, membawa kita pada fantasi seolah kita hidup di dalam cerita tersebut. Sebagian cerita yang menjadikan...

Pilkada Jatim dan Nasib Orang Pulau

Sebelumnya mohon maaf, atas keterlambatan dalam merumuskan bentuk kritikan, kami terlalu leha, woles, kurang uptudate dengan informasi kontemporer dan klasik sehingga banyak sekali yang...

Kenapa Takut Berpikir Tentang Tuhan? (Membela Mun’im)

Setiap kali Mun’im Sirry menulis tentang dinamika pemikiran ketuhanan, atau apa pun yang berkaitan dengan Tuhan sering muncul komentar yang bersifat kontra dalam artian...
Bernadette Dyva Soubirous
Mahasiswi S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Mendorong kebebasan individu dan kesetaraan gender.

Dunia tengah mengalami ketegangan akibat tindakan rasisme yang terjadi baru-baru ini. Kecaman kuat diarahkan kepada empat orang tersangka yang berprofesi sebagai aparat kepolisian Amerika. Derek Chauvin adalah tersangka utama atas kematian George Floyd, seorang berkulit hitam yang tinggal di kota Minneapolis.

Pada awalnya, Floyd sedang berada di sebuah toko Cup Food. Ia ingin membeli sebungkus rokok. Namun, karyawan toko mengatakan bahwa uang yang diberikan Floyd adalah palsu. Sesaat setelahnya, telepon dengan angka 911 disambungkan.

Mobil aparat kepolisian datang dan membekuk Floyd dengan tuduhan penyalahgunaan uang palsu. Salah satu polisi, Derek Chauvin, mengeluarkan Floyd dari mobil dan langsung menjatuhkannya ke tanah. Lalu, ia meletakkan lututnya pada leher Floyd selama delapan menit.

Perjuangan delapan menit Floyd nyatanya telah merenggang nyawanya. Kematian ini membuat seluruh dunia mengecam tindakan Chauvin dan keempat rekannya. Dunia meyakini bahwa tindakan ini didasari oleh Rasisme.

Sejarah Rasisme di Amerika Serikat

Rasisme adalah tindakan superioritas yang dilakukan oleh individu atau sekelompok orang dengan ras tertentu kepada ras lain yang dianggap lebih rendah. Menurut Marger (1994), adanya pemikiran rasisme secara alami akan memberikan perlakuan yang berbeda kepada ras yang berbeda dengan dirinya.

Sejarah rasisme di Amerika Serikat telah berlangsung sejak abad ke-19. Pembentukan awal rasisme dipicu dengan adanya sistem perbudakan. Sistem ini menempati orang berkulit putih dengan kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan orang berkulit hitam.

Pada tahun 1877, pemerintah Georgia pernah memberlakukan pajak pemilih baik bagi masyarakat kulit putih dan hitam. Ini bertujuan agar masyarakat kulit hitam yang mayoritas berpenghasilan sangat rendah tidak dapat membayar apalagi menggunakan hak pilihnya.

Adanya peraturan untuk melindungi hak sipil masyarakat kulit hitam di Amerika nyatanya pernah selalu menemukan titik buntu. Melalui Kongres, Undang-Undang Hak Sipil pada tahun 1875 yang menjamin bahwa setiap warga kulit hitam memiliki akses yang sama pada akhirnya dibatasi bahkan dilemahkan oleh Mahkamah Agung sendiri.

Penafsiran yang sempit terhadap Amandemen Perang Sipil Tiga Belas-Empat Belas-Lima Belas terjadi pada abad ke-19. Pengadilan meyakini bahwa rasisme adalah perbedaan yang melekat dan menentukan prestasi dan ras seseorang lebih unggul dari yang lainnya, oleh karena itu memiliki hak untuk mendominasi orang lain.

Pada tahun 1892, tindakan “separate but equal” dilakukan dengan adanya kesetaraan dalam penggunaan fasilitas publik, namun dipisahkan. Misalnya, penggunaan kursi di bus; kelompok kulit putih dapat duduk di kursi-kursi depan bus, sedangkan kulit hitam di belakang.

Pada akhir abad ke-19, walaupun amandemen dan konstitusi telah melindungi kesetaraan dibawah payung hukum, namun interpretasi pengadilan menjadikannya tidak berjalan sesuai yang diharapkan.

Dukungan terhadap tindakan desegregasi mulai terlihat perkembangannya pada awal abad ke-20. Warga kulit hitam mulai bekerja bersama untuk pelayanan dan organisasi keagamaan.

Pada awal tahun 1909, didirikan National Association for the Advancement of Colored People (NAACP) dengan tujuan mengakhiri diskriminasi rasial. Pada tahun 1902, hukum Amerika menyatakan bahwa Mahkamah Agung tidak akan berselisih kembali berkaitan dengan pemisahan rasial. Namun, hingga  tahun 1935, diskriminasi rasial masih terjadi pada kelompok kulit hitam, terutama dalam bidang pendidikan.

Di era kepemimpinannya, Presiden Harry S. Truman juga mendirikan komite presiden untuk memperjuangkan hak sipil warga kulit hitam. Dukungan Truman dalam desegregasi rasial ini terlihat dengan adanya pendirian komite presiden untuk memperjuangkan hak sipil warga kulit hitam.

Presiden John F. Kennedy juga sangat mendukung upaya desegregasi terhadap penghapus diskriminasi warga kulit hitam. Beliau mengakomodasi bentuk-bentuk pelayanan terhadap warga kulit hitam. Kebijakan affirmative action memberikan ruang bagi kelompok yang tersisihkan, serta mengevaluasi ketimpangan yang sebelumnya terjadi. Tindakan ini diteruskan oleh Presiden Lyndon Johnson yang menempatkan hak sipil sebagai prioritas dalam  agenda pemerintahannya.

Perjuangan masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat telah dalam memperoleh kesempatan dan perlakuan yang sama telah membuka jalan kesetaraan bagi penduduk asli Amerika, kelompok imigran, kaum perempuan, disabilitas, hingga homoseksual.

Kasus George Floyd

Sejumlah demonstran turun ke jalanan untuk memprotes aksi rasisme terhadap George Floyd. Mereka menuntut keadilan dan kesetaraan bagi kaum kulit hitam. Protes dilakukan sebagai aksi solidaritas mengenang kematian Floyd yang tidak wajar.

Tagar seperti #blackouttuesday atau #blacklivematter mewarnai kolom-kolom sosial media. Tidak hanya warga Amerika, bahkan seluruh dunia sedang berempati atas Floyd. Solidaritas lintas negara sedang dilakukan.

Rasisme terhadap kaum kulit hitam bukan wacana baru di Amerika. Modernisasi menuntut masyarakat untuk lebih berpikiran terbuka. Liberalisme di Amerika membawa nilai kebebasan dan kesetaraan, terutama terkait dengan hak individu.

Beberapa hari belakang ini, demonstrasi telah berubah menjadi aksi kerusuhan. Penuntutan masyarakat telah menyebar ke seluruh negara bagian. Beberapa daerah masih lebih mengedepankan unjuk rasa secara damai. Namun, tidak sedikit yang terlibat bentrok dengan aparat kepolisian, hingga merusak properti warga.

Demonstrasi juga menuntut perlakuan baik aparat kepolisian kepada masyarakat. Hal ini ditandai dengan tidak adanya penggunaan senjata. Selain itu, di beberapa kota, aparat kepolisian dituntut berlutut sebagai rasa empati atas kematian Floyd.

Bernadette Dyva Soubirous
Mahasiswi S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Mendorong kebebasan individu dan kesetaraan gender.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Religion in Academic Study; An Introduction

"Religion" in relation to ritual practice became an item in an inventory of cultural topics that could be presented either ethnographically in terms of...

Optimisme di Tengah Ketidakbersatuan ASEAN

Optimisme ASEAN yang memasuki usia 53 tahun pada 8 Agustus lalu harus dihadapkan pada kenyataan pahit dan diliputi keprihatinan. Negara-negara anggota ASEAN dipaksa atau...

Investasi dalam Bidang SDA dan Agenda Neoliberal

Hari telah menuju sore, dengan wajah yang elok Presiden Joko Widodo membacakan naskah pidatonya saat dilantik untuk kedua kalinya pada tahun 2019 lalu. Sepenggal...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Konflik Yaman dan Kesepakatan Damai Israel-UEA

Kesepakatan damai Israel-UEA (Uni Emirat Arab), disusul Bahrain dan kemungkinan negara Arab lainnya, menandai babak baru geopolitik Timur Tengah. Sejauh ini, pihak yang paling...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.