Minggu, April 11, 2021

Kampus di Tengah Pusaran Perpolitikan Negeri

Epicentrum Literasi

Berawal dari sebuah mimpi yang mengandaikan sebuah daerah yang penuh dengan aksara. Berjejer dari emperan menuju ke pusat kota untuh sebuah tujuan suci yang...

Membincang kembali Islam Nusantara dan Tawaran Islam Masa Kini

Istilah Islam Nusantara yang sering digaungkan memiliki daya tarik tersendiri. Islam Nusantara adalah upaya memperkenalkan Islam yang menghargai tradisi dan budaya lokal. Menghargai tradisi...

Manusia Silver: Pengemis Era Milenial?

Baru-baru ini terjadi kehebohan oleh adanya manusia perak. Yaitu seseorang yang membaluri tubuhnya dengan warna perak (silver). Kemudian orang tersebut bergaya layaknya patung di...

Filsafat dan Era Milenial

Filsafat adalah ilmu metafisika atau meta materi. Karena itu, jangan berharap manfaat-manfaat materi dari filsafat. Dengan berfilsafat, bersiaplah untuk tidak kaya. Jika anda kaya,...
Rahmat Tri Prawira Agara
Mahasiswa Biasa di Kampus yang Biasa-biasa Saja. Bisa dihubungi melalui Instagram : @rahmat3prawira atau line : @rahmat3prawira

Beberapa hari yang lalu, ketua Drone Emprit Indonesia, Ismail Fahmi menuliskan sebuah postingan menarik di laman facebook miliknya. Dalam ulasan postingannya tersebut, ia menjabarkan analisis mengenai perbandingan topik-topik utama percakapan publik di internet antara tiga universitas besar di amerika serikat (MIT, Standford, & Harvard) dengan tiga universitas besar di indonesia (UI, ITB, UGM).

berdasarkan data yang diperoleh oleh Drone Emprit, salah satu lembaga yang bergerak di bidang analisis media, dari perbandingan tagar dan topik percakapan di antara tiga universitas tersebut terdapat perbedaan yang sangat mencolok.

Jika topik-topik percakapan universitas di amerika serikat lebih banyak didominasi oleh isu-isu sains dan teknologi mutakhir seperti Teknologi kesehatan, artificial intellegence, dan climate change. Di Universitas-universitas di indonesia situasinya berbanding 180 derajat. bukan isu-isu sains dan teknologi mutakhir yang menjadi topik yang menjadi paling banyak diperbincangakan, namun isu-isu berupa sosial politik dan keagamaan.

Dalam data yang sama, disampaikan juga sebuah fakta menarik juga soal sinergitas antara sivitas akademika kampus, pemerintah, dan industri swasta. Meskipun kedua universitas di indonesia memiliki pola relasi dan jejaring yang luas dan kuat antara ketiga stakeholder tersebut, akan tetapi di indonesia ada kecendrungan bahwa pola relasi ini juga dipengaruhi oleh sentimen kelompok politik yang saling tarik-menarik dengan kuat.

Data-data yang dikumpulkan oleh Drone Emprit ini kemudian menggambarkan beberapa problem yang cukup serius dalam dunia kampus di indonesia saat ini.

Pertama, besarnya pengaruh sentimen politik dalam kampus membuat terjadinya dikotomi antara kubu yang pro dan yang kontra dengan pemerintahan membuat terjadinya pembelahan yang bukan hanya terjadi di dalam sivitas akademika yang aktif di kampus, tetapi juga menyasar hingga ke tingkat jejaring alumni dari kampus masing-masing. Ada kepentingan untuk mengkooptasi kampus sebagai salah satu legitimasi untuk menguatkan salah satu pihak yang berkepentingan.

Kedua, fenomena ini menyebabkan terjadinya pergeseran fokus di dalam dunia kampus. Perguruan tinggi yang memiliki tiga tujuan utama yang tertuang dalam Tri Dharma perguruan tinggi (pendidikan,penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat) teralihkan dan tertutupi dengan dijadikannya kampus sebagai arena untuk berebut pengaruh dan pertarungan politik secara praktis.

Aspek-aspek pengembangan keilmuan justru mengalami stagnasi namun di sisi lain aspek politik praktis di kampus semakin menguat. Dalam pemilihan rektor, guru besar, atau pengurus organisasi mahasiswa misalnya, kita disibukkan dengan melihat latar belakang politik calon, bukan melihat kualitas kelimuan dan visi dari calon masing-masing. Perbedaan pandangan politik dan keagamaan justru dijadikan alat untuk saling jegal dalam memperebutkan jabatan di kampus. Dan sebaliknya, sebagai alat untuk melanggengkan jalan menuju kekuasan atau jabatan tertentu di dalam kampus.

Ketiga, secara wacana keilmuan kontemporer, kampus-kampus di indonesia tertinggal jauh dengan kampus-kampus di luar negeri. Di saat mereka sedang membicarakan wacana pengembanan sains dan teknologi terkini, kampus di indonesia justru masih disibukkan dan berkutat dengan isu-isu seputar ideologi bangsa (pancasila), radikalisme, dan agama yang tidak kunjung usai.

Kampus sibuk mengatur melarang pandangan politik tertentu, organisasi mana saja yang boleh ada, hingga mengurusi hal-hal remeh seperti tata busana dan perilaku dari sivitas akademikanya. Bahkan di kalangan dosen dan mahasiswa sendiri, topik-topik politik dan keagamaan jauh lebih diminati dan sering dibahas di acara-acara seminar dan diskusi kampus dibandingkan dengan topik-topik yang berkaitan dengan disiplin ilmunya masing-masing.

Apa yang terjadi di kampus-kampus kita saat ini bisa dibilang merupakan sebuah kemunduran. Disaat kampus di luar negeri sudah beranjak untuk fokus meningkatkan kuantitas dan kualitas riset untuk memnyelesaikan permasalahan kontemporer, kita di sisi lain masih terjebak kepada perdebatan siapa yang paling pancasilais, tidak radikal, atau golongan kadrun dan buzzer. Namun, ini bukan berarti bahwa kampus sama sekali harus bersikap acuh terhadap dinamika sosial, politik, dan keagamaan yang terjadi di indonesia. Isu-isu tersebut juga penting, tetapi semestinya bukan menjadi bagian utama yang mendominasi percakapan dan aktivitas kampus setiap hari.

Berpolitik dalam kampus itu tetap boleh dan tidak dilarang sama sekali, akan tetapi politik kampus bergerak dalam tataran yang sifatnya konsep dan ide, bukan dalam ranah yang sangat pragmatis seperti kepentingan untuk memperebutkan kekuasaan dan jabatan. Kampus sebagai pusat pengembangan kelimuan semestinya bebas dari kepentingan politik praktis apapun dan mampu bersikap independen terhadapa siapa saja, baik kepada pihak internal (alumni) maupun eksternal (pemerintah & swasta).

Sivitas akademika, semestinya berfokus kepada peningkatan kapasitas keilmuan dan dampak riset yang dihasilkan olehnya. Begitu seseorang berada di dalam lingkungan kampus hanya ada satu tujuan dan kepentingan, yaitu menegakkan dan melaksanakan Tri Dharma perguruan tinggi dengan sebenar-benarnya. Itulah tujuan utama yang menyatukan seluruh insan kampus, terlepas dari apapun afiliasi dan pandangan politik keagamaannya.

Bilamana kampus tidak mampu untuk mempertahankan independensi dan objektivitasnya dalam memandang persoalan yang terjadi di dalam negeri dan disibukkan dengan perdebatan yang remeh dan tidak substansial semacam itu, maka kepada siapa lagi kita akan berharap untuk mendapat petunjuk dan inovasi dalam mengatasi persoalan-persoalan di masa depan yang kian kompleks?

Kembalikanlah posisi kampus sebagai center of excellence dalam mengembangkan kelimuan dan riset inovatif bagi para sivitas akademikanya. Bukan sebagai gelanggang untuk saling berdebat, menjatuhkan, dan ribut-ribut yang tidak produktif yang hanya membuat ribut dan perpecahan di internal kampus dan kalangan masyarakat.

Bila potret kampus-kampus yang katanya top dan menjadi acuan di indonesia saja masih gagal dalam melaksanakan tujuan tersebut, maka bagaimana kondisi kampus-kampus lainnya di indonesia dan di mata warga dunia?

Rahmat Tri Prawira Agara
Mahasiswa Biasa di Kampus yang Biasa-biasa Saja. Bisa dihubungi melalui Instagram : @rahmat3prawira atau line : @rahmat3prawira
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

Barter Fatwa, Bolehkah?

Saya tersentak atas pemberitaan media yang mensinyalemen adanya barter fatwa. Barter fatwa yang dimaksud adalah menukar fatwa halal dengan jabatan komisaris sebuah BUMN. Majalah Tempo...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.