OUR NETWORK

Kartini, Nyai Ahmad Dahlan, dan Ibu Sinta Nuriyah

Ibu Sinta Nuriyah dengan Wahid Institute aktif memperjuangkan kemanusiaan dan toleransi antar umat beragama di Indonesia.

Seorang Ibu dan seorang wanita adalah yang pertama kali memperkenalkan kita pada dunia, pertama kali mengajari tentang keragaman dan aneka warna-warni benda. Tanpa keuletan dan kasih sayang mereka, mungkin kita tak akan sepandai ini, tak juga sedewasa ekarang.

Bagaimana seorang ibu kemudian menjadi ksatria untuk memperjuangkan pendidikan dan penghidupan yang layak pada setiap anak-anaknya, yang notabene dia adalah seorang wanita. Gender yang dipandang lebih lemah dari dari lelaki.

Jauh melampau sosok pahlawan super mana pun, Ibu adalah pahlawan super itu sendiri. Pahlawan bagi keluarga juga pendidikan bangsanya. Figur seorang Ibu (baca:wanita) adalah pijakan awal bagi anaknya untuk mengenal dinamika sosial dan peradaban, maka Ibu yang terpelajar dan berwawasan luas tentu akan sangat “pas” dalam mengarahkan buah hatinya menjadi sosok tangguh dan berguna bagi bangsa dan negara.

Kartini seorang perempuan terpelajar yang berfikir melampaui zamannya. Pemikirannya terus bergema sampai sekarang, memperjuangkan hak kaumnya untuk memperoleh kesetaraan dalam pendidikan dan kebudayaan. Penggerak dan pemantik semangat kaumnya untuk berfikir maju. Ide dan gagasannya tak terbendung, menembus sekat – sekat bangsa terangkum dalam kumpulan suratnya yang dibukukan dalam “Door Duisternis Tot Licht” oleh Jacques Henrij Abendanon, temannya berkebangsaan Belanda.

“Bila orang hendak sungguh-sungguh memajukan peradaban, maka kecerdasan pikiran dan pertumbuhan budi harus sama-sama dimajukan.

Dan, siapa yang bisa paling banyak berbuat untuk yang terakhir itu, yang paling banyak membantu mempertinggi kadar budi manusia? Perempuan. Karena, di pangkuan perempuan lah pertama-tama manusia menerima pendidikannya. Di sana anak mula-mula belajar merasa, berpikir, berbicara. “ Cuplikan surat RA Kartini kepada Nyonya Ovink-Soer, 1900.

Membaca Kartini

Kegelisahan Kartini adalah kegelisahan seorang perempuan pada umumnya yang dinomorduakan  peranannya dalam keluarga maupun masyarakat. Kondisi tersebut membatasi akses informasi dan ilmu pengetahuan yang mereka dapat. Bahkan pada masa itu, untuk beberapa kalangan masih dirasa “tabu” seorang perempuan bumiputera mendapatkan pendidikan yang setara dengan kaum lelaki. Mereka masih terbelenggu dengan norma dan kepantasan dalam masyarakat.

Idenya tentang feminisme kemudian menjadi inspirasi kaum wanita terpelajar yang lain. Beberapa diantara kita mungkin ingat Nyai Ahmad Dahlan yang mendirikan Aisyiyah, atau Raden Dewi Sartika  keduanya adalah tokoh yang merintis kesetaraan pendidikan bagi kaum perempuan. Ada juga Ibu Fatmawati Soekarno yang setia menemani Bung Karno dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia.

Kartini masa kini

Perempuan adalah sosok sentral dalam setiap peradaban, penyokong perjuangan dan perubahan sosial. Butet Manurung seorang sarjana Antropologi Unpad, seorang perempuan madiri yang mendermakan ilmunya untuk pendidikan Suku Anak Dalam di Sumatra. Ia adalah sosok Kartini masa kini yang berjuang tak hanya untuk kaumnya, tetapi juga untuk bangsa nya.

Melawan keterbatasan, Saur Marlina Manurung atau yang lebih dikenal dengan nama Butet Manurung memperjuangkan kesetaraan pendidikan bagi Suku Anak Dalam di pelosok hutan Sumatera. Adalah Ibu Sinta Nuriyah istri mendiang KH Abdurrahman Wahid, Presiden Republik Indonesia ke-4 yang pada tahun ini menjadi salah satu dari 100 Tokoh yang paling berpengaruh di Dunia versi majalah TIME.

Ibu Sinta Nuriyah dengan Wahid Institute aktif memperjuangkan kemanusiaan dan toleransi antar umat beragama di Indonesia. Menjadi Kartini bukan hanya mengenakan kebaya dan pakaian adat yang dilakukan setiap tahun sekali sebagai rangkaian selebrasi Hari Kartini.

Menjadi kartini bukan pula lalu meniadakan batas–batas adab antara lelaki dan perempuan. Akan tetapi menjadi perempuan Indonesia seutuhnya yang menduplikasi semangat berkemajuan dan visi hidup Kartini yang terpelajar, mandiri dan empati terhadap isu–isu feminisme.

Sebagai rangkaian terakhir tulisan ini berikut salah satu penggalan fragmen profil tokoh Nyai Ontosoroh pada novel Bumi Manusia oleh Raden Mas Minke.

“Dalam perjalanan pulang aku tak mampu berkata barang sesuatu. Nyai kurasakan telah menyihir kesadaranku. Annelies memang cantik gilang gemilang. Namun ibuya yang pandai menaklukan orang untuk bersujud pada kemauannya.”

Penikmat Literasi, Pemerhati Sastra dan Budaya. Saat ini bergabung di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…