Minggu, Februari 28, 2021

Karya Sastra dan Pengaruhnya dalam Hidup Manusia

Putra Kepala Negara dan Pelaporan yang Sia-sia

Sejak kemarin, anak Jokowi yang bernama Kaesang menjadi perbincangan hangat di dunia sosial media karena diduga telah menodai Agama seperti halnya yang dilakukan oleh...

Kementerian Agama Berwajah Militer?

Tepat pada tanggal 23 Oktober kemarin presiden Jokowi memperkenalkan sekaligus melantik Kabinet Indonesia Maju yang baru. Terlihat santai sambil duduk rileks di undak-undakan istana...

The Dark and Bloody Side of Khilafah

Sudah baca buku Islam Yes, Khilafah No Jilid 2 karya Nadirsyah Hosen? Kalau belum, beli dan bacalah bukunya. Umat Islam perlu mengetahui fakta sejarah kekhilafahan...

Haidar Bagir, Rumi, dan Tasawuf

Bagi penulis, Pak Haidar Bagir adalah guru. Beliau juga merupakan idola. Penulis belajar melalui buku, tulisan, video, sosial media, dan forum diskusi secara langsung...
Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.

Banyak orang lebih mengenal Wiji Tukul sebagai sastrawan revolusioner dengan karya-karyanya yang mengangkat isu-isu sosial, tetapi, hanya sedikit yang mengenal dia dengan membaca, mengilhami, menelaah dan memaknai karya-karya sastranya.

Begitu juga dengan Pramoedya A. Toer yang lebih banyak dikenal dengan karya Tetralogi Pulau Burunya, tetapi, ketika ditanya apa yang bisa didapat dari tetralogi tersebut, hanya sedikit yang bisa menjawabnya. Dengan kata lain, sastrawan saat ini lebih dikenal nama, biografi dan judul karyanya daripada pelajaran kesusatraan yang mereka angkat melalui karya mereka.

Mari kita baca dan renungkan kalimat Goenawan Mohamad berikut ini:

“Di tahun 1950-an tulisan A. Teeuw tentang kesusastraan Indonesia modern diterjemahkan dengan judul Pokok dan Tokoh, Penelaah itu ingin menampilkan “tokoh” pengarang sebagai bagian dari “pokok” yang diekspresikan sebuah karya sastra. Tapi akhirnya “tokoh” lebih mencuat, “pokok” menciut. Terutama sejak pelajaran kesusastraan di sekolah tak dibawa untuk menikmati karya dan menelaahnya. Memilih jalan yang gampang, para guru  hanya membawa murid mengetahui nama, judul karya, mungkin sinposis.”

Teringat ketika semasa SD sampai SMA dulu, di mana banyak yang lebih mengenal Chairil Anwar sebagai “Binatang Jalang”, sebab, tidak jarang di dalam soal Bahasa Indonesia muncul pertanyaan, siapakah sastrawan indonesia yang dikenal dengan sebutan Binatang Jalang?

Atau ketika tiba-tiba nama Chairil Anwar kembali mencuat ke permukaan setelah adanya film “AADC” di mana tokoh Rangga yang membawa buku puisi berjudul “Aku”. Sejak saat itu, buku tersebut banyak diburu orang.

Sebuah kontradiksi terjadi ketika ada pertanyaan, “Kenapa Chairil Anwar dikenal dengan sebutan binatang jalang?” atau di saat ditanya, “Jenis puisi seperti apa yang dituliskan Chairil di buku berjudul “Aku”?”

Saya yakin tidak banyak juga yang bisa menjawabnya. Bisa jadi karena kebanyakan orang membeli buku tersebut lebih karena buku itu pernah muncul di salah satu adegan film tersebut dengan harapan bisa menjadi sekeren sosok Rangga yang puitis.

Secara sederhana itulah yang saya tangkap dari yang disampaikan Goenawan Mohamad dengan mengutip perkataan A. Teeuw bahwa akhirnya tokoh lebih mencuat dan pokok lebih menciut dan pembaca hanya dibawa untuk mengenal nama dan judul karyanya dibandingkan menelaah karyanya.

Selanjutnya, mari kita sedikit melakukan perbandingan tentang pelajaran sastra di Indonesia dibanding di negara lain. Kali ini saya akan mengutip sebuah riset yang dilakukan Taufik Ismail di era 1997-2005.

Dalam riset tersebut Taufik Ismail menemukan fakta yang mengejutkan sekaligus memilukan dan memalukan, bahwa siswa di Indonesia tak pernah mengenal sastra hingga bangku SMA. Setelah era Algemeene Middelbare School (AMS), atau sekolah setingkat SMA di masa penjajahan Belanda, pelajar di tingkat SMA hanya membaca 0-2 buku sastra. Fenomena ini tak sebanding dengan negara-negara lain di dunia. Di Malaysia, misalnya, para siswa diwajibkan membaca 6 judul karya, di Swiss dan Jepang 15 judul, dan Amerika adalah yang tertinggi, yakni 32 judul buku sastra.

Tidak sedikit yang menganggap sastra adalah pelajaran yang tidak berguna terutama dalam hal mencari materi keduniaan. Banyak pula yang berpikir bahwa sastra hanya omong kosong  belaka dan menjauhkan nilai religiusitas dan moralitas anak. Alasan ini saya lihat sebagai pembenaran ngawur semata.

Dilihat dari materi keduniaan—jika materi dijadikan tujuan utama—bisa kita lihat banyak novelis yang pada akhirnya meraup rupiah dari novelnya bahkan tidak sedikit yang novelnya difilmkan. Sedang dari sisi regiulitas, sebuah wasiat dari Umar Bin Khatab rasanya bisa dengan telak menggugurkan statment bahwa sastra menjauhkan nilai religiusitas. Umar bin al-Khattab berpesan, “Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani.”

Sebagai  sebuah penutup, rasanya penuturan Abdul Wachid B.S. dalam bukunya Sastra Pencerahan (2005) perlu untuk dipahami. Dalam bukunya itu, dituturkan bahwa sastra berfungsi sebagai media penyaring berita dan slogan omong kosong serta ketidakjujuran dalam masyarakat.

Selain itu tanpa bermaksud menyamakan kitab suci dan karya sastra, kutipam Thaha Husain (Tokoh Pendidikan Mesir) dalam mukadimah kitabnya Fi Syiir al-Jahili juga perlu direnungkan. Dia menyebutkan bahwa semua kitab suci adalah karya sastra. Sebab, selain unsur estetik-bahasanya, lebih dari sepertiga isi kitab suci adalah penuturan kisah yang mempunyai plot dan alur mengejutkan. Karenanya bagi Thaha Husain, mengajarkan sastra kepada anak juga secara otomatis mengajarkan nilai-nilai kitab suci (moralitas).

Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.