Sabtu, Januari 16, 2021

Kartini dan Pengamalan Nilai Ajaran Islam

Pengawasan Platform Digital, untuk Penerimaan Pajak Optimal

Tingkat pertumbuhan perdagangan elektronik atau e-commerce di tahun 2017 menjadikan sektor ini masih menjadi primadona investor di tahun 2018. Total populasi di Indonesia sebesar 255,4...

Disribusi Kekuasaan dan Moralitas Elite

Menjadi seorang politikus rasanya sungguh menggiurkan. Profesi ini telah merebut hati banyak orang. Mulai dari orang-orang biasa saja, para investor, sampai akademisi pun tak...

Duel Hastag Simbol Masyarakat Irasional

Duel sengit dua slogan politik yang terkonversi melalui #2019GantiPresiden versus #2019TetapJokowi merupakan simbol masyarakat irasional. Lho Kok Bisa? Jawabnya gampang saja, kaos tidak mewakili...

Kepemimpinan Perempuan Tak Sekadar Perebutan Kekuasaan

Bicara peran dan kepemimpinan perempuan bukan hanya pada teksnya, tapi juga praktik-praktik sosial yang telah dilakukannya di masyarakat. Publik kita masih sibuk menyoal bagaimana seorang...
Rohmatulloh
Penulis, Bergiat di Komunitas Sekolah Sadar Energi, Doktor Pendidikan Islam

Pada umumnya masyarakat banyak mengenal dan menfasirkan warisan pemikiran Kartini hanya seputar tema pendidikan, emansipasi, kesetaraan gender, dan filsafat. Namun jarang sekali yang mengangkat dan menfasirkan warisan pemikiran Kartini dalam konteks pengamalan nilai-nilai ajaran Islam yang sesungguhnya.

Padahal poin ini yang sebenarnya menginspirasi untuk diangkat dalam konteks kehidupan kita sebagai umat beragama. Karena manusia pada fitrahnya memerlukan agama sebagai sumber ilmu pengetahuan dan praktis untuk membimbing kepada jalan kedamaian dunia dan akhirat.

Kartini yang dilahirkan pada 28 Rabiul akhir tahun Jawa 1808 (21 April 1879) merupakan santri yang belajar pemahaman makna kandungan al-Qur’an dari seorang ulama Kyai Soleh Darat Semarang. Selanjutnya Kartini meminta Kyai Sholeh Darat agar al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa dengan harapan bagi yang membacanya dapat menangkap makna kandungan al-Qur’an bukan hanya sekedar membacanya saja yang belum tentu semua orang paham dengan bahasa Arab.

Teladan inilah yang dalam peringatan Hari Kartini pada 21 April harus menjadi bahan renungan kita. Artinya, masyarakat Indonesia khusunya umat Islam memiliki kitab suci al-Qur’an harus menggali maknanya bukan sekedar dibaca sehingga menjadi petunjuk hidup dan sumber ilmu untuk mengembangkan aspek praktis dan keilmuan yang menjadi fokus studi ata bidang yang kita lakukan.

Jika berbicara masalah ilmu pengetahuan maka kita tidak melulu hanya berfokus pada filsafat rasional dan sains empiris yang selama ini menjadi epistemologi atau sumber ilmu pengetahuan barat dengan peradaban modernnya. Sehingga ilmu pengetahuan modern kering dari nilai-nilai transendental ilahiah.

Menurutnya, sumber kebenaran wahyu yang bersifat transenden sehingga tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara rasional dan empiris. Karena ilmu dan agama menggunakan sumber kebenaran yang berbeda sebagai standarnya dan akhirnya keduanya berjalan berpisah atau sekuler.

Bahkan jika kita melihat sejarah hubungan keduanya di Eropa pada perkembangan modern awal seperti yang dibahas oleh Ian Barbour dalam bukunya When Science Meet Religion ke dalam bentuk atau tipologi yang selalu berkonflik. Bentuk hubungan lainnya tidak dibahas dalam porsi tulisan ini.

Berbeda dengan paradigma sekuler barat, maka dalam paradigma Islam yang menjadi landasan pengembangan ilmu pengetahuan memiliki dasar pengembangan bersumber dari dari ketiganya, yaitu rasio atau akal, empiris inderawi, dan wahyu (al-Qur’an dan hadits). Paradigma Islam ini yang menurut Kuntowijoyo dalam merumuskan teori berangkat dari pendekatan struktural transendental al-Qur’an. Paham normatif dan filosofis al-Qur’an selanjutnya dirumuskan menjadi teori-teori empiris dan rasional.

Dalam konteks ilmu pendidikan Islam misalnya ketika berbicara masalah teori pendekatan perilaku untuk penanaman nilai akhlak atau karakter pada peserta didik dengan menggunakan peneladanan, maka dasar untuk pengembangan teorinya tentu kita harus merujuk pada al-Qur’an sebagai sumber utama dan sumber ilmu.

Pesan teologis peneladanan dalam al-Qur’an ditunjukkan dalam salah surah al-Ahzab [33]: 21 dengan sosok Nabi dan Rasul yang menjadi model atau teladan adalah Nabi Muhammad SAW pada saat perang ahzab di Madinah. Redaksi ayatnya berbunyi “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Nilai-nilai karakter yang diteladankan dalam surah tersebut menurut para mufasir dalam bentuk sikap, perbuatan, dan perilakunya, yaitu berani menghadapi cobaan, keteterlibatan langsung dalam perang ahzab atau khandaq, bekerja keras siang dan malam, ikut serta langsung menggali parit dan memberikan semangat dengan menyanyikan lagu, dan merasakan lapar dan haus seperti yang dirasakan umat Islam, dan nilai karaketr lainnya.

Oleh karena itu, konsep teladan yang baik (uswatun hasanah) yang terdapat dalam surat al-Ahzab [33]: 21 ini menjadi landasan teologis bagi praktisi pendidikan Islam dalam penyampaian materi pendidikan Islam kepada peserta didik yang dipadukan dengan pendekatan dan metode lainnya yang saling bersinergi.

Sedangkan bagi para ilmuwan, pesan teologis ini menjadi landasan untuk pengembangan teori perilaku peneladanan. Sejatinya bagi ilmuwan muslim dapat mengembagkan teori peneladanan lainnya melalui berbagi bentuk penelitian eksperimen seperti yang dilakukan ilmuwan barat. Misalnya oleh Bandura yang merumuskan social learning theory dengan komponen utamanya adalah metode observational learning.

Tidak hanya pada bidang pendidikan Islam saja tentunya. Banyak lagi ilmu lain yang dapat dikembangkan dari pesan teologis peneladanan ini. Misalnya dalam ilmu manajemen kinerja, pesan teologis peneladan digunakan sebagai salah satu dasar bangunan teorinya di samping teori lainnya.

Selama ini praktek manajemen kinerja yang penulis ketahui di organisasi publik selalu berbicaranya hanya pada bagaimana meraih capaian kinerja. Namun sayangnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan berbagai pihak kurang memperhatikan aspek peneladanan dari sesama aktor di dalamnya. Padahal ini yang penting sebagai salah satu bangunan teori manajemen kinerja seperti pesan teologis yang telah disampaikan Allah di atas melalui keteladanan seorang Rasul-Nya kepada umatnya sehingga berhasil mencapai tujuan kemenangan perang ahzab.

Akhirnya, semoga pada peringatan hari Kartini pada 21 April 2020 ini menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan kita seperti dalam warisan pemikirannya terkait dengan pengamalan nilai-nilai ajaran Islam yang sesungguhnya. Wallahu a’lam.

Rohmatulloh
Penulis, Bergiat di Komunitas Sekolah Sadar Energi, Doktor Pendidikan Islam
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.