OUR NETWORK

Kartini dan Pengamalan Nilai Ajaran Islam

Semoga pada peringatan hari Kartini pada 21 April 2020 ini menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan kita seperti dalam warisan pemikirannya terkait dengan pengamalan nilai-nilai ajaran Islam yang sesungguhny

Pada umumnya masyarakat banyak mengenal dan menfasirkan warisan pemikiran Kartini hanya seputar tema pendidikan, emansipasi, kesetaraan gender, dan filsafat. Namun jarang sekali yang mengangkat dan menfasirkan warisan pemikiran Kartini dalam konteks pengamalan nilai-nilai ajaran Islam yang sesungguhnya.

Padahal poin ini yang sebenarnya menginspirasi untuk diangkat dalam konteks kehidupan kita sebagai umat beragama. Karena manusia pada fitrahnya memerlukan agama sebagai sumber ilmu pengetahuan dan praktis untuk membimbing kepada jalan kedamaian dunia dan akhirat.

Kartini yang dilahirkan pada 28 Rabiul akhir tahun Jawa 1808 (21 April 1879) merupakan santri yang belajar pemahaman makna kandungan al-Qur’an dari seorang ulama Kyai Soleh Darat Semarang. Selanjutnya Kartini meminta Kyai Sholeh Darat agar al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa dengan harapan bagi yang membacanya dapat menangkap makna kandungan al-Qur’an bukan hanya sekedar membacanya saja yang belum tentu semua orang paham dengan bahasa Arab.

Teladan inilah yang dalam peringatan Hari Kartini pada 21 April harus menjadi bahan renungan kita. Artinya, masyarakat Indonesia khusunya umat Islam memiliki kitab suci al-Qur’an harus menggali maknanya bukan sekedar dibaca sehingga menjadi petunjuk hidup dan sumber ilmu untuk mengembangkan aspek praktis dan keilmuan yang menjadi fokus studi ata bidang yang kita lakukan.

Jika berbicara masalah ilmu pengetahuan maka kita tidak melulu hanya berfokus pada filsafat rasional dan sains empiris yang selama ini menjadi epistemologi atau sumber ilmu pengetahuan barat dengan peradaban modernnya. Sehingga ilmu pengetahuan modern kering dari nilai-nilai transendental ilahiah.

Menurutnya, sumber kebenaran wahyu yang bersifat transenden sehingga tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara rasional dan empiris. Karena ilmu dan agama menggunakan sumber kebenaran yang berbeda sebagai standarnya dan akhirnya keduanya berjalan berpisah atau sekuler.

Bahkan jika kita melihat sejarah hubungan keduanya di Eropa pada perkembangan modern awal seperti yang dibahas oleh Ian Barbour dalam bukunya When Science Meet Religion ke dalam bentuk atau tipologi yang selalu berkonflik. Bentuk hubungan lainnya tidak dibahas dalam porsi tulisan ini.

Berbeda dengan paradigma sekuler barat, maka dalam paradigma Islam yang menjadi landasan pengembangan ilmu pengetahuan memiliki dasar pengembangan bersumber dari dari ketiganya, yaitu rasio atau akal, empiris inderawi, dan wahyu (al-Qur’an dan hadits). Paradigma Islam ini yang menurut Kuntowijoyo dalam merumuskan teori berangkat dari pendekatan struktural transendental al-Qur’an. Paham normatif dan filosofis al-Qur’an selanjutnya dirumuskan menjadi teori-teori empiris dan rasional.

Dalam konteks ilmu pendidikan Islam misalnya ketika berbicara masalah teori pendekatan perilaku untuk penanaman nilai akhlak atau karakter pada peserta didik dengan menggunakan peneladanan, maka dasar untuk pengembangan teorinya tentu kita harus merujuk pada al-Qur’an sebagai sumber utama dan sumber ilmu.

Pesan teologis peneladanan dalam al-Qur’an ditunjukkan dalam salah surah al-Ahzab [33]: 21 dengan sosok Nabi dan Rasul yang menjadi model atau teladan adalah Nabi Muhammad SAW pada saat perang ahzab di Madinah. Redaksi ayatnya berbunyi “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Nilai-nilai karakter yang diteladankan dalam surah tersebut menurut para mufasir dalam bentuk sikap, perbuatan, dan perilakunya, yaitu berani menghadapi cobaan, keteterlibatan langsung dalam perang ahzab atau khandaq, bekerja keras siang dan malam, ikut serta langsung menggali parit dan memberikan semangat dengan menyanyikan lagu, dan merasakan lapar dan haus seperti yang dirasakan umat Islam, dan nilai karaketr lainnya.

Oleh karena itu, konsep teladan yang baik (uswatun hasanah) yang terdapat dalam surat al-Ahzab [33]: 21 ini menjadi landasan teologis bagi praktisi pendidikan Islam dalam penyampaian materi pendidikan Islam kepada peserta didik yang dipadukan dengan pendekatan dan metode lainnya yang saling bersinergi.

Sedangkan bagi para ilmuwan, pesan teologis ini menjadi landasan untuk pengembangan teori perilaku peneladanan. Sejatinya bagi ilmuwan muslim dapat mengembagkan teori peneladanan lainnya melalui berbagi bentuk penelitian eksperimen seperti yang dilakukan ilmuwan barat. Misalnya oleh Bandura yang merumuskan social learning theory dengan komponen utamanya adalah metode observational learning.

Tidak hanya pada bidang pendidikan Islam saja tentunya. Banyak lagi ilmu lain yang dapat dikembangkan dari pesan teologis peneladanan ini. Misalnya dalam ilmu manajemen kinerja, pesan teologis peneladan digunakan sebagai salah satu dasar bangunan teorinya di samping teori lainnya.

Selama ini praktek manajemen kinerja yang penulis ketahui di organisasi publik selalu berbicaranya hanya pada bagaimana meraih capaian kinerja. Namun sayangnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan berbagai pihak kurang memperhatikan aspek peneladanan dari sesama aktor di dalamnya. Padahal ini yang penting sebagai salah satu bangunan teori manajemen kinerja seperti pesan teologis yang telah disampaikan Allah di atas melalui keteladanan seorang Rasul-Nya kepada umatnya sehingga berhasil mencapai tujuan kemenangan perang ahzab.

Akhirnya, semoga pada peringatan hari Kartini pada 21 April 2020 ini menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan kita seperti dalam warisan pemikirannya terkait dengan pengamalan nilai-nilai ajaran Islam yang sesungguhnya. Wallahu a’lam.

Penulis, Bergiat di Komunitas Sekolah Sadar Energi [www.ks2energi.com], Mahasiswa S3 Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.