OUR NETWORK

Karya Sastra dan Pengaruhnya dalam Hidup Manusia

Mengajarkan sastra kepada anak juga secara otomatis mengajarkan nilai-nilai kitab suci (moralitas)

Banyak orang lebih mengenal Wiji Tukul sebagai sastrawan revolusioner dengan karya-karyanya yang mengangkat isu-isu sosial, tetapi, hanya sedikit yang mengenal dia dengan membaca, mengilhami, menelaah dan memaknai karya-karya sastranya.

Begitu juga dengan Pramoedya A. Toer yang lebih banyak dikenal dengan karya Tetralogi Pulau Burunya, tetapi, ketika ditanya apa yang bisa didapat dari tetralogi tersebut, hanya sedikit yang bisa menjawabnya. Dengan kata lain, sastrawan saat ini lebih dikenal nama, biografi dan judul karyanya daripada pelajaran kesusatraan yang mereka angkat melalui karya mereka.

Mari kita baca dan renungkan kalimat Goenawan Mohamad berikut ini:

“Di tahun 1950-an tulisan A. Teeuw tentang kesusastraan Indonesia modern diterjemahkan dengan judul Pokok dan Tokoh, Penelaah itu ingin menampilkan “tokoh” pengarang sebagai bagian dari “pokok” yang diekspresikan sebuah karya sastra. Tapi akhirnya “tokoh” lebih mencuat, “pokok” menciut. Terutama sejak pelajaran kesusastraan di sekolah tak dibawa untuk menikmati karya dan menelaahnya. Memilih jalan yang gampang, para guru  hanya membawa murid mengetahui nama, judul karya, mungkin sinposis.”

Teringat ketika semasa SD sampai SMA dulu, di mana banyak yang lebih mengenal Chairil Anwar sebagai “Binatang Jalang”, sebab, tidak jarang di dalam soal Bahasa Indonesia muncul pertanyaan, siapakah sastrawan indonesia yang dikenal dengan sebutan Binatang Jalang?

Atau ketika tiba-tiba nama Chairil Anwar kembali mencuat ke permukaan setelah adanya film “AADC” di mana tokoh Rangga yang membawa buku puisi berjudul “Aku”. Sejak saat itu, buku tersebut banyak diburu orang.

Sebuah kontradiksi terjadi ketika ada pertanyaan, “Kenapa Chairil Anwar dikenal dengan sebutan binatang jalang?” atau di saat ditanya, “Jenis puisi seperti apa yang dituliskan Chairil di buku berjudul “Aku”?”

Saya yakin tidak banyak juga yang bisa menjawabnya. Bisa jadi karena kebanyakan orang membeli buku tersebut lebih karena buku itu pernah muncul di salah satu adegan film tersebut dengan harapan bisa menjadi sekeren sosok Rangga yang puitis.

Secara sederhana itulah yang saya tangkap dari yang disampaikan Goenawan Mohamad dengan mengutip perkataan A. Teeuw bahwa akhirnya tokoh lebih mencuat dan pokok lebih menciut dan pembaca hanya dibawa untuk mengenal nama dan judul karyanya dibandingkan menelaah karyanya.

Selanjutnya, mari kita sedikit melakukan perbandingan tentang pelajaran sastra di Indonesia dibanding di negara lain. Kali ini saya akan mengutip sebuah riset yang dilakukan Taufik Ismail di era 1997-2005.

Dalam riset tersebut Taufik Ismail menemukan fakta yang mengejutkan sekaligus memilukan dan memalukan, bahwa siswa di Indonesia tak pernah mengenal sastra hingga bangku SMA. Setelah era Algemeene Middelbare School (AMS), atau sekolah setingkat SMA di masa penjajahan Belanda, pelajar di tingkat SMA hanya membaca 0-2 buku sastra. Fenomena ini tak sebanding dengan negara-negara lain di dunia. Di Malaysia, misalnya, para siswa diwajibkan membaca 6 judul karya, di Swiss dan Jepang 15 judul, dan Amerika adalah yang tertinggi, yakni 32 judul buku sastra.

Tidak sedikit yang menganggap sastra adalah pelajaran yang tidak berguna terutama dalam hal mencari materi keduniaan. Banyak pula yang berpikir bahwa sastra hanya omong kosong  belaka dan menjauhkan nilai religiusitas dan moralitas anak. Alasan ini saya lihat sebagai pembenaran ngawur semata.

Dilihat dari materi keduniaan—jika materi dijadikan tujuan utama—bisa kita lihat banyak novelis yang pada akhirnya meraup rupiah dari novelnya bahkan tidak sedikit yang novelnya difilmkan. Sedang dari sisi regiulitas, sebuah wasiat dari Umar Bin Khatab rasanya bisa dengan telak menggugurkan statment bahwa sastra menjauhkan nilai religiusitas. Umar bin al-Khattab berpesan, “Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani.”

Sebagai  sebuah penutup, rasanya penuturan Abdul Wachid B.S. dalam bukunya Sastra Pencerahan (2005) perlu untuk dipahami. Dalam bukunya itu, dituturkan bahwa sastra berfungsi sebagai media penyaring berita dan slogan omong kosong serta ketidakjujuran dalam masyarakat.

Selain itu tanpa bermaksud menyamakan kitab suci dan karya sastra, kutipam Thaha Husain (Tokoh Pendidikan Mesir) dalam mukadimah kitabnya Fi Syiir al-Jahili juga perlu direnungkan. Dia menyebutkan bahwa semua kitab suci adalah karya sastra. Sebab, selain unsur estetik-bahasanya, lebih dari sepertiga isi kitab suci adalah penuturan kisah yang mempunyai plot dan alur mengejutkan. Karenanya bagi Thaha Husain, mengajarkan sastra kepada anak juga secara otomatis mengajarkan nilai-nilai kitab suci (moralitas).

Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…