OUR NETWORK

Karl Mark, Kapitalisme dan gambar yang viral

Hangatnya pembahasan mengenai PKI di masa sekarang ini menandai babak baru dari kelanggengan akan isu ini, yakni sebuah babak di mana kecanggihan teknologi memungkinkan penyebaran berita yang lebih massive dan juga cepat. Hal-hal yang beredar mengenai isu PKI yang dihangatkan baru-baru ini sudah tidak lagi hanya mengkaji ulang atau masalah membuat wacana tandingan akan persepsi mengerikan masa orde baru. Akan tetapi mulai pada sesuatu yang lucu atau bahkan memperlihatkan kekonyolan seperti beredarnya meme atau video-video parody. Walaupun begitu bukan berarti pembahasan isu ini sudah tidak berada pada kecurigaan oposisi biner antara sejarah mengenainya yang dibuat sejak masa orde baru dan juga wacana tandingannya.

Belakangan ini beredar sebuah foto dari buku ajar atau mungkin lembar kerja siswa yang memperlihatkan bahwa Karl Mark (menggunakan ‘k’ bukan ‘x’) adalah seorang pencetus ideologi kapitalisme. Hal tersebut tentu ditanggapi dengan geram dan komentar sinis tidak luput dilontarkan oleh para akademisi yang mengetahui siapa sebenarnya tokoh dalam buku tersebut dan siapa pula sebenarnya pencetus ideologi kapitalisme itu. Mereka menganggap hal tersebut bisa terjadi karena kecerobohan atau bahkan karena kebodohan tim penyusun. Ya walaupun kemungkinan ini tentu bisa jadi saja ada.

Di lain sisi, ada juga yang mengkhawatirkan mengenai penyebaran dari gambar tersebut yang sangat viral dan banyak di ‘share’. Kekhawatiran akan penyebaran gambar tersebut dilandasi akan pembentukan citra atau image ‘buta filsafat’ yang bisa saja diterapkan oleh orang-orang luar negeri sana. Hal ini tidak menutup kemungkinan apabila persebaran gambar tersebut sangat viral dan hanya sekali dikaitkan dengan minat baca orang Indonesia yang menduduki dua terendah, Indonesia bisa mendapatkan olokan baru. Ini kekhawatiran skala besar memang.

Akan tetapi ada hal yang terus menggelitik di kepala saya mengenai kemungkinan terciptanya buku tersebut. Mungkin lebih tepatnya terciptanya pemaparan bahwa Karl Marx (yang nanti ditulis dengan huruf ‘k’) adalah bapak dari paham yang sampai akhir hayatnya diperanginya secara ideologis, kapitalisme. Kemungkinan yang dipaparkan ini memang tidak akan mungkin menyentuh kebenaran hakiki atas tersusunnya buku ajar tersebut, namun bermain-main dengan pikiran bisa melepaskan stress sejenak dari seriusnya isu PKI yang berhembus akhir-akhir ini.

Orang Indonesia bodoh?

Tidak! Atau mau dispesifikasikan lagi bahwa tim penyusun buku ajar tersebut bodoh? Saya yakin juga tidak. Untuk menjadi anggota dari tim penyusun sebuah buku ajar ini bukan sembarangan seleksinya. Apabila seleksinya asal-asalan sekalipun, bukannya semua orang sekarang bisa menjadi pintar dengan belajar kilat memanfaatkan fasilitas internet. Semua hal sudah ada di internet, tulisan atau penelitian para ahli dari universitas-universitas ternama dunia seperti Oxford, Cambridge atau Harvard juga bisa diakses melalui jejaring internet.

Lagipula tim penyusun buku ajar tersebut sudah pasti adalah sekelompok orang yang memang mengenyam pendidikan tinggi dalam bidang yang ditulisnya. Dalam artian apabila buku ajar mengenai sejarah tentu ditulis oleh tim yang memang mendalami sejarah sebagai keilmuannya. Di dalamnya terdiri dari beberapa orang yang memiliki fokus berbeda, ada yang keilmuannya di sejarah Eropa, sejarah Indonesia, sejarah jalur dagang dunia, dll. Begitu juga terjadi pada tim penyusun buku ajar mata pelajaran lainnya. Sehingga untuk dikatakan mereka bodoh itu sangat kecil.

Lalu bagaimana bisa Karl Marx yang notabene adalah bapak komunisme menjadi Karl Mark, bapak dari kapitalisme? Indikasi Karl Marx dan Karl Mark adalah dua orang yang berbeda dipatahkan dengan ilustrasi di buku tersebut yang menunjukkan bahwa itu memang sang bapak komunisme sendiri yang dimaksud. Lalu apa? Apakah mereka ingin membuat generasi Indonesia menjadi generasi yang bodoh?

Membuat Indonesia bodoh?

Mungkin saja. Namun ada baiknya untuk terlebih dahulu dikembalikan pada fakta bahwa masyarakat Indonesia memiliki trauma yang diturunkan dari generasi ke generasi mengenai kejadian PKI ini. Trauma tersebut dibagi ke dalam dua. Pertama, trauma pada negara atau penguasa dengan adanya kekuatan tandingan yang siap melakukan kudeta. Kedua trauma pada masyarakat mengenai kengerian pemberantasan PKI. Trauma yang kedua ini tidak perlu dibahas karena sudah banyak dibahas juga bahkan secara akademis.

PKI merupakan sebuah pelajaran bagi pemerintah akan rapuhnya sebuah kekuasaan. Kekuasaan harus terus diperbarui melalui repitisi dan variasi (baca: Gilles Deleuze dalam Difference and Repetition, 1968). Pemberantasan PKI setelah kejadian gestapu merupakan salah satu upaya pada masanya. Upaya tersebut berhasil membabat lawan dan memastikan kekuasaan pada saat itu. Namun PKI masih saja menjadi momok bagi sebuah kekuasaan sehingga perlu adanya usaha lainnya yang mendukung agar lawan tidak bangkit lagi. Salah satunya adalah diskriminasi terhadap keluarga anggota PKI untuk tidak bisa bekerja di instansi negara apalagi menjadi guru, khawatir anggota keluarga tersebut menjadi medium penyebaran ideology komunis terhadap masyarakat. Karena mungkin bagi mereka, keluarga adalah ruang pendidikan paling dasar insan manusia, sehingga anggota keluarga PKI pasti dididik secara ‘komunis’. Ada lagi caranya melalui media seperti film dan juga pengawasan peredaran terhadap buku bacaan.

Cara-cara tersebut dianggap berhasil untuk melanggengkan sebuah kekuasaan pada masanya. Apabila ketakutan akan ideology PKI ini ternyata masih ada hingga saat ini, belum tentu cara-cara di atas bisa kembali digunakan. Mengingat pemutaran kembali film pemberontakan G30S/PKI saja banyak menuai pro dan kontra.

Apabila cara-cara untuk menekan munculnya kembali ideologi komunis sebagaimana disebutkan di atas sudah tidak lagi efektif maka perlu adanya innovasi atau terobosan baru. Salah satunya misalnya dengan dihilangkannya jejak mengenai komunisme melalui pendidikan. Contohnya bisa saja gambar yang viral tersebut menyimpan kisah mengenai maksud dan tujuan dalam menghilangkan jejak komunisme dimulai dari dini. Mengingat komunisme adalah isu yang menurun lintas generasi dan internet menyimpan segala jawaban dari pertanyaan selama seseorang tau kata kunci apa yang hendak dicarinya. Maka penghapusan komunisme bukan lagi melalui pembredelan buku-buku Karl Marx melainkan dengan menyelewengkan fakta bahwa Karl Marx adalah Karl Mark dan bapak dari kapitalisme sehingga penyusuran kata kunci Karl Marx bisa diminimalisir. Keinginan untuk mempelajari Karl Marx karena dia adalah seseorang yang terkait dengan ideologi terlarang di Indonesia dan fakta bahwa yang terlarang itu begitu menarik untuk dijamah, tidak bisa lagi dipungkiri.

Lain cerita ketika Karl Marx identitasnya disembunyikan maka dirinya tidak lagi begitu menarik untuk ditelusuri karena bukan terkait dengan sesuatu yang terlarang. Sehingga generasi muda yang mempelajari ideologi komunisme, Karl Marx dapat ditekan jumlahnya. Tentu hal ini hanyalah celotehan pagi hari untuk menemani secangkir kopi saja, namun apabila benar begitu adanya, maka yang dilupakan adalah kata kunci komunisme itu sendiri yang akan mengungkap Karl Marx.

Pengamat kebudayaan yang bergabung dalam tim peneliti PKKH UGM. Alumni ilmu sastra UGM dengan ketertarikan penelitian anti psikoanalisis dan metafisika.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…