OUR NETWORK

Kartu Merah untuk Rasisme SARA

Hilangnya rasa respect di dunia sepakbola membuat komunikasi terhadap orang lain menjadi tidak baik, tidak dapat merasakan kekeluargaan yang sangat kuat dan tidak dapat saling mengakrabkan diri satu sama lain.

Kasus rasisme banyak terjadi di dunia sepakbola. Padahal Induk federasi Sepakbola dunia (FIFA) sudah melakukan upaya preventif dan represif untuk menanggulangi wabah rasisme di dunia sepakbola dengan membuat aturan.

Rasisme bersifat destruktif yang melemahkan orang atau komunitas tertentu dengan menurunkan nilai atau identitas mereka. Rasisme merupakan fenomena global yang dipengaruhi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor historis, sosial, politik, dan ekonomi.

Di Australia Human Right and Equal Opportunity Commission (1998) mendefenisikan Rasisme adalah sebuah ideologi yang memberikan pernyataan tentang kelompok Ras dan Etnis lainnya yang meremehkan dan merendahkan kelompok-kelompok tersebut yang dicerminkan dan diabadikan melalui akar sejarah, sosial, budaya dan ketidaksetaraan kekuasaan dalam masyarakat.

Rasisme yang berujung SARA (Suku, Ras, dan Agama) di dunia sepakbola membuat permainan sepakbola tidak adanya respect. Respect memiliki makna menghargai, menghormati, dan saling menghormati terhadap sesama.

Hilangnya rasa respect di dunia sepakbola membuat komunikasi terhadap orang lain menjadi tidak baik, tidak dapat merasakan kekeluargaan yang sangat kuat dan tidak dapat saling mengakrabkan diri satu sama lain. Bentuk rasisme dalam dunia sepakbola seperti Diskriminasi biasanya ditujukan  terhadap minoritas.

Kasus Rasisme yang berujung terhadap SARA (Suku, Agama, dan Ras) bertentangan dengan DUHAM (Universal Declaration of Human Rights) yang merupakan norma internasional yang diterima oleh negara-negara dunia melalui perserikatan Bangsa-Bangsa. Aturan lebih lanjut diatur dalam Konvensi Penghapusan segala bentuk Diskriminasi Rasial (international convention on the elimination of all forms of racial Discrimination). 

Konvensi ini mulai berlaku sejak Januari 1969 dan diratifikasi di Indonesia melalui Undang-Undang No 29 Tahun 1999. Terdapat larangan terhadap segala bentuk diskriminasi rasial dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya. Selain itu konvensi ini juga menjamin hak setiap orang untuk diperlakukan sama di depan hukum tanpa membedakan ras, warna kulit, asal usul dan suku bangsa.

Konvensi ini juga membentuk Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial yang mengawasi pelaksanannya. Di Indonesia selain Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1999 juga diatur secara konstitusi di dalam Pasal 28 tentang Hak Asasi Manusia Undang-Undang Dasar 1945.

Beberapa kasus Rasisme dalam dunia sepakbola terjadi di dalam lapangan atau di luar lapangan. Selain dalam aksi langsung juga ada tindakan rasisme di dunia maya. Beberapa kasus Rasisme yang terjadi di dunia sepakbola seperti yang di alami Sulley Muntari yang mendapat perlakuan rasisme karena warna kulit.

Dani Alves dilempari pisang oleh fans Villareal, Luis Suarez hina Patrice Evra, Fans Serbia menjadi pelaku diskriminasi rasial dengan menunjukan gestur monyet kepada Danny Rose dan Nedum Onuoha, Pisang raksasa dan gervinho dari fans feyenoord dengan gestur diskriminasi rasial yang ditunjukan kepada gervinho.

Selain tindakan rasis di dalam stadion, tindakan rasis di luar stadion dan dunia maya juga terjadi untuk kasus yang sedang viral. Kasus Mesut Oezil yang mendapat perlakuan rasis dari oknum publik membuat oezil memutuskan pensiun dari Timnas Jerman.

Oezil mengeluarkan statement “Jika saya menang saya jerman, jika kalah saya Imigran”. Seiring dengan gagalnya Jerman di Piala dunia 2018 akan menjadi bulan bulanan netizen dan oknum publik karena gaya permainan nya yang lembek. Ditambah lagi foto nya yang beredar dengan Presiden Turki “Erdogan”.

Tulisan yang dirilis Mesut Oezil ketika memutuskan keluar dari Timnas Jerman “Saya diperlakukan seolah-olah saya ini berbeda. Saya di anugrahi penghargaan “bambi” pada tahun 2010 sebagai teladan integrasi yang sukses dengan rakyat jerman. Pada tahun 2014 saya mendapatkan penghargaan “Silver Laurel Leaf” dari Republik Federal Jerman dan saya juga adalah Duta Besar Sepakbola Jerman di tahun 2015. Saya bukan rakyat Jerman ? Apakah ini tentang Turki ? Apakah saya seorang muslim ?. Saya disebut oleh Bernd Holzhauer (Politisi Jerman) sebagai Goat f**ker karena saya berfoto dengan presiden erdogan dan darah turki saya. Reinhar Grindel (Presiden Asosiasi Sepakbola Jerman), saya sangat kecewa dengan anda namun saya sama sekali tidak terkejut dengan perlakuan anda.”(Sumber Instagram Cordova media)

Jangan sampai kesalahan dikaitkan dengan diskriminasi terhadap Suku, Agama, dan Ras. Walaupun Ozil merupakan campuran Jerman-Turki yang mempunyai keturunan Turki dan Minoritas di Jerman, tidak sepantasnya mengkaitkan dengan Rasisme. Ini bertentangan dengan aturan FIFA dan DUHAM.

Selaku Federasi tertinggi sepakbola FIFA berhak memberika sanksi terhadap pelaku rasis, setiap pelaku sepakbola mulai dari pemain, pelatih, ofisial, wasit, pihak club, suporter dan subjek yang berhubungan dengan sepakbola sekalipun adalah subjek yang bisa dihukum UEFA jika melakukan tindakan penghinaan. Adapun hukuman berupa bertanding tanpa penonton , denda, pengurangan poin, bahkan diskualifikasi dari keikutsertaan yang berhubungan dengan agenda FIFA.            

Mahasiswa ilmu hukum Universitas Andalas Padang

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…