Selasa, Desember 1, 2020

Kapitalisme Global dibalik Kampanye Anti-Tembakau

Antara Politik Islam dan Islam Politik

Sebuah bangsa dibangun dengan hati penyair.Namun hancur di tangan politikus (Dr. Mohammad Iqbal). Dalam petikan sajak Iqbal, filsuf-penyair India tersebut menyelipkan pesan sini terhadap politik...

Feminisme: Bukan Sekedar Bekal Suami dan Mi Instan

Bekal suami dan mi instan begitu menyedot perhatian netizen akhir-akhir ini. Yang pertama seorang istri yang begitu enggan mempersiapkan bekal makan siang suaminya, yang...

Dialog Sang Penyemangat

Ketika Sang Penyemangat datang kepadaku untuk memberikan tausiyah yang membarakan kalbu, Jiwaku begitu menggebu-gebu. Setiap kudengar tausiyah suci itu rangkai katanya merona dikalbu dan...

Menapaktilasi Tokoh dari “Mata Air Keteladanan”

”Agama-agama yang ada di Indonesia dan dunia memang berbeda satu sama lain. Wajar jika masing-masing pemeluk agama secara subjektif merasa agamanya yang paling baik....
Anna Zakiyyah Derajat
Pegiat komunitas penulis Coretan Pena, teater EKSA, PMII RCC, debater Al Motoyat Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Yogyakarta.

Ditilik dari kacamata ekonomi dan politik, kita sering kali tidak cepat tanggap dan kritis dalam merespon anti rokok bahkan terkait isu kenaikan rokok yang melonjak hingga 50 ribu perbungkus; terlebih ketika isu ini mengatasnamakan wacana kesehatan masyarakat dan sebagai pengurangan konsumen rokok itu sendiri. Isu rokok kemudian dikerucutkan dalam lingkup yang cukup sederhana. Sehingga serta-merta mengusung dimensi kesehatan semata, yang dianggap sebagai hal absolut tanpa nalar kritis. Apalagi ketika wacana tersebut dibaluti pengetahuan ilmiah dan saintifik, kemudian masyarakat tanpa sadar akan keluasan problematika dimensional lainnya seperti ekonomi-politik, sosial dan budaya. Banyaknya klaim tentang tembakau yang seringkali dikatakan sebagai senyawa karsinogen dan penyebab kanker, yang membuat masyarakat bergerombol dalam kampanye anti tembakau ini. Padahal di sisi lain, tembakau pula memiliki potensi kandungan protein yang justru sanggup mencegah berbagai penyakit, termasuk kanker.

Banyak sekali masyarakat kalangan menengah hingga kalangan atas yang bersikeras untuk memerangi rokok dengan berbagai slogan bahwa rokok itu berbahaya, maka dari itu rokok (tembakau) harus diperangi. Para perokok lalu  ditempatkan sebagai subjek yang nyaris  tidak memiliki nilai baik yang dihadapkan dengan kaum perempuan dan keluarga sebagai entitas subjek-korban dari potensi bahaya  rokok. Pertentangan penggunaan tambakau dicatat baik oleh sejarah, dimana pada awalnya hanyalah muncul pada kegiatan-kegiatan ilmiah. Antara lain dimulai ketika Duta Besar Prancis untuk Portugal Jean Nicot de Villemain yang menuliskan manfaat pengobatan tembakau kepada pengadilan Prancis pada tahun 1559. Hingga 50 tahun kemudian, muncullah publikasi ilmiah yang membantah bahwa tembakau itu baik untuk pengobatan, ia menuliskannya pada buku yang berjudul Worked Of Chimney Sweepers. Buku itu ditulis oleh seorang dokter yang tidak diketahui identitasnya lalu ia menyamarkan namanya menjadi Phillaretes.

Pelanggaran penggunaan tembakau juga diproklamirkan secara terang-terangan pada tahun 1590. Yang saat itu seorang Paus Urban VII mengeluarkan peraturan yang melarang mengonsumsi tembakau dalam bentuk apapun. Sepanjang tahun 1630-an, sejarah mencatat periode kemunculan peraturan pelarangan mengonsumsi rokok di beberapa Negara. Pertama, di Cina, dinasti Qing mengeluarkan kebijakan anti tembakau pada tahun 1634. Larangan yang juga dikeluarkan oleh Negara Jepang dan Korea, dua Negara tersebut melarang merokok bukan karena alasan kesehatan; tetapi karena adanya kekhawatiran akan kebakaran yang dipicu oleh api rokok. Sultan Murad IV dari Kekaisaran Ottoman, Turki, Czar Michael dari Rusia pula melarang orang merokok. Tidak hanya itu, di Prancis gerakan anti-tembakau pun dilakukan dengan cara membatasi penggunaan tembakau hanya untuk apoteker dan konsumsi harus sesuai resep dokter. Pada tahun 1899, gerakan anti tembakau Amerika pun muncul ke publik dengan terbentuknya gerakan Anti-Cigarettes League Of America. Kebijakan anti-tembakau juga semakin menguat ketika Jerman melandasi argumen imiah yang lebih modern pada era Nazi. Munculnya kebijakan ini dipicu oleh hasil penelitian Franz H. Muller pada tahun 1939, yang dilanjutkan oleh Eberhard Schairer dan Erich Schoniger pada 1943. Dari banyakya catatan sejarah tentang kampannye anti  tembaku ini disaat yang bersamaan, di Indonesia, industri tembakau khususnya industri kretek menjadi primadona bagi pemerintahan colonial Hindia Belanda. Maka dari itu, retorika kebijakan anti-tembakau tidak ikut mewarnai perjalanan sejarah Indonesia. Sayangnya, situasi itu berbalik ketika Perang Dunia II dan Jepang mengambil alih kekuasaan; bahkan pada masa itu dapat dikatakan bahwa bisa jadi sebagai awal pro-kontra tembakau. Memasuki dasawarsa 90-an, gerakan anti tembakau semakin menguat dan memuncak terlebih di Amerika Serikat. Pada era ini tembakau yang pada awalnya dituding sebagai resiko kesehatan dan penyakit, itulah sebagai penyebab utama kematian. Dan salah satu tokoh paling mencolok dalam gerakan anti tembakau global adalah Michael Bloomberg. Ada pertanyaan seperti ini, apakah gerakan kampanye anti tembakau itu semata-mata hanya dilandasi dimensi kesehatan masyarakat saja atau ada hal lain membatasi itu seperti adanya keuntungan politik di dalamnya?

Persoalannya disini adalah modus kapitalis yang sejauh ini terlanjur dibungkus sebagai gerakan yang seolah-olah tanpa adanya campur tangan ambisi politik, bebas dari kepentingan individual dan hanya mementingkan kepentingan masyarakat saja. Barangkali sebagian orang yang dibesarkan dalam suatu keyakinan bahwa kapitalismme adalah sinonim dengan pasar bebas dan demokrasi akan terkejut ketika mengetahui apa yang disebut sebagai globalisasi  pasar bebas itu sendiri sebenarnya sudah terencana dengan baik oleh konnsolidasi modal global.  Di Indonesia sendiri, saat ini sedang terjadi gerakan anti tembakau, yang dimana harga rokok yang melonjak naik menjadi isu yang menarik untuk dibedah setiap orang. Isu kenaikan rokok 50 ribu perbungkus berasal dari penelitian yang dilakukan oleh Hasbullah Thabrany sebagai kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Ia melakukan penelitian berdasarkan survei pada tahun  2016 dengan landasan untuk mencegah pelajar dan orang miskin merokok. Data-data yang terlampir  dimulai sejak Desember 2015-Januari  2016, dengan hasil responden 1000 orang; 82 persen setuju harga rokok dinaikkan dan 72 persen menyatakan akan berhenti merokok jika memang wacana itu menjadi fakta. Namun Sri Mulyani sebagai mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia menegaskan bahwa kebijakan tersebutt belum disahkan.

Kenaikan ini menyebabkan berbagai pro-kontra di masyarakat, sebab ketika harga rokok dinaikkan belum tentu yang menyatakan akan berhenti merokok itu benar-benar tidak merokok. Bahkan dengan adanya isu kenaikan harga rokok ini dapat menimbulkan banyaknya produsen-produsen rokok illegal dengan menyajikan rokok yang sesuai dengan kantong konsumennya. Terlebih lagi, ketika kebijakan ini disahkan secara keseluruhan, para industri rokok kemungkinan besar akan mengalami kerugian jika konsumennya beralih ke rokok-rokok illegal. Dan dapat dipastikan karyawan-karyawan industri tembakau ini akan terancam PHK, lalu kapasitas pengangguran di Indonesia semakin merambak hebat. Di Indonesia sendiri industri tembakau ini adalah salah satu yang mempengaruhi perekonomian Negara, ketika harga rokok sendiri dinaikkan maka aka nada pemasukkan lebih ke tabungan Negara. Walaupun, kita sebagai masyarakat kecil tidak tahu menau kemanakah alokasi tersebut.

Anna Zakiyyah Derajat
Pegiat komunitas penulis Coretan Pena, teater EKSA, PMII RCC, debater Al Motoyat Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

Eksistensi dari Makna Ujaran Bahasa Gaul di Media Sosial

Bahasa Gaul kini menjadi tren anak muda dalam melakukan interaksi sosial di media sosialnya baik Instagram, facebook, whats app, twitter, line, game online dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.