Sabtu, Oktober 31, 2020

Karya Sastra dan Pengaruhnya dalam Hidup Manusia

Menanti Pemimpin Idaman

Setiap negara pasti membutuhkan sosok pemimpin untuk menjaga keutuhan bangsanya. Sosok yang mencintai dan mengayomi rakyat. Sosok yang dicintai dan dihormati oleh rakyat. Namun,...

Meneladani dan Mengambil Pelajaran Isa Al-Masih

Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati  di mana...

Arah Baru Pendidikan

Sejak tahun 2015, Pemerintah telah mencanangkan wajib belajar dua belas tahun kepada warga negara dalam memperoleh pendidikan. Artinya, setiap anak yang lahir, yang akan...

Restrukturisasi Kebangsaan sebagai Solusi

Pluralisme agama menjadi isu strategis di dalam perkembangan demokratisasi di Indonesia. Bagaimana tidak, corak pemikiran pluralitas sudah berkembang di Indonesia pasca respon atas catatan...
Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.

Banyak orang lebih mengenal Wiji Tukul sebagai sastrawan revolusioner dengan karya-karyanya yang mengangkat isu-isu sosial, tetapi, hanya sedikit yang mengenal dia dengan membaca, mengilhami, menelaah dan memaknai karya-karya sastranya.

Begitu juga dengan Pramoedya A. Toer yang lebih banyak dikenal dengan karya Tetralogi Pulau Burunya, tetapi, ketika ditanya apa yang bisa didapat dari tetralogi tersebut, hanya sedikit yang bisa menjawabnya. Dengan kata lain, sastrawan saat ini lebih dikenal nama, biografi dan judul karyanya daripada pelajaran kesusatraan yang mereka angkat melalui karya mereka.

Mari kita baca dan renungkan kalimat Goenawan Mohamad berikut ini:

“Di tahun 1950-an tulisan A. Teeuw tentang kesusastraan Indonesia modern diterjemahkan dengan judul Pokok dan Tokoh, Penelaah itu ingin menampilkan “tokoh” pengarang sebagai bagian dari “pokok” yang diekspresikan sebuah karya sastra. Tapi akhirnya “tokoh” lebih mencuat, “pokok” menciut. Terutama sejak pelajaran kesusastraan di sekolah tak dibawa untuk menikmati karya dan menelaahnya. Memilih jalan yang gampang, para guru  hanya membawa murid mengetahui nama, judul karya, mungkin sinposis.”

Teringat ketika semasa SD sampai SMA dulu, di mana banyak yang lebih mengenal Chairil Anwar sebagai “Binatang Jalang”, sebab, tidak jarang di dalam soal Bahasa Indonesia muncul pertanyaan, siapakah sastrawan indonesia yang dikenal dengan sebutan Binatang Jalang?

Atau ketika tiba-tiba nama Chairil Anwar kembali mencuat ke permukaan setelah adanya film “AADC” di mana tokoh Rangga yang membawa buku puisi berjudul “Aku”. Sejak saat itu, buku tersebut banyak diburu orang.

Sebuah kontradiksi terjadi ketika ada pertanyaan, “Kenapa Chairil Anwar dikenal dengan sebutan binatang jalang?” atau di saat ditanya, “Jenis puisi seperti apa yang dituliskan Chairil di buku berjudul “Aku”?”

Saya yakin tidak banyak juga yang bisa menjawabnya. Bisa jadi karena kebanyakan orang membeli buku tersebut lebih karena buku itu pernah muncul di salah satu adegan film tersebut dengan harapan bisa menjadi sekeren sosok Rangga yang puitis.

Secara sederhana itulah yang saya tangkap dari yang disampaikan Goenawan Mohamad dengan mengutip perkataan A. Teeuw bahwa akhirnya tokoh lebih mencuat dan pokok lebih menciut dan pembaca hanya dibawa untuk mengenal nama dan judul karyanya dibandingkan menelaah karyanya.

Selanjutnya, mari kita sedikit melakukan perbandingan tentang pelajaran sastra di Indonesia dibanding di negara lain. Kali ini saya akan mengutip sebuah riset yang dilakukan Taufik Ismail di era 1997-2005.

Dalam riset tersebut Taufik Ismail menemukan fakta yang mengejutkan sekaligus memilukan dan memalukan, bahwa siswa di Indonesia tak pernah mengenal sastra hingga bangku SMA. Setelah era Algemeene Middelbare School (AMS), atau sekolah setingkat SMA di masa penjajahan Belanda, pelajar di tingkat SMA hanya membaca 0-2 buku sastra. Fenomena ini tak sebanding dengan negara-negara lain di dunia. Di Malaysia, misalnya, para siswa diwajibkan membaca 6 judul karya, di Swiss dan Jepang 15 judul, dan Amerika adalah yang tertinggi, yakni 32 judul buku sastra.

Tidak sedikit yang menganggap sastra adalah pelajaran yang tidak berguna terutama dalam hal mencari materi keduniaan. Banyak pula yang berpikir bahwa sastra hanya omong kosong  belaka dan menjauhkan nilai religiusitas dan moralitas anak. Alasan ini saya lihat sebagai pembenaran ngawur semata.

Dilihat dari materi keduniaan—jika materi dijadikan tujuan utama—bisa kita lihat banyak novelis yang pada akhirnya meraup rupiah dari novelnya bahkan tidak sedikit yang novelnya difilmkan. Sedang dari sisi regiulitas, sebuah wasiat dari Umar Bin Khatab rasanya bisa dengan telak menggugurkan statment bahwa sastra menjauhkan nilai religiusitas. Umar bin al-Khattab berpesan, “Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani.”

Sebagai  sebuah penutup, rasanya penuturan Abdul Wachid B.S. dalam bukunya Sastra Pencerahan (2005) perlu untuk dipahami. Dalam bukunya itu, dituturkan bahwa sastra berfungsi sebagai media penyaring berita dan slogan omong kosong serta ketidakjujuran dalam masyarakat.

Selain itu tanpa bermaksud menyamakan kitab suci dan karya sastra, kutipam Thaha Husain (Tokoh Pendidikan Mesir) dalam mukadimah kitabnya Fi Syiir al-Jahili juga perlu direnungkan. Dia menyebutkan bahwa semua kitab suci adalah karya sastra. Sebab, selain unsur estetik-bahasanya, lebih dari sepertiga isi kitab suci adalah penuturan kisah yang mempunyai plot dan alur mengejutkan. Karenanya bagi Thaha Husain, mengajarkan sastra kepada anak juga secara otomatis mengajarkan nilai-nilai kitab suci (moralitas).

Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.