Minggu, Januari 17, 2021

Kartini dan Pengamalan Nilai Ajaran Islam

Ibu Megawati dan Model Politik Ibu Rumah Tangga

Penilaian terhadap Megawati Soekarnoputri semestinya tidak terbatas pada masa kepresidennya yang hanya setengah periode, tetapi dilanjutkan dengan kepemimpinannya pada sebuah partai yang saat ini...

Kebebasan Berpendapat dan Masyarakat Kita Yang Belum Dewasa

Ditangkapnya Jonru beberapa hari yang lalu mengejutkan semua pihak. Jonru ditangkap atas dalih menyebarkan kebencian dan secara otomatis melanggar Pasal 45 ayat 3 Undang-Undang...

Bernatal yang Berempati

Hari-hari ini semarak perayaan Natal mulai terdengar. Di berbagai kota, acara perayaan Natal menyemarak. Hingar bingarnya dapat kita rasakan dari postingan yang dibagikan oleh...

Sisi Kelam Aladdin dan Agrabah

Aladdin adalah seorang karakter utama dari kisah fiksi yang merupakan adaptasi karya sastra Arab Abad Pertengahan Seribu Satu Malam denga judul yang sama. Aladdin...
Rohmatulloh
Penulis, Bergiat di Komunitas Sekolah Sadar Energi, Doktor Pendidikan Islam

Pada umumnya masyarakat banyak mengenal dan menfasirkan warisan pemikiran Kartini hanya seputar tema pendidikan, emansipasi, kesetaraan gender, dan filsafat. Namun jarang sekali yang mengangkat dan menfasirkan warisan pemikiran Kartini dalam konteks pengamalan nilai-nilai ajaran Islam yang sesungguhnya.

Padahal poin ini yang sebenarnya menginspirasi untuk diangkat dalam konteks kehidupan kita sebagai umat beragama. Karena manusia pada fitrahnya memerlukan agama sebagai sumber ilmu pengetahuan dan praktis untuk membimbing kepada jalan kedamaian dunia dan akhirat.

Kartini yang dilahirkan pada 28 Rabiul akhir tahun Jawa 1808 (21 April 1879) merupakan santri yang belajar pemahaman makna kandungan al-Qur’an dari seorang ulama Kyai Soleh Darat Semarang. Selanjutnya Kartini meminta Kyai Sholeh Darat agar al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa dengan harapan bagi yang membacanya dapat menangkap makna kandungan al-Qur’an bukan hanya sekedar membacanya saja yang belum tentu semua orang paham dengan bahasa Arab.

Teladan inilah yang dalam peringatan Hari Kartini pada 21 April harus menjadi bahan renungan kita. Artinya, masyarakat Indonesia khusunya umat Islam memiliki kitab suci al-Qur’an harus menggali maknanya bukan sekedar dibaca sehingga menjadi petunjuk hidup dan sumber ilmu untuk mengembangkan aspek praktis dan keilmuan yang menjadi fokus studi ata bidang yang kita lakukan.

Jika berbicara masalah ilmu pengetahuan maka kita tidak melulu hanya berfokus pada filsafat rasional dan sains empiris yang selama ini menjadi epistemologi atau sumber ilmu pengetahuan barat dengan peradaban modernnya. Sehingga ilmu pengetahuan modern kering dari nilai-nilai transendental ilahiah.

Menurutnya, sumber kebenaran wahyu yang bersifat transenden sehingga tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara rasional dan empiris. Karena ilmu dan agama menggunakan sumber kebenaran yang berbeda sebagai standarnya dan akhirnya keduanya berjalan berpisah atau sekuler.

Bahkan jika kita melihat sejarah hubungan keduanya di Eropa pada perkembangan modern awal seperti yang dibahas oleh Ian Barbour dalam bukunya When Science Meet Religion ke dalam bentuk atau tipologi yang selalu berkonflik. Bentuk hubungan lainnya tidak dibahas dalam porsi tulisan ini.

Berbeda dengan paradigma sekuler barat, maka dalam paradigma Islam yang menjadi landasan pengembangan ilmu pengetahuan memiliki dasar pengembangan bersumber dari dari ketiganya, yaitu rasio atau akal, empiris inderawi, dan wahyu (al-Qur’an dan hadits). Paradigma Islam ini yang menurut Kuntowijoyo dalam merumuskan teori berangkat dari pendekatan struktural transendental al-Qur’an. Paham normatif dan filosofis al-Qur’an selanjutnya dirumuskan menjadi teori-teori empiris dan rasional.

Dalam konteks ilmu pendidikan Islam misalnya ketika berbicara masalah teori pendekatan perilaku untuk penanaman nilai akhlak atau karakter pada peserta didik dengan menggunakan peneladanan, maka dasar untuk pengembangan teorinya tentu kita harus merujuk pada al-Qur’an sebagai sumber utama dan sumber ilmu.

Pesan teologis peneladanan dalam al-Qur’an ditunjukkan dalam salah surah al-Ahzab [33]: 21 dengan sosok Nabi dan Rasul yang menjadi model atau teladan adalah Nabi Muhammad SAW pada saat perang ahzab di Madinah. Redaksi ayatnya berbunyi “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Nilai-nilai karakter yang diteladankan dalam surah tersebut menurut para mufasir dalam bentuk sikap, perbuatan, dan perilakunya, yaitu berani menghadapi cobaan, keteterlibatan langsung dalam perang ahzab atau khandaq, bekerja keras siang dan malam, ikut serta langsung menggali parit dan memberikan semangat dengan menyanyikan lagu, dan merasakan lapar dan haus seperti yang dirasakan umat Islam, dan nilai karaketr lainnya.

Oleh karena itu, konsep teladan yang baik (uswatun hasanah) yang terdapat dalam surat al-Ahzab [33]: 21 ini menjadi landasan teologis bagi praktisi pendidikan Islam dalam penyampaian materi pendidikan Islam kepada peserta didik yang dipadukan dengan pendekatan dan metode lainnya yang saling bersinergi.

Sedangkan bagi para ilmuwan, pesan teologis ini menjadi landasan untuk pengembangan teori perilaku peneladanan. Sejatinya bagi ilmuwan muslim dapat mengembagkan teori peneladanan lainnya melalui berbagi bentuk penelitian eksperimen seperti yang dilakukan ilmuwan barat. Misalnya oleh Bandura yang merumuskan social learning theory dengan komponen utamanya adalah metode observational learning.

Tidak hanya pada bidang pendidikan Islam saja tentunya. Banyak lagi ilmu lain yang dapat dikembangkan dari pesan teologis peneladanan ini. Misalnya dalam ilmu manajemen kinerja, pesan teologis peneladan digunakan sebagai salah satu dasar bangunan teorinya di samping teori lainnya.

Selama ini praktek manajemen kinerja yang penulis ketahui di organisasi publik selalu berbicaranya hanya pada bagaimana meraih capaian kinerja. Namun sayangnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan berbagai pihak kurang memperhatikan aspek peneladanan dari sesama aktor di dalamnya. Padahal ini yang penting sebagai salah satu bangunan teori manajemen kinerja seperti pesan teologis yang telah disampaikan Allah di atas melalui keteladanan seorang Rasul-Nya kepada umatnya sehingga berhasil mencapai tujuan kemenangan perang ahzab.

Akhirnya, semoga pada peringatan hari Kartini pada 21 April 2020 ini menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan kita seperti dalam warisan pemikirannya terkait dengan pengamalan nilai-nilai ajaran Islam yang sesungguhnya. Wallahu a’lam.

Rohmatulloh
Penulis, Bergiat di Komunitas Sekolah Sadar Energi, Doktor Pendidikan Islam
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.